
Beberapa tahun kemudian.
Kini Brendan mulai memasuki sekolah TK, sedangkan Kevia kini beranjak remaja dan menginjak kelas 2 SMP.
“Pa hari ini aku diantar sama papa kan?” Tanya Kevia sambil menyantap sarapannya.
“Tentu saja sayang, Brendan cepat habiskan makananmu lalu kita berangkat.” Kata Daniel.
“Biar aku saja yang mengantar anak-anak ke sekolah mas.” Kata Tiara.
“Pa aku sudah selesai sarapan, ayo kita berangkat sekarang pa. Brendan cepat ambil tasmu.” Kata Kevia.
“Kevia bawa juga bekalmu sayang.” Kata Tiara.
“Aku tidak bawa bekal hari ini.” Kata Kevia.
“Loh kenapa sayang? Lalu nanti makan siangmu bagaimana? Bukankah nanti kamu ada jadwal untuk les musik ya?” Tanya Tiara.
“Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Kata Kevia yang kesal dengan ibunya.
“Kevia Kevia tunggu mama.” Panggil Tiara.
“Kevia dalam fase yang sangat sensitif sayang, beri saja dia sedikit waktu untuk mengurus dirinya sendiri ya.” Kata Daniel.
Setelah itu Daniel pergi mengantar kedua anaknya ke sekolah, sedangkan Tiara juga bersiap-siap untuk pergi ke galeri seni, kini dia menjadi salah satu pelukis yang cukup terkenal dan disegani banyak orang serta sangat dihormati.
__ADS_1
**
Kevia menelfon ibunya karena dia mendapat masalah di sekolahnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Tiara.
“Segera datang ke ruang BK.” Kata Kevia.
“Loh memangnya apa yang terjadi sayang?” Tanya Tiara.
“Datang saja sekarang atau aku akan meminta nenek untuk datang.” Kata Kevia.
“Baiklah mama akan segera datang kesana.” Kata Tiara.
“Aduhhhh maaf maaf maaf saya tidak sengaja.” Kata Tiara yang terjatuh karena tertabrak orang tersebut.
“Anda baik-baik saja?” Tanya orang tersebut.
“Aku tidak apa-apa. Kamu? Fardan? Kamu kemana saja selama ini hah?” Tanya Tiara.
“Tiara?” Tanya Fardan.
“Jadi kamu selama ini baik-baik saja? Kenapa kamu tidak mencariku selama ini?” Tanya Tiara.
“Banyak hal yang aku urus, aku sangat merindukanmu.” Kata Fardan langsung memeluk erat Tiara.
__ADS_1
“Lepaskan aku.” Kata Tiara.
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, dimana Brendan anakku? Dia sekarang kelas berapa? Pasti dia sudah sekolah kan?” Tanya Fardan.
“Lepaskan aku, hubungan kita tidak seperti dulu lagi. Aku dan kamu punya kehidupan masing-masing, Brendan bukanlah anakmu, dia anakku dengan suamiku.” Kata Tiara.
“Kamu yakin dia anak suamimu? Bukankah kamu saat itu lama tidak berhubungan dengan suamimu?” Tanya Fardan.
“Cukup sudah halusinasimu, jangan pernah menganggap bahwa Brendan adalah anakmu.” Kata Tiara lalu langsung pergi.
“Apakah kamu tidak penasaran siapa yang membuatku celaka saat itu?” Tanya Fardan.
“Yang paling penting bagiku saat ini adalah kamu masih hidup dan menjalani hidupmu dengan baik.” Kata Tiara.
“Kamu selalu menghindar dariku padahal sebenarnya kamu masih menyukaiku kan bahkan sangat mencintaiku melebihi rasa cintamu kepada suamimu.” Kata Fardan.
“Jangan terlalu percaya diri, aku yang dulu dan sekarang jelas berbeda, aku tidak mencintaimu lagi.” Kata Tiara.
“Lalu kenapa kamu masih saja mengirim surat kepadaku yang ditujukan ke apartemenku?” Tanya Fardan.
Tiara langsung pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Fardan.
Diperjalanan, Tiara menangis antara sedih atau bahagia karena akhirnya bertemu kembali dengan Fardan.
“Setelah sekian lama akhirnya aku bisa bertemu kembali dengannya, tapi aku tidak tau apakah harus sedih atau bahagia. Syukurlah dia masih hidup.” Kata Tiara dalam hati.
__ADS_1