
Abela tiba di kantor.
Dia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Dia segera melakukan siaran sesuai dengan jadwalnya. Namun Stella dan Arum menghampirinya dan bertanya-tanya tentang Abela dan juga bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing.
“Mbak aku sangat merindukanmu, bagaimana jika nanti siang kita makan bersama lalu sepulang kerja kita pergi bersama.” Kata Stella.
“Aku tidak bisa karena aku harus menemani anakku.” Kata Abela.
“Lagipula kan ada suamimu, biar anakmu ditemani oleh suamimu.” Kata Stella.
“Iya benar, kita sudah lama tidak pergi bersama, apalagi kemarin aku sangat sibuk dengan masalahku.” Kata Arum.
“Oh iya gimana dengan anak-anak bu Arum? Bagaimana pendapat mereka dengan keputusan bu Arum untuk berpisah dengan suami ibu?” Tanya Stella.
“Anak-anakku sangat kecewa dengan keputusanku tapi aku lebih kasihan dengan Putri, dia benar-benar sangat kecewa dan marah dengan ayahnya. Apalagi Putri pernah melihat ayahnya dengan wanita itu pergi bersama, bahkan Putri mengatakan kepadaku bahwa dia tidak akan pernah mencintai laki-laki. Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan, dan Putri dipatahkan hatinya oleh cinta pertamanya yaitu ayahnya sendiri. Dia bahkan tidak menganggap ayahnya lagi.” Kata Arum.
“Bagaimana jika nanti Darel seperti itu? Aku tidak ingin Darel membenci orang tuanya.” Kata Abela dalam hati.
“Laki-laki memang selalu merasa tidak puas dengan istrinya, padahal bu Arum sangat pandai mengurus rumah dan keluarga bahkan bu Arum sangat pandai menghasilkan uang, wanita karir seperti bu Arum saja dicampakkan oleh laki-laki. Kurang apa sih bu Arum, aku jadi kesal dengan mantan suami bu Arum.” Kata Stella.
“Semoga apa yang aku alami hanya terjadi kepadaku ya, jangan sampai kalian mengalami hal yang sama sepertiku. Apalagi Abela yang memiliki sempurna seperti Adriano, harusnya bersyukur memiliki istri seperti Abela yang sangat cantik, pandai mengurus rumah dan wanita karir pula. Pantas saja banyak yang iri melihatmu.” Kata Arum.
“Hubunganmu dengan suamimu baik-baik saja kan mbak?” Tanya Stella.
“Aku harus segera bersiap-siap untuk siaran.” Kata Abela.
“Sepertinya ada yang aneh ya bu dengan mbak Abela.” Bisik Stella kepada Arum.
“Aku juga berpikir seperti itu.” Bisik Arum.
**
__ADS_1
Jam istirahat.
Abela menerima panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. Kemudian dia menerima panggilan tersebut.
“Hallo, ini siapa?” Tanya Abela.
“Ini aku Ariana, bisakah kita bertemu? Kebetulan aku didepan tempat kerjamu.” Kata Ariana.
“Ada apa kamu ingin menemuiku? Aku tidak ada urusan denganmu.” Kata Abela.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku akan menunggumu di kafe depan kantormu.” Kata Ariana.
“Dasar wanita tidak tau diri, berani sekali dia menemuiku.” Kata Abela.
Lalu Abela pergi menuju kafe depan kantornya. Namun tiba-tiba Nando mencegahnya untuk pergi.
“Abela.” Panggil Nando sambil menarik tangan Abela.
“Pak Nando?” Kata Abela.
“Aku mau bertemu dengan seseorang, permisi pak.” Kata Abela.
“Apakah kamu sudah makan siang?” Tanya Nando.
“Aku akan makan siang setelah ini.” Kata Abela.
“Makanlah denganku, aku ingin mentraktirmu.” Kata Nando.
“Maaf pak, aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara kita berdua jika kita sering berdua.” Kata Abela.
“Siapa yang salah paham? Suamimu? Kamu masih membela dia setelah dia mempermalukanmu saat itu?” Tanya Nando.
“Aku yang akan memutuskan apakah aku akan membela dia atau tidak, lagipula aku masih istri sah nya dia jadi sebaiknya aku tidak menemuinya.” Kata Abela lalu dia pergi meninggalkan Nando dan menemui Ariana di kafe.
Setibanya di kafe.
__ADS_1
“Berani juga kamu menemuiku.” Kata Abela.
“Aku sudah memesan makanan untuk kita berdua, kita makan dulu setelah itu barulah kita bicara.” Kata Ariana.
“Apa kamu bilang? Kita? Aku tidak cukup denganmu jadi tidak bisa disebut kita. Aku bahkan tidak makan dengan orang rendahan sepertimu. Ada apa?” Tanya Abela.
“Aku mencintai mas Adriano dan aku tidak bisa melepaskannya. Jika memang kalian berdua tidak jadi berpisah, aku bisa mengalah tapi aku akan menemuinya. Kamu tidak bisa egois hanya karena kalian berdua terikat oleh anak kalian. Apakah kamu melarang seseorang untuk mencintai seseorang? Kamu tidak memiliki hak.” Kata Ariana.
“Jadi kamu sangat menyukai suamiku? Aku selama ini menahan sikapku untuk tidak berkelahi denganmu tapi nyatanya kamu memiliki nyali yang cukup tinggi untuk menemuiku. Aku penasaran wanita selingkuhan suamiku seperti apa sifatnya dan kelebihannya sehingga suamiku terjatuh dalam rayuanmu dan kalian saling mencintai. Wanita ****** seperti apa yang membuat suamiku meninggalkan istri dan anaknya. Apa kekuranganmu? Aku tanya apa kurangnya dirimu?” Tanya Abela.
“Maafkan aku, aku mencintainya.” Kata Ariana sambil menunduk karena merasa malu.
“Apakah kamu harus melakukan hal sampai sejauh ini? Kamu tidak memikirkan keluarganya? Terutama anaknya?” Tanya Abela.
“Maafkan aku, aku tidak bisa melepaskannya. Kita saling menyukai satu sama lain.” Kata Ariana.
“Kalian bilang saling menyukai? Tapi kamu menyukai orang yang salah. Bahkan anaknya masih berumur 8 tahun dan dia membutuhkan sosok ayahnya. Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana nasib anak dari laki-laki yang kamu cintai itu? Bagaimana jika anak itu adalah anakmu?” Tanya Abela.
“Anakku tinggal dengan ayahnya dan kami lama tidak saling bertemu.” Kata Ariana.
“Tentu saja, pasti anakmu tidak ingin bertemu dengan ibu sepertimu. Apakah kamu tidak memikirkan luka dan sakit hatiku karena kalian? Aku bahkan sampai tidak bisa bicara karena syok melihat kelakuanmu dengan suamiku. Lalu apa kata orang tuamu? Apakah mereka bangga denganmu karena anaknya telah menemukan laki-laki baik seperti Adriano? Laki-laki yang tega meninggalkan dan mengkhianati istri dan anaknya bahkan keluarganya. Apakah orang tuamu bangga melihat anaknya berhasil menghancurkan keluarga orang lain? Jawab aku.” Tanya Abela sangat kesal bahkan meneteskan air matanya.
“Maafkan aku, kamu juga tidak boleh egois, apakah kamu tidak memikirkan aku dan posisiku seperti apa. Aku baru saja menemukan kebahagiaan dengannya, bisakah kamu merelakan dia untukku?” Tanya Ariana lirih.
“Apakah kalian saling mengenal sebelumnya?” Tanya Abela.
“Tidak, kami tidak saling kenal namun cinta kami berdua tulus.” Kata Ariana.
“Bahkan tanpa kamu memintaku, aku juga akan tetap memilih untuk berpisah dengannya. Asal kamu tau ya, sebelum kamu muncul keluargaku sangatlah harmonis dan penuh kasih sayang. Tapi aku tidak akan pernah menyalahkan diriku. Aku terlahir cantik, aku bisa hidup mandiri meskipun tanpa dia karena aku wanita karir yang bisa menghasilkan uang untukku dan anakku, aku bisa mengurus rumah tangga dengan baik jadi aku tidak akan bertanya apa kurangnya diriku karena yang salah memang ayahnya Darel yang tidak bersyukur memiliki aku. Aku kasihan dengan anakku karena memiliki ayah seperti dia. Ingat satu hal dariku, aku tidak peduli kalian mau hidup bersama dan menikah juga aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu, tapi aku tidak akan membiarkan anakku menegtahuinya karena aku tidak ingin anakku mengalami rasa sakut yang mendalam akibat ulah ayahnya. Mungkin kamu memang tidak mengerti etika ya. Bukankah pernikahan itu untuk dua orang yang berstatus lajang, dan tugas seorang ayah adalah mengurus keluarga dan anaknya serta menyayanginya dengan sepenuh hati. Kamu menyukai ayah Darel yang mengabaikan hal itu? Kamu mencintai orang seperti itu? Aku berharap tidak ada kebahagiaan untuk kalian berdua dan semoga Tuhan mengabulkannya. Jawab aku jika kamu memiliki rasa bersalah.” Kata Abela dengan penuh rasa kesal dan tidak bisa menahan emosi lagi.
“Jawab aku.” Bentak Abela.
“Aku mencintainya dan kamu tidak berhak melarangku.” Kata Ariana sambil menunduk karena merasa bersalah namun dia tetap tidak bisa melepaskan Adriano.
“Apakah aku tidak salah dengar? Apakah kalian akan berencana menikah setelah aku berpisah dengannya? Kapan kalian akan menikah? Jangan lupa untuk mengundangku, aku akan menaburkan bunga untuk kalian berdua, dan berdoa semoga kebahagiaan tidak akan pernah datang kepada kalian berdua sampai kapanpun.” Kata Abela, dia benar-benar puas setelah berbicara panjang lebar kepada Ariana. Ariana yang kesal dengan ucapan Abela tiba-tiba berdiri dan menampar pipi Abela, beruntung Abela berhasil menghindarinya.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan tangan kotormu menyentuhku.” Kata Abela lalu menyiram segelas air ke wajah Ariana, dan setelah itu Abela pergi meninggalkan kafe tersebut sambil menangis. Kemudian Abela mengambil kacamata yang ada didalam tasnya dan memakainya agar tidak ada yang mengetahui bahwa dia sedang menangis karena hatinya yang terluka teramat dalam.