
Dirumah Dani dan Anindya, Aira
tiba-tiba datang.
“Marcelo apa yang kamu lakukan?
Mama tidak pernah mengajarkanmu seperti itu?” Bentak Aira.
“Aira? Bukankah kamu sudah
meninggal?” Tanya Anindya.
“Apakah kamu berharap aku mati?”
Tanya Aira.
“Anakmu bilang bahwa kamu sudah
mati.” Kata Anindya.
“Mama kenapa datang kesini? Sudah
aku bilang jangan kembali kesini ma.” Kata Marcelo.
“Jangan menyakiti perasaan orang
lain nak dan jangan membalas keburukan dengan keburukan. Selama ini Anindya
banyak membantu mama. Dia yang mengobati perawatan mama, mama terkena penyakit
yang cukup parah dan dia mengirimkan uang untuk pengobatan mama. Kamu tidak
seharusnya memperlakukan dia seperti itu nak.” Kata Aira.
“Apa? Mama kena penyakit? Kenapa
mama tidak pernah menceritakan semua ini padaku.” Tanya Marcelo.
“Karena mama tidak ingin kamu
khawatir sayang, maafkan mama.” Kata Aira.
Marcelo pun lemas tak berdaya
sambil menangis dan menyesal.
“Dasar tidak tau diri.” Kata
Anindya sambil menampar pipi Marcelo.
“Cukup, jangan menampar anakku.
Tampar saja aku.” Kata Aira.
“Maafkan aku ma, seandainya mama
menceritakan ini semua pasti aku tidak akan melakukan semua ini.” Kata Marcelo.
“Bukankah mama selalu melarangmu
untuk kembali kesini tapi kamu tetap saja datang kesini.” Kata Aira sambil
__ADS_1
memeluk anaknya.
**
Beberapa bulan kemudian. Marcelo
menemui Adriano dirumahnya.
“Adriano dimana?” Tanya Marcelo.
“Didalam, ada apa?” Tanya Abella.
“Aku mau bertemu dengannya.” Kata
Marcelo.
“Masuklah, aku panggilkan dia
dulu.” Kata Abella.
“Baiklah, Darel dimana? Aku
sangat merindukannya dan ingin menggendongnya.” Kata Marcelo.
“Dia didalam kamar, tapi jangan
menemui dia. Aku masih takut denganmu.” Kata Abella.
“Astaga ternyata kamu masih takut
denganku ya. Aku sudah berubah kok.” Kata Marcelo.
berubah, apalagi wajahmu sangat mirip dengan suamiku. Apakah kamu puas dan
bangga melakukan operasi plastik agar mirip dengan suamiku?” Tanya Abella.
“Maafkan aku, ini semua salahku.”
Kata Marcelo.
“Enak banget ya tinggal minta
maaf saja. Lalu apakah kamu akan tetap tinggal disini? Kenapa kamu tidak balik
lagi saja ke Singapore bersama ibumu?” Tanya Abella.
“Aku dan ibuku memang ingin
tinggal di Singapore.” Kata Marcelo.
“Baguslah kalau begitu. Tapi aku
masih tidak suka denganmu karena melakukan operasi plastic agar mirip dengan
suamiku. Bagaimana kalau banyak yang mengira bahwa kamu adalah suamiku.” Kata
Abella.
“Lalu kamu ingin aku bagaimana?”
Tanya Marcelo.
__ADS_1
“Setidaknya jadilah dirimu
sendiri.” Kata Abella.
“Maksudmu aku harus merubah
wajahku agar berbeda dengan suamimu?” Tanya Marcelo.
“Tentu saja, aku masih kesal
denganmu.” Kata Abella.
“Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi
setelah itu kamu akan memaafkanku kan?” Tanya Marcelo.
“Baiklah. Oh iya kamu ada apa
menemui suamiku?” Tanya Abella.
“Memangnya tidak boleh? Aku dan
dia adalah kakak adik.” Kata Marcelo.
“Ada perlu apa memangnya?” Tanya
Abella.
“Hari ini aku mau kembali ke
Singapore. Setelah aku pikir lebih baik aku kembali saja kesana dan memulai
hidupku dari awal.” Kata Marcelo.
“Ah syukurlah si beban keluarga
pergi setelah ini.” Kata Abella dalam hati.
**
Marcelo mengajak Adriano pergi ke
bandara.
“Kenapa mengajakku ke tempat ini?
Aneh sekali kamu mengajakku ke hotel, ada apa sebenarnya? Bukankah kamu harus
segera pergi ke bandara?” Tanya Adriano.
“Penerbanganku masih nanti sore,
bagaimana kalau kita menunggu disini sambil meminum kopi?” Tanya Marcelo.
“Astaga, baiklah kalau begitu. Ayo
kita masuk.” Kata Adriano.
Saat Adriano turun dari mobil
tiba-tiba ada yang membungkam mulut Adriano sehingga Adriano pingsan.
__ADS_1