
Keesokan harinya, Abela dengan didampingi oleh pihak manajemen Sudirman Palace Apartemen mendatangi apartemen Adriano. Dia menekan bel pintu, dan tak lama kemudian Ariana yang membuka pintunya.
“Selamat pagi, saya disini selaku manajemen Sudirman palace ingin memberikan surat bahwa tuan Adriano harus secepatnya keluar dari apartemen ini.” Kata manajer apartemen tersebut. Sedangkan Abela disampingnya sambil memakai kacamata hitam dan penampilannya yang sangat badas layaknya seorang CEO.
“Silahkan pergi dari sini tuan Adriano.” Kata Abela sambil tersenyum sinis.
“Apa? Memangnya salahku apa harus keluar dari apartemen ini? Aku telah membeli unit ini bahkan aku ada buktinya, kalian tidak bisa mengusirku seenaknya. Ini pasti ulahmu kan?” Tanya Adriano kepada Abela.
“Hmmmm bagaimana ya aku menjelaskannya? Harusnya kamu sadar diri saat tinggal disini, bukannya malah seenaknya denganku. Istrimu terbukti merusak properti di apartemen ini dan dia juga terekam kamera sedang mengikutiku, aku bisa saja menuntut istrimu itu dan kalian telah mengganggu privasiku dan keluargaku jadi silahkan keluar dari apartemen ini secepatnya.” Kata Abela.
“Tidak bisa, aku akan menempuh jalur hukum karena aku tidak bersalah. Memangnya kamu siapa bisa seenaknya mengusirku dari sini?” Tanya Adriano.
“Haruskah aku menjawab pertanyaanmu itu? Harusnya kamu sadar diri dan tau tempat.” Kata Abela lalu segera memasuki apartemen mantan suaminya. Dia juga memerintahkan para staff untuk mengemasi semua barang yang ada didalam apartemen Adriano.
“Segera kemasi semua barang yang ada disini.” Kata Abela.
“Baik nyonya.” Kata salah satu staff. Akhirnya semua barang yang ada didalam apartemen Adriano dikemasi oleh para staff.
“Hentikan, kalian tidak ada hak untuk masuk seenaknya ke rumah orang. Keluar kalian dari sini.” Bentak Adriano.
__ADS_1
“Lanjutkan tugas kalian.” Kata Abela.
“Baik nyonya, kami akan segera mengemasi semua barang yang ada disini.” Kata staff tersebut.
Sedangkan Adriano bingung sendiri, Ariana pun keluar dari kamarnya sambil menggendong Diara.
“Ada apa ini mas?” Tanya Ariana.
“Mereka mengusir kita dari apartemen ini.” Kata Adriano.
“Bukankah kamu punya banyak uang, cari saja tempat lain.” Kata Abela.
“Memangnya apa salahku dan suamiku? Lagipula kamu siapa? Kamu tidak ada hak bisa mengusirku dari sini, aku telah membeli apartemen ini.” Kata Ariana.
“Beri aku waktu sampai aku mengemasi semua barangku. Lagipula aku memiliki bayi, pasti membutuhkan waktu juga kan.” Kata Adriano.
“Aku tidak peduli, sama sepertimu yang saat itu tidak peduli denganku maupun Darel. Lagipula Darel keberatan tinggal satu apartemen dengan kalian, dia tidak nyaman dengan kalian.” Kata Abela.
“Ok ok ok maafkan aku, tapi aku mohon beri aku waktu sekitar satu minggu, oh tidak satu bulan.” Kata Adriano memohon kepada Abela.
__ADS_1
“Jangan memohon kepadaku, aku datang kesini tidak untuk melihatmu memohon kepadaku seperti ini. Dimana seorang Adriano yang selalu tampil percaya diri dan sosok penyayang serta melindungi selama ini? Kamu benar-benar sangat kacau.” Kata Abela sambil tersenyum sinis.
Tiba-tiba Ariana mengambil air minum dan menyiramkannya ke wajah Abela dan juga ke staff yang sedang mengemasi barang.
“Keluar kalian dari sini.” Teriak Ariana.
“Ah ah berani sekali seorang sampah sepertimu memperlakukanku seperti ini hah?” Teriak Abela.
“Aku tidak takut denganmu, kalau kalah terima saja kekalahanmu. Aku pemenangnya, aku pemenang hatinya Adriano.” Kata Ariana sambil menatap wajah Abela.
Lalu Abela menjambak rambut Ariana.
“Dasar kurang ajar.” Kata Abela, Abela menjambak rambut Ariana dengan sangat marah.
“Hentikan aku mohon, hentikan.” Teriak Adriano memarahi Ariana.
“Kamu tidak apa-apa kan? Tolong keluarlah, aku akan segera pergi meninggalkan tempat ini tapi tolong beri aku waktu.” Kata Adriano.
“Mas kamu membela wanita ini? Aku istrimu mas.” Kata Ariana.
__ADS_1
“Jika kamu tidak memulainya, dia tidak akan menjambakmu.” Kata Adriano.
“Aku beri waktu tiga hari.” Kata Abela lalu dia pergi meninggalkan apartemen Adriano dengan sangat kesal.