Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Bagian 31


__ADS_3

Abela menemui ibunya di ruang inap, dan ternyata ibunya sudah sadar namun ibunya tidak bisa lancar berbicara karena kondisinya yang sangat lemas.


“Mama.” Sapa Abela, ibunya hanya bisa melihat saja tanpa bicara sepatah katapun.


“Siapa yang melakukan ini kepadamu? Cepat katakan, aku akan membuat perhitungan dengan orang yang mencabut alat yang terpasang di tubuh mama. Cepat katakan.” Kata Abela sambil menangis, ibunya pun ikut menangis.


Antika pun mencoba sekuat tenaganya untuk mengangkat tangannya namun tidak kuat.


“Mama jangan bergerak, mama harus cepat sembuh ya. Maafkan Abela karena kasar pada mama.” Kata Abela sambil menggenggam tangan ibunya.


Kemudian Nando ikut masuk kedalam ruangan.


“Bapak bisa pergi sekarang, aku bisa menjaga ibuku kok.” Kata Abela.


“Benarkah?” Tanya Nando.


“Tentu saja, oh iya perkenalkan ma ini rekan kerjaku sekaligus atasanku namanya pak Nando.” Kata Abela.


“Perkenalkan saya Nando, semoga ibu cepat sembuh ya. Saya pamit dulu.” Kata Nando.


“Aku mau mengantar dia dulu ya ma, mama istirahat saja.” Kata Abela.


Abela mengantar Nando sampai tempat parkir.


“Cepatlah masuk dan jaga ibumu.” Kata Nando.


“Iya, sebelumnya terima kasih banyak pak karena telah banyak membantuku.” Kata Abela.


“Apakah kamu penasaran dengan siapa yang melepas alat yang terpasang ditubuh ibumu?” Tanya Nando.


“Tentu saja, kenapa dia tega sekali dengannya.” Kata Abela.


“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu berhasil menemukan siapa pelakunya?” Tanya Nando.


“Aku akan membalasnya. Setelah ini aku akan mencoba melihat cctv di ruangan ibuku.” Kata Abela.


“Tidak semudah itu, pihak rumah sakit juga tidak bisa semudah itu memberikan informasi.” Kata Nando.


“Bisakah bapak membantuku lagi kali ini?” Tanya Abela.


“Kenapa kamu meminta bantuanku? Kenapa kamu tidak meminta bantuan kepada suamimu?” Tanya Nando.


“Suamiku saja menyuruhku untuk tidak menemui ibuku lagi, mana mungkin dia akan membantuku.” Kata Abela.


“Kenapa begitu?” Tanya Nando penasaran.


“Karena suamiku takut dengan nenek dan kakekku.” Kata Abela sambil meneteskan air matanya.


“Aku akan membantumu.” Kata Nando sambil memeluk Abela.

__ADS_1


“Sekarang masuklah kedalam dan jaga ibumu, jangan memikirkan pekerjaanmu dulu. Hubungi juga anakmu dan jelaskan padanya agar dia bisa mengerti. Pasti anakmu sangat khawatir juga denganmu dan ibumu.” Kata Nando.


“Baik, terima kasih banyak pak.” Kata Abela, kemudian dia segera masuk kedalam.


**


Abela kembali pulang kerumah setelah menjaga ibunya. Setibanya dirumah, ternyata hanya ada suaminya saja.


“Darel kemana mas? Kok tidak ada dikamarnya.” Kata Abela.


“Ini semua karena ulahmu, kalau saja tadi kamu tidak menemui ibumu pasti nenek tidak akan membawa Darel.” Kata Adriano.


“Kamu jangan menyalahkanku ya, bukankah kamu yang saat itu menyuruhku untuk menemui ibuku?” Bentak Abela.


“Tapi saat itu kan nenek belum mengetahuinya, lebih baik suruh ibumu kembali ke luar negeri saja deh daripada keluarga kita berantakan seperti ini, kamu juga meskipun menemani ibumu harus bisa membagi waktu, kamu seakan melupakan tugasmu sebagai istri dan ibu.” Kata Adriano.


“Apa? Kamu menyalahkanku? Kamu mau bilang bahwa aku tidak bejus mengurus keluarga begitu? Sekarang hubunganku dengan ibumu mulai membaik mas, dan aku berharap aku bisa selalu menemani ibuku karena dia sedang sakit.” Kata Abela.


“Bukankah saat itu kamu membencinya setengah mati? Kenapa sekarang jadi begini?” Tanya Adriano.


“Aku tidak ada waktu untuk bicara denganmu, aku mau menjemput Darel dulu.” Kata Abela.


“Pasti karena laki-laki itu kan? Pasti karena si Nando kan? Iya kan? Jadi kamu sedang menjalin hubungan dengan atasanmu itu? Dengan alasan merawat ibumu tapi kamu asyik berduaan dengannya didepan ibumu, begitu kan?” Bentak Adriano.


“Jaga ucapanmu mas, aku bukan wanita seperti itu. Seharusnya kamu yang bisa jaga diri, ngakunya ada penerbangan ternyata sedang berlibur ke Bali.” Kata Abela.


Kemudian Abela segera pergi ke rumah neneknya.


“Darel Darel Darel, ini mama sayang.” Teriak Abela dari luar gerbang.


“Mbak Atik tolong bukakan pintunya, aku mau menjemput Darel.” Kata Abela kepada art dirumah neneknya.


“Maaf mbak, tadi nenek dan kakek mbak melarang saya untuk membukakan pintu untuk mbak Abela.” Kata Atik.


“Apa kamu bilang? Cepat buka pintunya atau aku akan merusak pintu ini.” Bentak Abela.


“Mbak jangan mbak, lebih baik mbak pulang saja dan temui nenek besok pagi saja.” Kata Atik.


“Cepat buka pintunya.” Bentak Abela sambil menendang gerbang pintunya.


“I i ya mbak, tunggu sebentar.” Kata Atik.


Akhirnya Atik membukakan pintu tersebut. Abela pun segera masuk kedalam rumah dan memanggil neneknya.


“Nek nenek nenek dimana?” Teriak Abela.


“Ada apa malam-malam ribut begini?” Bentak nenek Abela.


“Aku mau menjemput Darel nek. Darel dimana?” Tanya Abela.

__ADS_1


“Bukankah aku sudah bilang kepadamu kalau aku akan membawa anakmu jika kamu berani menemui ibumu.” Kata nenek Abela.


“Tidak bisa begitu nek, bagaimanapun juga aku jauh lebih berhak atas Darel.” Kata Abela.


“Hei kamu lupa ya selama ini kamu hidup itu menumpang, hidupmu itu atas jasaku atas semua uangku, kamu sekolah kuliah bahkan rumahmu itu siapa yang membiayai kalau bukan nenek dan kakek, dan sekarang kamu berani melawanku dengan menemui ibumu.” Kata nenek Abela.


“Apa? Kenapa nenek bicara begitu padaku? Bukankah selama ini nenek dan kakek tulus kepadaku?” Tanya Abela.


“Di dunia ini tidak ada yang gratis, sekarang pilih mana? Ibumu atau anakmu?” Tanya nenek Abela.


“Jika aku memilih Darel, apa yang akan nenek lakukan kepada mama?” Tanya Abela.


“Karena dia tidak ada gunanya lagi, jadi nenek akan menyingkirkan dia. Apakah kamu lupa bagaimana saat dia membuangmu dan tidak peduli denganmu?” Tanya nenek Abela.


“Aku tidak tega melihatnya saat dia meminta maaf padaku nek, bahkan dia rela melepas alat yang terpasang ditubuhnya agar tidak muncul lagi didepanku nek.” Kata Abela sambil menangis.


Kemudian nenek Abela menghampiri Abela lalu memeluknya.


“Anggap saja dia masa lalumu dan lupakan dia, fokuslah dengan hidupmu dengan suami dan anakmu. Kita kembali lagi seperti dulu ya.” Kata nenek Abela sambil memeluk Abela.


“Tapi dia kan juga anak kandung nenek, memangnya nenek tidak ingin menemui anak kandung nenek ya?” Tanya Abela.


“Untuk apa nenek menemuinya, itu pilihan hidupnya. Itu juga karma untuknya. Berjanjilah pada nenek kalau kamu tidak akan menemuinya lagi.” Kata nenek Abela.


“Bagaimana jika aku melanggarnya? Apa yang akan nenek lakukan padaku atau padanya?” Tanya Abela.


“Kamu tidak akan menyangkanya, jadi jangan mengkhianati nenek. Nenek bisa melakukan hal apapun termasuk menghilangkan dia untuk selamanya.” Bisik nenek Abela.


“Aku tidak akan mengkhianati nenek.” Kata Abela.


“Lakukan sesuatu untuk nenek jika ingin nenek mempercayaimu.” Kata nenek Abela.


“Apa yang bisa aku lakukan agar nenek bisa mempercayaiku?” Tanya Abela.


“Kirim ibumu ke rumah sakit jiwa.” Bisik nenek Abela.


“Apa? Kenapa nenek tega sekali, lagipula dia kan baik-baik saja nek.” Kata Abela.


“Jika kamu tidak mau melakukannya, kamu tidak akan bisa bertemu dengan anakmu selamanya.” Ancam nenek Abela.


“Aku akan melakukannya.” Bisik Abela.


“Cucuku memang anak yang penurut, Darel sudah tidur jadi biarkan dia menginap disini ya. Sekarang tidurlah dirumah nenek, sepertinya kamu sangat kelelahan.” Kata nenek Abela.


“Bolehkah aku meminta suatu hal pada nenek?” Tanya Abela.


“Apa?” Tanya nenek Abela.


“Biarkan ibuku dirawat sampai sembuh, setelah itu biarkan aku sendiri yang mengantarnya ke tempat yang nenek inginkan.” Kata Abela.

__ADS_1


“Baiklah, jaga dia sampai sembuh setelah itu kirim dia ke rumah sakit jiwa agar dia tau rasanya bagaimana dibuang oleh anaknya sendiri.” Kata nenek Abela.


__ADS_2