Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Bagian 92


__ADS_3

Setibanya di Bali.


Nando dan Abela segera menuju ke hotel. Nando yang menggenggam tangan Abela seakan takut kehilangan kekasihnya bahkan didalam didalam mobil pun, tangan Nando masih saja menggenggam tangan Abela.


“Fokuslah menyetir sayang, lepaskan tanganku.” Kata Abela.


“Tidak mau, kamu memberikan energi untukku.” Kata Nando.


“Astaga, kamu berlebihan sekali deh.” Kata Abela sambil menatap mesra Nando.


“Kamu tau tidak ternyata di hotel Sunrise itu terdapat kamar vvip dengan toilet dinding kaca. Bagaimana ya rasanya menginap di kamar tersebut, apa tidak canggung ya? Aku heran saja dengan orang-orang yang menginap dikamar seperti itu, ya meskipun sudah suami istri tetap saja canggung. Bayangkan saja toiletnya tidak ada tirai, bahkan jika salah satu mandi maka akan terlihat semuanya dengan jelas. Hmmmm meresahkan saja, pasti orang-orang yang menginap dikamar seperti itu pada m*s*m.” Kata Nando.


“Apa? Aduh bagaimana ini? Pasti Nando akan menganggapku berpikiran seperti itu, aduh gawat ini.” Kata Abela dalam hati.


“Bukankah hotel dengan kamar seperti itu sudah biasa ya, bahkan dimana-mana juga ada.” Kata Abela tersipu malu.


“Iya, tapi apa mereka tidak malu ya? Meskipun nanti kita nanti sudah menikah, aku tidak akan mau menginap di kamar hotel seperti itu.” Kata Nando.


“Untuk apa merasa malu jika sudah menjadi sepasang suami istri, lagipula pasti pihak hotel akan menjaga privasi mereka kan. Tidak semua orang yang menginap di hotel seperti itu berarti pikirannya kotor seperti yang kamu maksud sayang.” Kata Abela.


“Ya bayangkan saja ketika yang laki-laki atau perempuannya sedang mandi, lalu salah satunya mengamatinya dari atas kasur, apa tidak canggung. Ah semakin meresahkan saja, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menginap di kamar seperrti itu. Oh iya kamu memesan kamar berapa?” Tanya Nando.


“Aduh bagaimana ini, aku harus menjawab apa?” Tanya Abela dalam hati.


“Hei kenapa diam saja? Kamu memesan berapa kamar? Pesan dua kamar kan? Kalau pesan satu kamar juga tidak apa-apa kok, aku akan meminta tambahan bed nantinya.” Kata Nando.


“Sayang aku mau mengirim pesan ke ibuku dulu ya.” Kata Abela mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Ok baiklah, kita langsung ke hotel kan? Atau kita mau ke studio foto dulu?” Tanya Nando.


“Lebih baik aku ke studio foto dulu saja.” Kata Abela dalam hati.


“Ke studio foto dulu saja.” Kata Abela.


“Tapi barang bawaan kita sangat banyak, kita ke hotel saja dulu. Barang bawaan kamu sangat banyak sayang.” Kata Nando.


“Ah i i ya.” Kata Abela.


“Aduh bagaimana ini? Aku tidak mau Nando menganggapku berpikiran seperti yang ia katakan tadi. Ah lebih baik aku mengulurnya saja.” Kata Abela dalam hati.


“Sayang, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?” Tanya Abela.


“Kita bisa memesan makanan di hotel sayang, makanan disana sangat enak loh dan kamu harus mencobanya.” Kata Nando.


“Makanan di daerah sini biasa saja loh, aku tidak yakin seperti apa rasanya.” Kata Nando.


“Tidak masalah, ayo cepat kita makan dulu.” Kata Abela.


“Kamu kan pemilih makanan, aku yakin kamu tidak akan menyukainya. Lagipula sebentar lagi akan sampai, tunggu sebentar ya.” Kata Nando.


“Aduh gawat bagaimana ini, rasanya aku ingin menghilang dalam sekejap.” Kata Abela dalam hati.


“Baiklah kalau begitu.” Kata Abela.


Setibanya di lobby hotel. Nando segera menurunkan semua koper dan bawaan mereka, sedangkan Abela masih gelisah.

__ADS_1


“Ayo sayang kita masuk, kamu pesan atas nama siapa?” Tanya Nando.


“Atas nama aku sendiri, aku ke toilet dulu ya.” Kata Abela.


“Baiklah, aku mau ke resepsionis dulu kalau begitu.” Kata Nando.


“Jangan sayang, tunggu aku dulu ya. Aku sebentar kok, nanti kita ke resepsionisnya bersama-sama saja.” Kata Abela.


“Baiklah, aku akan menunggumu.” Kata Nando sambil mencium kening Abela. Kemudian Abela segera berlari ke toilet lalu menelfon customer hotel untuk membatalkan kamar yang telah dia pesan sebelumnya.


“Baiklah, lebih baik aku batalkan saja kamarnya. Aku melakukan ini demi harga diriku.” Kata Abela. Kemudian dia barulah menelfon customer service.


“Halo, saya dengan Abela yang memesan kamar di hotel ini, nomor pemesanan saya adalah XR12345. Saya ingin membatalkan pesanan saya.” Kata Abela terburu-buru.


“Baik bu, tapi jika ingin membatalkan pesanan maka uang tidak bisa kembali.” Kata CS.


“Apa? Tidak kembali sedikitpun?” Tanya Abela.


“Mohon maaf sebelumnya, pesanan yang dibatalkan beberapa menit sebelum check in maka uang tidak bisa dikembalikan bu.” Kata Nando.


“Aduh bagaimana ini, hotelnya kan sangat mahal. Aku tidak tega jika membuang-buang uang milik Nando tapi aku juga ingin menyelamatkan harga diriku. Baiklah aku tidak peduli berapapun uangnya, lagipula Nando kan punya banyak uang jadi tidak masalah, yang penting aku telah menyelamatkan harga diriku.” Kata Abela dalam hati.


“Baiklah tidak masalah, tolong dibatalkan ya.” Kata Abela.


“Mohon maaf sebelumnya, tapi ibu telah melakukan check in satu menit yang lalu. Jadi pesanan tidak bisa dibatalkan.” Kata CS.


“Apa? Aduh gawat pasti Nando telah melakukan check in. Aku harus berlari menghampirinya dan menjelaskan semuanya padanya.” Kata Abela dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2