Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Bagian 57


__ADS_3

Keesokan harinya, Adriano datang ke rumah Abela dan kebetulan yang membukakan pintu adalah Abela.


“Ada apa?” Tanya Abela.


“Aku ingin bicara denganmu.” Kata Adriano.


“Jadi bagaimana? Kapan kita akan segera bercerai?” Tanya Abela.


“Ayo kita bicara di tempat lain saja.” Kata Adriano sambil menarik tangan Abela.


“Lepaskan tanganku.” Kata Abela.


“Maaf, aku tunggu di kafe depan.” Kata Adriano.


“Aku tidak bisa terlalu lama karena harus segar berangkat ke kantor.” Kata Abela.


“Lebih baik ijinlah, lagipula ini masalah yang cukup penting.” Kata Adriano.


“Tidak bisa semudah itu. Cepat pergilah dan tunggu di kafe saja.” Kata Abela.


“Aku ingin menemui Darel sebentar, aku sangat merindukannya.” Kata Adriano.


“Hanya rindu saja atau ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Abela.


“Tentu saja aku ingin bertemu dengannya karena merindukannya.” Kata Adriano.


“Padahal besok Darel ulang tahun.” Kata Abela dalam hati.


 


 


**


Abela tiba di kafe, dia segera menghampiri Adriano.

__ADS_1


“Ada apa? Aku tidak bisa terlalu lama.” Kata Abela.


“Duduklah dulu, kamu sudah sarapan belum?” Tanya Adriano.


“Tidak perlu basa basi, cepat katakan ada apa?” Tanya Abela.


“Beri aku waktu lagi.” Kata Adriano.


“Sampai kapan aku harus bersabar menunggumu? Lebih baik ceraikan aku saja.” Kata Abela.


“Tidak bisa semudah itu, banyak yang harus aku pikirkan.” Kata Adriano.


“Apa sih kelebihan dia sampai kamu begitu peduli dengannya dibandingkan istri dan anakmu?” Tanya Abela.


“Kali ini saja tolong beri aku kesempatan dan maafkan kesalahanku.” Kata Adriano.


“Kenapa? Kamu tidak mau berstatus sebagai duda? Kamu tidak ingin memiliki citra buruk di kantormu kan? Kita sudah bersama tidak hanya satu atau dua tahun tapi lebih dari itu mas. Wajar jika kamu merasa bosan denganku. Aku ingin kita berpisah.” Kata Abela.


“Apakah kamu tidak akan menyesali keputusanmu? Apakah kamu tidak memikirkan perasaan Darel?” Tanya Adriano.


“Bagaimana jika Darel nantinya mengalami hal seperti itu? Apakah kamu akan menyuruhnya bercerai dan meninggalkan istrinya?” Tanya Adriano.


“Jangan pernah menyamakan dirimu dengan Darel, dia jauh lebih dewasa dan mengerti mana yang baik untuknya dan keluarganya tidak sepertimu yang suka mengencani wanita lain.” Kata Abela.


“Aku hanya tak sengaja terjerumus.” Kata Adriano.


“Bicara memang sangat mudah untukmu. Sekali berbohong akan terus berbohong.” Kata Abela.


“Aku takkan berbohong lagi. Bahkan semua manusia pernah melakukan kesalahan, bahkan Tuhan memaafkan kesalahan mereka dan memberikan kesempatan kembali.” Kata Adriano.


“Jangan membenarkan dirimu, saat kau menemui wanita itu, saat kamu menemuinya, apa yang kamu rasakan? Kamu pasti senang kan? Jika kamu tidak menyukainya tidak mungkin kamu sering menemuinya kan. Kamu pasti merasakan pesona dan perasaan lain yang berbeda denganku kan?” Tanya Abela.


“Aku tak merasakan apapun. Memangnya kamu tidak pernah melakukan sebuah kesalahan?” Kata Adriano.


“Dasar pembohong dan selalu ingin benar dan menang sendiri, bahkan disaat seperti ini kamu berani menyalahkanku.” Kata Abela.

__ADS_1


“Dia hanya mengandalkanku dan bergantung padaku, tidak lebih. Aku merasa harus memperhatikannya dan membantunya. Kumohon maafkan suamimu kali ini, maafkan suamimu yang banyak kesalahan dan kekurangan ini.” Kata Adriano.


“Aku selalu menerima semua kekuranganmu tapi kamu justru mencari kelebihan yang dimiliki wanita itu dibanding denganku.” Kata Abela sambil menghela nafas panjang dan menangis sesenggukan.


“Dia lebih menganggapku seperti seorang ayah daripada seorang pria, dia tidak pernah merasakan rasanya memiliki seorang ayah dan ibu selama hidupnya.” Kata Adriano.


“Apa kamu bilang? Bukankah istrimu juga sama? Bukankah istrimu juga tidak pernah merasakan dan mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dan ibu? Aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Kamu sungguh tega mas, kamu selalu membenarkan dirimu sendiri, aku tidak bisa lagi hidup bersamamu.” Kata Abela.


“Hubunganku dan dia tidak seperti yang kamu bayangkan, aku akan meninggalkan dia tapi beri aku waktu.” Kata Adriano.


“Kenapa? Kenapa kamu selalu meminta waktu? Kamu pikir aku bisa sabar sampai kapan? Jawab aku kenapa kamu terus menyuruhku untuk memberimu waktu? Apa yang terjadi dengannya? Apakah dia sedang hamil anakmu?” Tanya Abela.


“Jaga ucapanmu.” Bentak Adriano yang membuat Abela ketakutan dan semakin menangis sesenggukan.


“Jadi kamu sekarang berani membentakku demi wanita itu? Keputusanku sudah bulat mas, aku ingin berpisah, aku tidak bisa lagi memaafkanmu. Meski aku berusaha berkali-kali untuk berubah pikiran, aku tidak bisa. Semua kebohongan, pengkhianatanmu, bagaimana bisa kumaafkan? Bagaimana bisa kulupakan? Seandainya ada obat yang bisa melupakan semua kenangan buruk, aku ingin memakannya dan melupakan semuanya. Kamu adalah suami yang berpenampilan serta berkepribadian sangat baik, bahkan semua orang di sekitarku iri dan memujiku karena memilikimu. Aku ingin terus hidup dicemburui oleh orang lain jika bisa. Apakah kamu pernah berpikir seperti itu saat berselingkuh dengan wanita itu? AKu berpikir bisa memaafkanmu dan berjuang bersama kembali seperti dulu tapi hatiku tidak bisa, hatiku teramat sakit dan sangat sakit saat membayangkanmu menemui wanita itu dan memeluk wanita itu seperti ketika kamu memelukku.” Kata Abela sambil menahan tangisannya dan mengelus dadanya yang teramat sakit akibat ulah suaminya.


“Mungkin kamu berpikir tidak akan sampai melewati batas dengan wanita itu, hatimu yang tidak mendengarkannya, kau hanyalah pria lemah yang tak bisa menahan godaan wanita, sedangkan aku adalah wanita yang memiliki pikiran sempit yang tidak bisa memaafkan kesalahan suaminya.” Kata Abela.


“Jadi kamu ingin berpisah karena ingin segera berkencan dengan laki-laki lain untuk mencari ayah baru untuk Darel? Apakah kamu akan berpacaran dengan si Nando brengsek itu?” Tanya Adriano.


“Haruskah kujawab pertanyaanmu? Aku tidak ada waktu lagi untuk bicara denganmu. Aku akan mengemasi semua barangmu dan mengirimkannya ke rumahmu. Aku akan menemui mama dan papa untuk menjelaskan semua ini.” Kata Abela, lalu dia pergi meninggalkan Adriano sambil menangis sesenggukan.


“Tunggu aku, kita belum selesai bicara.” Kata Adriano sambil menarik tangan Abela.


“Lepaskan aku, hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak bisa memperlakukanmu seperti dulu.” Kata Abela.


“Tak masalah, aku tidak mengharapkannya. Lebih baik bunuh aku daripada kita bercerai.” Kata Adriano.


“Memang benar bahwa kamu tidak ingin berstatus duda demi citra dan image mu di mata orang lain kan?” Kata Abela.


“Perasaan manusia seringkali berubah sewaktu-waktu, lalu bagaimana denganku saat kita pertama menikah dulu? Kamu bahkan mencintai laki-laki lain daripada suamimu sendiri.” Kata Adriano.


“Bahkan disaat seperti ini kamu masih saja menyalahkanku. Kita tidak ada hubungan lagi dan aku akan mengajukan gugatan perceraian kembali, aku tidak peduli kamu menyetujuinya atau tidak.” Kata Abela.


“Kalau begitu, mari kita bertiga bertemu. Aku, kamu dan Ariana. Kemarin dia menjawab pertanyaanmu tanpa berpikir karena kita datang tiba-tiba dan mendadak.” Kata Adriano.

__ADS_1


“Kalau aku merencanakan akan datang, apa yang akan kalian jawab? Tidak perlu bertemu kembali, aku bahkan sakit hati ketika melihat dia. Lepaskan aku, aku harus pergi.” Kata Abela, lalu dia berlari menuju mobilnya dan melanjutkan perjalanan.


__ADS_2