
H-1 hari persidangan.
Antika mengajak Abela ke suatu tempat.
“Mama mau mengajak pergi kemana? Mama harus banyak istirahat meskipun sudah tidak dirawat di rumah sakit.” Kata Abela.
“Dulu kamu pernah meminta mama untuk bercerita tentang kejadian waktu itu dan semua kebenaran yang tidak bisa mama ungkapkan kepadamu kan? Mama akan menceritakan semuanya kepadamu, makanya mama ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Kata Antika.
“Baiklah, biar aku yang mengemudi.” Kata Abela.
“Tidak, mama ingin mengemudi dan kamu duduk disebelah mama.” Kata Antika.
“Mama yakin?” Tanya Abela.
“Mama akan mengemudi dengan baik, percayalah kepada mama.” Kata Antika sambil membukakan pintu mobil untuk Abela.
“Aku bisa membukanya sendiri ma.” Kata Abela.
“Cepat masuklah.” Kata Antika.
Setelah itu mereka segera pergi ke tempat tujuan.
“Kita berangkat sekarang ya.” Kata Antika.
__ADS_1
“Iya ma.” Kata Abela.
Setibanya di tempat tujuan.
“Kenapa kita ke TPU ma? Memangnya siapa yang meninggal ma?” Tanya Abela.
“Ayo ikut mama, nanti kamu akan mengetahuinya sendiri.” Ajak Antika sambil menggandeng tangan Abela.
Antika segera menuju ke kuburan seseorang.
“Ini makam siapa ma? Tertulis nama Andini, siapa dia ma? Apakah orang yang mama kenal?” Tanya Abela.
“Dia ibu kandungmu, sapalah dia.” Kata Antika.
“Apa? Apa maksud mama? Ibuku adalah mama. Jangan bicara sembarangan ma.” Kata Abela.
“Tidak, aku tidak percaya. Hanya mama ibu kandungku dan sampai kapanpun mama adalah ibuku.” Kata Abela.
“Andini adalah ibu kandungmu, dia adalah saudara tiri mama. Dia adalah anak kandung nenekmu sedangkan mama anak tiri nenekmu. Makanya dia ingin memisahkan mama denganmu sayang. Apakah kamu tidak pernah menyadari akan hal ini? Bukankah sudah jelas kenapa nenekmu sangat membenci mama.” Kata Antika.
“Tidak mungkin, aku mohon jangan berkata seperti itu kepadaku ma. Aku minta maaf atas sikapku yang kasar selama ini kepada mama. Aku bahagia menjadi anak mama dan aku ingin menjadi anak mama, aku mohon ma.” Kata Abela sambil memeluk Antika.
“Inilah kebenaran yang harus kamu terima sayang, ibumu berpesan kepada mama untuk menjaga dan membesarkanmu serta menyayangimu layaknya anak kandung mama sendiri. Mama sangat menyayangimu nak tapi tetap saja mama bukanlah ibu kandungmu. Sudah saatnya kamu harus mengetahui kebenaran ini.” Kata Antika.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak bisa menerima kenyataan ini ma. Aku mohon jangan seperti ini kepadaku ma.” Kata Abela.
“Mama tidak akan pernah meninggalkanmu tapi tetap saja mama bukanlah ibu kandungmu dan kamu harus mengetahuinya.” Kata Antika.
“Aku tidak percaya dengan ucapan mama, aku benci mama.” Kata Abela lalu dia pergi sambil menangis. Antika pun mengejarnya.
“Abela Abela tunggu sayang. Mama akan menjelaskan semuanya kepadamu.” Kata Antika.
“Aku tidak percaya dengan ucapan mama.” Kata Abela.
“Masuklah mobil, kita bicara sambil makan bersama ya.” Kata Antika.
Didalam mobil, Abela diam saja tanpa bicara sepatah kata pun.
“Kamu harus bisa menerima kenyataan ini sayang. Kamu boleh bertanya pada nenekmu jika kamu tidak mempercayai mama.” Kata Antika.
“Lalu siapa ayah kandungku? Apakah ayah Dimas bukan ayah kandungku juga?” Tanya Abela.
“Dia ayah kandungmu.” Kata Antika.
“Kenapa mama harus mengatakan hal ini kepadaku? Kenapa mama harus berbohong kepadaku?” Tanya Abela.
“Karena ibumu tidak ingin kamu bersedih jika mengetahui kebenaran ini sayang.” Kata Antika.
__ADS_1
“Lebih baik mama berbohong kepadaku seumur hidup, itu jauh lebih baik bagiku.” Kata Abela.
“Maafkan mama sayang, kamu boleh membenci mama lagi setelah ini tapi cinta dan kasih sayang mama kepadamu tulus.” Kata Antika.