
Adriano palsu menelfon Santi
diam-diam.
“Gimana? Kamu sudah berhasil
menyingkirkan si Ayu kan? Buang ke sungai agar jejaknya hilang, polisi pasti
akan menganggap bahwa dia dimakan buaya.” Kata Adriano palsu.
“Maaf pak, Ayu berhasil kabur.
Semalam ada yang datang membantu dan membawa Ayu kabur, bahkan dia bukan
sembarang orang pak, dia menembak kami juga pak tapi beruntung tidak mengenai
kami.” Kata Santi.
“Dasar bodoh, mengurus pembantu
saja tidak bisa, apalagi yang menyelamatkannya juga wanita. Dasar bodoh, sama
wanita saja kalah.” Kata Adriano palsu sangat kesal.
“Maafkan kami pak.” Kata Santi.
“Cari tau siapa dia, kamu ingat
plat nomor mobilnya kan?” Tanya Adriano palsu.
“Kami mengingatnya pak.” Kata Santi.
“Mobil milik siapa itu dan siapa
yang datang saat itu?” Tanya Adriano palsu.
“Itu mobil milik persewaan mobil
dan mereka tidak bisa mengatakan siapa penyewanya.” Kata Santi.
“Hal seperti itu saja kamu tidak
bisa? Dasar bodoh sekali, beri dia uang agar mau memberitahu siapa penyewanya.”
Kata Adriano palsu.
“Baik pak, lalu apakah saya harus
kembali sekarang?” Tanya Santi.
“Cepat kembali ke rumah dulu
sebelum istriku curiga. Suruh anak buahku yang mengurus masalah ini.” Kata
Adriano palsu.
“Baik pak.” Kata Santi.
Adriano palsu benar-benar sangat
marah saat itu.
“Mas bagaimana kapan Santi
datang?” Tanya Abella.
__ADS_1
“Eh dia masih di perjalanan
sayang.” Kata Adriano palsu.
“Mas aku sedang memasak, tolong
jaga sebentar ya makanannya. Aku mau ke menyusui Darel, takutnya nanti
mendidih.” Kata Abella.
“Iya sayang.” Kata Adriano palsu.
Saat Adriano palsu pergi ke
dapur, Abella diam-diam memasnag penyadap di ponsel Adriano palsu.
“Dengan begini, aku bisa tau
kemana saja dia pergi. Aku harus mencari alasan untuk bisa pergi ke vila itu
dan menyelamatkan mas Adriano. Tapi bagaimana aku bisa menjebak Marcelo dan
ibunya atas masalah ini. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan
saat ini. Aku harus tenang terlebih dahulu.” Kata Abella dalam hati.
**
Abella sedang menyusui Darel, sedangkan
Adriano palsu sedang menonton tv.
“Darel sudah tidur belum?” Tanya
Adriano palsu.
“Sudah saatnya Darel itu punya
adik loh, bagaimana kalau kita berencana memiliki anak yang kedua?” Tanya
Adriano palsu.
“Apa? Punya anak? Aku tidak akan
membiarkanmu menyentuhku apalagi menghamiliku, dasar laki-laki biadap dan
kurang ajar.” Kata Abella dalam hati.
“Aku belum siap mas.” Kata
Abella.
“Lalu sampai kapan aku harus
menunggunya sayang? Usiaku juga pasti akan semakin menua sayang. Ayolah sayang.”
Kata Adriano palsu merayu Abella.
“Aku bilang belum siap mas,
kenapa sih kamu selalu memaksaku padahal kamu selalu menuruti kemauanku.” Kata Abella.
“Ada saatnya kamu juga harus
mengerti bagaimana posisiku sayang, justru istri harus menuruti semua
__ADS_1
permintaan suaminya dan tidak boleh menolaknya.” Kata Adriano palsu.
“Pokoknya aku belum siap dan biar
aku yang memutuskan kapan aku akan siap untuk punya anak lagi. Aku ngantuk mau
tidur.” Kata Abella.
“Baiklah kalau begitu, kita
enak-enak yuk sayang.” Kata Adriano palsu.
“Aku lelah mas.” Kata Abella.
“Kenapa sih akhir-akhir ini kamu
selalu menolakku? Kamu selalu banyak alasan saat akan bercinta denganku.” Kata Adriano
palsu dengan kesal.
“Kamu yang tidak bisa mnegerti
keadaanku mas, aku lelah karena seharian harus mengurus rumah dan mengurus
Darel.” Kata Abella.
“Pokoknya tidak bisa, kamu harus
melayaniku malam ini.” Kata Adriano palsu.
“Aduh bagaimana ini? Aku tidak
mau tidur dengan dia, apalagi harus melayaninya tapi kalau aku menolaknya pasti
dia semakin curiga denganku dan aku khawatir dengan kondisi mas Adriano. Bagaimana
jika dia menyiksa mas Adriano karena sikapku. Lebih baik aku menerimanya saja,
Tuhan maafkan aku kali ini, aku terpaksa melakukannya. Maafkan aku suamiku, aku
melakukan ini demi menyelamatkan keluarga kita agar bisa utuh kembali.” Kata Abella
dalam hati.
“Ayolah sayang.” Kata Adriano
palsu.
“Baiklah mas.” Jawab Abella.
Adriano palsu mulai memeluk
Abella dan mencium kening dan bibirnya dan saat akan membuka baju Abella
tiba-tiba dia sangat kesal.
“Kenapa mas?” Tanya Abella.
“Sejak kapan kamu datang bulan?”
Tanya Adriano palsu.
“Terima kasih Tuhan telah
menyelamatkanku.” Kata Abella dalam hati.
__ADS_1