
Beberapa hari kemudian.
Tiara menjemput Kevia di tempat les nya, ternyata dia tidak ada dan dia tidak mengikuti les. Tentu saja Tiara bingung karena tidak tau keberadaan anaknya, dia menelfon anaknya namun tidak ada jawaban, tidak lama kemudian dia mendapat pesan dari nomor yang tidak dia kenal, ternyata dia mengirimkan foto Kevia sedang tidur dirumah seseorang, dan seseorang tersebut adalah Nadia. Seketika itu Tiara segera bergegas menuju ke rumah Nadia.
Setibanya dirumah Nadia.
“Nadia Nadia cepat buka pintu.” Teriak Tiara.
“Selamat datang, silahkan masuk.” Kata Nadia.
“Dimana Kevia?” Tanya Tiara.
“Ada didalam, masuklah dulu, didalam juga ada Fardan.” Kata Nadia.
“Dimana Kevia? Aku akan membawanya pulang.” Kata Tiara.
Tiara segera masuk kedalam dan ternyata Kevia tertidur di atas sofa. Tiara pun langsung membangunkan Kevia dan mengajaknya pulang.
“Kevia cepat bangun, Kevia.” Kata Tiara.
__ADS_1
“Hoammmmm mama? Kenapa mama bisa ada disini?” Tanya Kevia.
“Harusnya mama yang bicara seperti itu, ayo cepat bangun.” Kata Tiara.
“Sabar dong ma, aku mau mengambil tasku.” Kata Kevia.
“Ini tas milikmu.” Kata Fardan memberikan tas kepada Kevia.
“Terima kasih om, terima kasih bu Nadia.” Kata Kevia.
“Cepat ikut mama, mama membelikanmu handphone kenapa kamu tidak memberitahu mama kalau kamu bolos les kamu hah? Kenapa kamu kabur dari sekolah dan bolos les? Apakah mama mengajarimu seperti itu hah?” Bentak Tiara.
“Jangan memarahinya, kasihan dia.” Kata Nadia.
“Tetap saja kamu tidak boleh memarahinya.” Kata Nadia.
“Tau apa kamu tentang mendidik seorang anak, kamu memang guru BK tapi kamu belum pernah kan mendidik seorang anak seusia Kevia.” Kata Tiara.
“Apa kamu bilang? Harusnya aku yang bilang kepadamu bagaimana caramu mendidik seorang anak sehingga Kevia menjadi seperti ini? Apa kamu tau kenapa aku bisa membawa Kevia kerumahku? Dia hampir saja masuk ke clubing, lalu aku melihatnya dan membawanya pulang ke rumahku. Harusnya aku mempertanyakan caramu sebagai ibu dalam menjaga anakmu.” Kata Nadia.
__ADS_1
“Cukup cukup, lebih baik kalian berdua pulang dulu saja ya.” Kata Fardan.
Akhirnya Tiara membawa Kevia pulang.
Didalam perjalanan, Kevia terdiam tanpa berkata sepatah katapun.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dibilang sama bu Nadia itu tidak benar kan?” Tanya Tiara.
“Kalau aku bilang semua perkataan bu Nadia itu benar, apakah mama akan percaya?” Tanya Kevia.
“Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa kamu menjadi sulit diatur? Sebenarnya siapa sih panutanmu sampai kamu selalu melakukan hal yang tidak mama dan papa inginkan?” Tanya Tiara.
“Aku benci dengan keluargaku termasuk orang tuaku sendiri yang selalu membatasi apapun yang aku lakukan. Apakah selama ini mama peduli dengan apa yang aku inginkan, seperti apa perasaanku saat ini hah? Tidak kan? Papa sibuk bekerja dan mama selalu menghabiskan waktu di ruang kerja hanya untuk melukis melukis dan melukis, pantas saja Brendan sangat betah tinggal dirumah nenek.” Kata Kevia.
“Selama ini mama dan papa selalu mencukupi kebutuhanmu.” Kata Tiara.
“Apakah mama mencintai anak-anak mama? Apakah mama mencintai papa? Apakah mama mencintai keluarga mama dan papa?” Tanya Kevia.
“Kamu bicara apa sih? Tentu saja mama mencintai kalian, bagi mama kalian adalah segalanya.” Kata Tiara.
__ADS_1
“Lalu kenapa mama harus menjadi seseorang yang sangat aku benci.” Kata Kevia lalu dia turun dari mobil karena sudah sampai rumah.
“Apa maksud kamu? Kevia Kevia Kevia tunggu mama.” Teriak Tiara.