Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Bagian 70


__ADS_3

Abela pun masuk ke ruangan Nando dengan sangat gugup.


“Duduklah.” Kata Nando.


Abela pun duduk tanpa bicara sepatah katapun.


Nando membuatkan minum untuk Abela.


“Minumlah dulu.” Kata Nando.


“Terima kasih pak.” Kata Abela.


“Sebenarnya aku tidak ingin kita dalam situasi seperti ini, kita menjadi sangat canggung. Maaf jika waktu itu aku membuatmu menjadi canggung tapi aku hanya ingin menyampaikan bagaimana perasaanku saja kepadamu.” Kata Nando.


“Bapak tidak salah jadi tidak perlu meminta maaf kepada saya, justru saya yang minta maaf kepada bapak karena menolak bapak saat itu. Sekali lagi maafkan saya, sejak saat itu saya tidak berani menghubungi bapak dan merasa malu untuk menyapa ataupun menatap bapak.” Kata Abela sambil menunduk.


Kemudian Nando mendekati Abela.


“Kamu tidak bersalah, akulah yang terlalu serakah tanpa memahami perasaanmu saat itu, aku sangat egois.” Kata Nando sambil menatap Abela.


“Bisakah kita kembali seperti dulu lagi tanpa ada rasa canggung?” Tanya Nando.


“Aku juga menginginkan seperti itu pak.” Kata Abela.


“Lupakan apa yang aku katakan saat itu, anggaplah aku tidak mengatakan apapun saat itu dan kita tidak canggung lagi.” Kata Nando sambil menatap Abela.


“Tentu saja, terima kasih pak.” Kata Abela.


 


 


**


Adriano tidak jadi pergi ke Jepang, dia akhirnya menetap di Indoneisa.


Adriano sedang mengirim pesan kepada Darel, dia juga mengirim sesuatu untuk putranya. Ariana pun merasa tidak diperhatikan oleh Adriano sehingga membuatnya cemburu.


“Mas kamu akan mengirim sesuatu lagi kepada Darel?” Tanya Ariana.


“Iya, aku membelikannya mainan kesukaan dia, bagaimana menurutmu? Bagus tidak?” Tanya Adriano.


“Bagus kok, tapi bukankah minggu lalu kamu sudah membelikannya mainan mas? Lagipula ada ibunya, pasti ibunya akan melarang Darel menerima hadiah darimu.” Kata Ariana.

__ADS_1


“Ibunya tidak pernah menghalangiku untuk bertemu atau memberi sesuatu kepada Darel, aku paham betul seperti apa Abela.” Kata Adriano.


“Ingat mas, kamu juga akan punya anak lagi. Jangan selalu memikirkan anak pertamamu saja, anak dalam kandunganku ini juga anakmu.” Kata Ariana.


“Dia kan belum lahir, memangnya dia butuh mainan juga?” Gerutu Adriano.


“Bagaimana kalau kita pergi keluar untuk makan di restoran mas?” Tanya Ariana.


“Aku bosan makan makanan diluar, memangnya kamu tidak masak?” Tanya Adriano.


“Aku lelah mas, lagipula perutku juga semakin membesar.” Kata Ariana.


“Dulu saat Abela hamil Darel, dia selalu menyempatkan untuk masak padahal saat itu dia juga hamil tua.” Kata Adriano.


“Kondisi ibu hamil setiap orang berbeda mas, aku dan dia jelas berbeda.” Kata Ariana.


“Lalu seterusnya kamu tidak akan memasak? Lalu aku makan apa?” Tanya Adriano.


“Besok aku masak untukmu mas.” Kata Ariana.


“Aku mau keluar sebentar.” Kata Adriano.


“Mau kemana mas?” Tanya Ariana, namun Adriano tidak menjawab pertanyaan istrinya dan langsung pergi begitu saja.


Adriano keluar ke kafe dekat kantor Abela, lalu dia menelfon Abela mantan istrinya.


“Ada apa menelfonku? Jika ingin menanyakan Darel, telfon saja sendiri.” Kata Abela.


“Selamat ulang tahun untukmu.” Kata Adriano.


“Apa maksudmu? Hari ini aku sedang tidak berulang tahun.” Kata Abela.


“Kamu ingat tidak? Dulu aku mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu saat kita pertama kalinya saling jatuh cinta, lalu kita selalu merayakan hari jadi kita. Aku masih ingat dengan jelas waktu itu.” Kata Abela.


“Aku sudah melupakan semuanya, jangan menggangguku lagi.” Kata Abela.


“Bagaimanapun juga kamu adalah ibu dari anakku.” Kata Adriano.


“Kenapa kamu seperti ini? Apakah kamu mulai menyesal berpisah denganku? Atau kamu mulai menyesal menikahi wanita itu?” Tanya Abela.


“Bukan begitu, aku hanya tidak ingin hubungan kita menjadi musuh.” Kata Adriano.


“Aku sudah menerima semuanya dengan ikhlas jadi jangan pernah mengusikku lagi, aku ingin hidup dengan tenang dan bahagia.” Kata Abela.

__ADS_1


“Aku hanya khawatir denganmu.” Kata Adriano.


“Aku tidak butuh perhatianmu lagi.” Kata Abela.


“Apakah tidak ada alasan lagi bagiku untuk menelfonmu?” Tanya Adriano.


“Aku membencimu, aku tidak mencintaimu lagi jadi lupakan aku dan jangan mengganggu hidupku lagi.” Kata Abela.


“Aku seperti sedang menanggung dosaku, hidupku tidak tenang dan selalu dipenuhi perasaan bersalah kepadamu. Aku masih sering memikirkanmu dan sepertinya aku masih menyukaimu.” Kata Adriano.


“Tidak ada yang kusukai dari dirimu, aku bahkan tidak ingin melihatmu berusaha kerasa seperti ini kepadaku, pergilah dan jangan ganggu hidupku.” Kata Abela.


“Kenapa?” Tanya Adriano.


“Aku merasa hilangnya cinta akan membawa kebencian, hilangnya cintaku kepadamu membawa kebencian terhadapmu, semakin aku memikirkanmu aku merasa seperti orang gila, ini sangat menyiksaku.” Kata Abela sambil menangis.


“Jika kamu membenciku kenapa kamu menangis?” Tanya Adriano.


“Karena aku membencimu, hanya ini yang bisa aku katakan.” Kata Abela lalu menutup telfonnya. Lalu dia berlari ke toilet untuk mencuci mukanya namun dia justru menabrak Nando. Nando pun akhirnya melihat Abela menangis lalu memeluknya. Abela menangis di pelukan Nando.


“Ini sangat menyiksaku pak, ini sangat menyiksaku sampai membuatku seperti orang gila.” Kata Abela sambil sesenggukan.


“Menangislah sepuasmu.” Kata Nando.


“Dia menelfonku lagi, dia menggangguku lagi.” Kata Abela.


“Masih adakah perasaanmu terhadapnya?” Tanya Nando.


“Aku berusaha melupakannya namun dia selalu saja menggangguku.” Kata Abela.


“Ikutilah apa kata hatimu, jangan memaksakan kehendakmu. Jika kamu ingin melupakan dia, aku akan membantumu.” Kata Nando.


“Benarkah?” Tanya Abela.


“Aku selalu ada untukmu, mungkin aku bukanlah pemeran utama dalam hidupmu tapi aku bersedia menjadi seseorang yang membuat hidupmu menjadi happy ending.” Kata Nando.


Abela tersentuh dengan ucapan Nando, lalu dia menatapnya dengan perasaan sedih dan masih sesenggukan.


“Aku selalu menunggumu, aku tidak pernah putus asa untuk memenangkan hatimu. Tapi jika kamu ingin aku pergi dari hidupmu, sepertinya aku tidak bisa. Karena kamu telah mengubah diriku menjadi lebih menghargai hidupku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Kata Nando. Kemudian Abela memeluk erat Nando.


“Satu hal yang aku takutkan jika aku membuka hatiku kembali, yaitu aku takut kehilangan.” Kata Abela.


Kemudian Nando mencium bibir Abela, Abela pun membalasnya. Abela mendorong Nando kedalam gudang, lalu Nando mengunci gudang tersebut dari dalam.

__ADS_1


“Disini lebih aman.” Bisik Abela.


“Aku mencintaimu.” Bisik Nando.


__ADS_2