
Hubungan Adriano dan Marcelo
semakin dekat, hal ini dimanfaatkan oleh Anindya untuk menyingkirkan Marcelo.
Dia memulai menghasut Marcelo dan menuduh bahwa Marcelo telah melakukan
kesalahan besar di sekolahnya sehingga membuat Marcelo dikeluarkan dari
sekolah. Tentu saja hal ini membuat Marcelo semakin terpukul, Marcelo dituduh
melakukan pembulian dan penganiayaan terhadap siswi di sekolah Adriano, siswi
tersebut adalah teman dekat Adriano dan Marcelo yang juga pacar pertama
Adriano. Adriano sangat marah dan kecewa dengan Marcelo, dia berusaha
menjelaskan semuanya kepada Adriano namun Adriano terlanjur sangat marah
sehingga dia tidak mau melihat Marcelo kembali.
“Bukan aku pelakunya, aku tidak
melakukan hal itu kepada Amelina, aku sudah menganggap Amelina sebagai adikku
sendiri.” Kata Marcelo.
“Pergi dari sini, aku sangat muak
melihatmu.” Kata Adriano.
Akhirnya Anindya menggunakan
kesempatan ini untuk mengusir Marcelo dari rumahnya.
“Marcelo, jujur mama dan papa
sangat kecewa denganmu.” Kata Anindya.
“Kenapa kamu melakukan hal itu
pada Amelina?” Tanya Dani.
“Harus berapa kali aku
mengatakannya pa, aku bukan pelakunya.” Kata Marcelo.
__ADS_1
“Tapi semua bukti mengarah
kepadamu, usir saja dia dari sini pa, aku sangat malu. Asal kamu tau saja
gara-gara masalah kamu papa kamu hampir diturunkan dari posisi direktur.” Kata
Anindya.
“Pa jangan usir aku, aku mohon
pa. Marcelo tinggal dimana kalau bukan dirumah papa.” Kata Marcelo.
“Kamu kan sudah dewasa, papa bisa
memberimu uang lebih tapi jangan tinggal disini.” Kata Dani.
“Kenapa kamu tidak tinggal
bersama ibumu saja?” Tanya Anindya.
“Tidak, mama saja tidak pernah
mencariku apalagi menghubungiku. Sepertinya mama sudah melupakanku.” Kata
Marcelo.
juga haha, berhasil juga usahaku memisahkan mereka berdua.” Kata Anindya dalam
hati.
“Papa akan mengirimmu ke luar negeri
dan tinggalah bersama ibumu.” Kata Dani.
“Apakah papa sangat membenciku?
Aku juga anak kandung papa, anak adalah cerminan orang tua. Kalau aku seperti
ini berarti ini semua salah papa yang salah dalam mendidikku.” Kata Marcelo.
“Jaga mulut kamu, berani sekali
kamu bicara kasar kepada papa kandungmu. Dasar anak tidak tau diri.” Kata
Anindya.
__ADS_1
“Papa lelah denganmu, bersiaplah
untuk pergi ke Singapore dan tinggalah bersama ibumu.” Kata Dani.
**
Keesokan harinya, Anindya terbang
ke Singapore untuk menemui Aira. Setibanya disana, Anindya memberitahukan
semuanya tentang Marcelo.
“Anakmu membuat kesalahan besar
dan sangat memalukan.” Kata Anindya.
“Aku tidak peduli dengannya,
silahkan rawat dan besarkan dia. Aku sibuk untuk mengurus hidupku sendiri
disini.” Kata Aira sangat cuek.
“Dia anakmu, apakah aku tidak
salah dengar? Kamu tidak peduli dengan anakmu?” Tanya Anindya.
“Aku tidak ingin menjadi beban
untuk anakku, aku hanya akan hidup sendiri disini. Aku sudah melupakan semua
hal yang terjadi termasuk semua masa laluku. Aku ingin membuka lembaran hidup
baru dengan tinggal disini. Jadi sekarang pergilah, aku tidak ingin melihatmu.”
Kata Aira. Kemudian dia segera pergi meninggalkan Anindya, namun tiba-tiba dia
terjatuh pingsan. Anindya pun segera membawa Aira ke rumah sakit. Setibanya
disana, dokter mengatakan bahwa Aira mengidap penyakit kanker.
“Astaga, jadi dia sedang mengidap
penyakit kanker. Pantas saja dia tidak mau merawat Marcelo. Bagaimana ini, aku
juga tidak ingin merawat anak itu. Aku harus membujuk Aira agar dia mau merawat
__ADS_1
anaknya. Aku akan mengancamnya kalau perlu, kenapa masalah jadi semakin rumit
bikin pusing kepala saja.” Kata Anindya dalam hati.