
Abela pergi ke kafe, tidak lama kemudian datanglah Nando.
“Hai.” Kata Nando.
“Sudah selesai? Oh iya setelah ini aku ijin pulang lebih awal ya pak.” Kata Abela.
“Ada apa memangnya?” Tanya Nando.
“Aku sedang banyak pikiran.” Kata Abela.
“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.” Kata Nando.
“Tidak perlu, aku bisa naik taksi.” Kata Abela.
“Tidak apa-apa, ayo kita pergi sekarang.” Kata Nando.
Nando dan Abela pergi ke tempat parkir, tiba-tiba Abela melihat suaminya datang ke tempat berkuda tersebut. Abela pun segera menghampiri suaminya.
“Mas, sedang apa kamu disini?” Tanya Abela.
“Aku Aku tentu saja sedang berlatih berkuda disini, sayang sedang apa disini dan kamu datang kesini dengan siapa?” Tanya Adriano berusaha tenang dan tidak panik.
“Aku datang dengan.” Kata Abela sambil menoleh ke arah belakang tapi ternyata Nando tidak ada.
“Loh dimana pak Nando? Kemana perginya pak Nando?” Tanya Abela dalam hati.
“Kamu kesini dengan siapa sayang?” Tanya Adriano.
“Aku datang kesini sendiri.” Kata Abela.
“Ayo kita pergi ke kafe dulu.” Ajak Adriano.
Setibanya di kafe.
“Jadi kamu jadi pelanggan tetap di pacuan kuda disini? Bukankah kamu bilang sekarang sering berlatih di X horse ya? Kenapa kamu tidak memberitahuku jika berlatih disini?” Tanya Abela.
“Aku baru saja pindah kesini sayang dan aku ingin mengatakannya kepadamu. Justru yang jadi pertanyaan kenapa kamu bisa ada disini dan tadi kamu kesini naik apa?” Tanya Adriano.
“Baru saja ya? Lalu kenapa foto kamu bisa terpampang didalam? Mereka bilang kamu sering datang kemari.” Kata Abela.
“Oh foto itu ya? Foto itu diambil di X horse sayang. Pelatih yang kamu temui sepertinya pernah menjadi pelatih di X horse makanya tidak asing denganku. Kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku. Jangan curiga kepadaku, aku mana mungkin berbohong kepadamu.” Kata Adriano.
__ADS_1
“Aku datang kemari karena teman-temanku ingin berlatih berkuda bersama, lalu aku kepikiran tempat ini dan datang kesini untuk bertanya-tanya.” Kata Abela.
“Kamu datang kesini naik apa? Aku tidak melihat mobilmu di tempat parkir.” Kata Adriano.
“Tentu saja mobilku di kantor, karena tadi aku diantar oleh supir kantor.” Kata Abela.
“Baiklah, kalau begitu kita kembali saja yuk, aku akan mengantarmu ke kantor.” Kata Adriano.
“Kamu tidak jadi berlatih?” Tanya Abela.
“Tidak, lain kali saja. Kamu jauh lebih prioritas bagiku.” Kata Adriano yang membuat Abela kembali tersenyum kembali.
“Terima kasih sudah menjelaskan semuanya kepadaku tapi lain kali kamu harus mengatakannya kepadaku agar aku tidak curiga denganmu.” Kata Abela.
“Tentu saja sayang.” Kata Adriano.
Adriano mengantar istrinya ke kantor. Setibanya di kantor istrinya.
“Terima kasih sudah mengantarku sayang, aku masuk dulu ya. Kamu langsung pulang kan?” Tanya Abela.
“Iya, sampai jumpa dirumah sayang.” Kata Adriano sambil mencium kening istrinya.
“Kenapa bapak meninggalkanku?” Tanya Abela.
“Aku tidak ingin ikut campur dengan urusan keluargamu, aku juga tidak ingin suamimu salah paham denganku.” Kata Nando.
“Tapi seharusnya bapak tidak meninggalkanku begitu saja.” Kata Abela.
“Maaf.” Kata Nando lalu pergi meninggalkan Abela dan menuju ke baseman untuk mengambil mobilnya. Ternyata Abela mengikutinya dari belakang karena dia juga ingin mengambil mobilnya.
“Jangan mengikutiku.” Kata Nando.
“Terima kasih banyak pak.” Kata Abela sambil menunduk. Lalu Nando menghampiri Abela.
“Terima kasih untuk apa?” Tanya Nando.
“Karena bapak mengajakku kesana.” Kata Abela.
“Sama-sama, pulanglah. Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja.” Kata Nando.
“Aku memang sedang tidak baik-baik saja.” Kata Abela.
__ADS_1
“Masuklah kedalam mobilku agar mereka tidak tau bahwa kamu sedang bersedih.” Kata Nando.
Didalam mobil Nando, Abela terlihat sangat murung dan terdiam. Tidak alam kemudian Nando masuk kedalam mobil sambil membawa minuman.
“Minumlah dulu agar kamu sedikit lebih tenang.” Kata Nando. Abela pun meminum minuman tersebut.
“Terima kasih.” Kata Abela.
“Aku tidak akan bertanya, tapi aku akan menunggumu bercerita karena aku siap mendengar ceritamu jika memang ingin bercerita.” Kata Nando.
“Suamiku menemui wanita lain di tempat berkuda tadi.” Kata Abela.
“Kamu yakin? Memangnya kamu melihatnya secara langsung? Jangan langsung menyimpulkan sesuatu jika tidak melihatnya secara langsung.” Kata Nando.
“Sebelum aku bertemu dengan suamiku di tempat parkir, aku melihatnya dia bersama dengan seorang wanita di kafe tadi. Bahkan suamiku memeluk wanita itu. Namun aku berpura-pura tidak melihatnya lalu setelah itu barulah aku bertemu dengan suamiku di tempat parkir.” Kata Abela.
“Apakah kamu melihatnya sendiri? Apakah kamu sudah melihat wanita itu secara langsung?” Tanya Nando.
“Aku hanya melihatnya dari belakang saja.” Kata Abela.
“Sebaiknya lihatlah wanita itu secara langsung.” Kata Nando.
“Aku tidak sanggup.” Kata Abela.
“Aku bisa membantumu.” Kata Nando.
“Kenapa bapak ingin membantuku?” Tanya Abela.
“Karena dengan kesedihanmu akan membuat pekerjaanmu jadi terhambat dan tentu saja akan mengganggu perusahaan kita dan bisa-bisa kita kehilangan pendengar setia kita. Aku sangat membenci akan hal itu.” Kata Nando.
“Benarkah hanya itu alasannya?” Tanya Abela.
“Kamu kira aku membantumu karena aku menyukaimu? Jangan berlebihan dan berharap lebih padaku, mana mungkin aku menyukaimu bahkan kamu bukanlah tipeku.” Kata Nando.
“Dasar menyebalkan.” Gerutu Abela.
“Sepertinya kamu sudah lebih baik, sekarang keluarlah dan pulanglah dengan mobilmu.” Kata Nando.
“Dasar menyebalkan, sekali menyebalkan tetap saja menyebalkan sampai kapanpun.” Gerutu Abela.
Kemudian Abela kembali pulang ke rumah, namun Nando mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan Abela untuk memastikan Abela sampai dirumah dengan selamat.
__ADS_1