Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 98


__ADS_3

"Anda bisa saja, tuan William. Senang bisa bertemu dengan anda, dan senang jika kita bisa bekerja sama seperti ini." Ucap tuan Carles.


"Aku punya oleh-oleh untuk anda tuan, ini hadiah untuk anak-anak anda. Aku dengar jika anda mempunyai putra-putri yang menggemaskan." Tuan Carles memberikan sebuah bingkisan besar pada Sean.


"Harusnya anda tidak perlu repot-repot seperti ini, tuan. Aku sudah cukup berterima kasih kalian sudah menyambut kami di sini." Sean menerima bingkisan dari tuan Carles.


"Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih." Sambung Sean.


"Tenang saja tuan Sean. dan hati-hati untuk kalian semua." Sean berjabat tangan dengan tuan Carles. Semua anak buah Sean memberikan tanda hormat pada tuan Carles dan semua anak buahnya secara bersamaan.


Pasukan Sean menuju ke kendaraan masing-masing dan bersiap untuk mengudara kembali ke tempat asal mereka.


Tidak berselang lama, mereka semua mengudara dan kembali.


Sore waktu Berlin...


Semua pasukan Sean sudah tiba di markas tanpa terkecuali. Mereka semua dalam kondisi selamat. Hanya beberapa yang mengalami luka ringan.


Sean langsung saja turun dari sana. "Kau urus yang di sini, Ko. Aku kembali dulu ke mension." Ucap Sean pada Riko.


Sean berjalan menuju mobilnya yang ada di sana. Sean menyalakan mobilnya dan segera menuju mension utama di mana Ana dan twin j berada di sana.


Sean ingin sekali bertemu dengan Ana, sepertinya sudah tidak sabar.


Sesampainya di Mension, Sean turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam.


"Papiiii...." Ucap Jennifer melihat sang papi datang dengan membawa bingkisan besar di tangannya.


"Sean..." ucap Ana pelan. Hatinya merasa senang bisa melihat sang suami pulang dengan keadaan baik tanpa kurang apapun.


Ana segera menghampiri Sean dan memeluknya, Sean membalas pelukan dari Ana.


Ana tampak meneteskan air matanya di pelukan Sean. "Aku sudah ada bersamamu, jangan menangis lagi ." Sean menghapus air mata Ana lalu memeluknya kembali. Ia mencium kening Ana dengan lembut.


"Kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali, aku takut kau kenapa-kenapa. Apa kau tahu kalau aku tidak tidur sama sekali, hah?" Ana mengeluarkan uneg-unegnya pada Sean.


"Maafkan aku, aku ingin semuanya cepat selesai.

__ADS_1


Agar tidak ada yang mengganggu dan menyentuhmu." Jawab Sean.


Hikss... hikss... Ana kembali menangis.


"Papii...." Jennifer datang mendekat dengan langkah kecilnya. Ia memeluk kaki Sean, sepertinya dia juga merindukan sang papi.


"Haiii anak papi... apa anak papi rewel selama papi tidak ada" Sean menyetarakan tinggi badannya dengan Jennifer.


Julian ikut mendekat dan mencoba mengambil bingkisan yang di bawa oleh Sean. Sepertinya, dirinya lebih tertarik dengan yang di bawa oleh Sean dari pada kedatangan sang papi.


la duduk dan mencoba membuka bingkisan yang di bawa Sean.


"Kau sudah pulang, son." Sahut papi Sean melihat keluarga kecil itu yang masih bergerumbul di depan pintu.


"Kenapa kalian tidak masuk? Apa lebih senang berdiam diri di depan pintu seperti itu?" timpal mami Sean.


Sean menggendong putri kecilnya dan membawa mereka untuk berkumpul semua. "Ayo Jul, kita buka di sana." Ajak Sean karena Julian masih sibuk untuk membuka bingkisan yang di bawa Sean.


Di ambilkan bingkisan itu oleh Sean, Julian merengek untuk di kembalikannya. Tapi Sean tetap saja membawanya. Akhirnya Ana menggendong Julian untuk menuju ruang berkumpul bersama mami dan papi Sean di sana.


Julian mencoba kembali membukanya, dia sangat antusias untuk segera melihat isi dari bingkisan itu.


"Ini apa, Sean?" tanya Ana.


"Itu dari temanku, dia memberikan untuk twin." Jawab Sean.


"Sini, biar papi bukakan untuk kalian." Sean ikut duduk di bawah bersama kedua anaknya.


Sean duduk berhati-hati agar tidak mengenai luka yang ada di perutnya. Ia tidak mau jika nanti Ana bertambah khawatir padanya melihat luka yang ia terima.


Sean mulai membuka bingkisan itu. Julian dan jennifer duduk berdampingan menunggu sang papi selesai membuka.


Julian berdiri dan mendekat ke arah sang papi, ia ingin melihat apa isinya.


Sean tersenyum setelah melihat isi dari bingkisan itu. Sean mengeluarkan sepasang sepatu kembar dari tuan Carles.


Bingkisan itu bukan hanya berisi sepatu kembar untuk mereka, tetapi juga beberapa baju kembar untuk twin J.

__ADS_1


Sean meberikannya pada Julian terlebih dahulu, baru ia memberikan pada Jennifer.


"Miii..." Julian menunjukkan itu pada sang mami.


"Sini, papi pakaikan." Tawar Sean pada Julian. Ia kembali mendudukkan dirinya dan membiarkan sang papi memakaikan sepatu itu di kakinya.


Sepatu sudah terpakai rapi di kakinya, Julian berdiri dan berjalan memutar-mutar menggunakan sepatu barunya. Ia terlihat sangat senang memakainya. Sean tersenyum melihat putra kecilnya itu.


"Apa kau suka, boy?" Julian kembali mendekat ke arah Sean dan mencium pipi sang papi. Sean membalas mencium pipi kanan dan kiri Julian dengan gemmas.


"Sini papi pakaikan, Jen." Ucap Sean beralih pada Jennifer. Ia memakaikan sepatu itu di kaki Jennifer.


Jennifer menggerakkan kecil kedua kakinya ke kanan dan ke kiri. Sepatu milik Jenni bewarna pink, sedangkan milik Julian bewarna putih. Untung kali ini, Julian tidak merebut milik sang kakak. Biasanya, dirinya sangat jahil mengambil barang yang di bawa oleh Jennifer.


Mereka menikmati waktu sore seperti biasa. Dan seperti biasa terkadang melihat tingkah random dari twin J yang memang di usia aktifnya saat ini.


Malam harinya...


"Sean, aku ingin berjalan-jalan ke luar denganmu. Aku ingin berjalan kaki menikmati malam di luar." Pinta Ana.


"Mau ke mana, hmm?" tanya Sean mendekatkan dirinya pada Ana.


"Kemana saja boleh," jawab Ana.


"Yaudah ayo, biar kau juga tidak bosan. Twin biar sama mami dan papi." Sean mengambilkan baju tebal untuk Ana dan memakainya. Ana tersenyum senang dengan perlakuan Sean yang memang selalu manis untuknya.


"Tapi... apa di luar aman?" tanya Ana. ia takut jika hal seperti kemarin akan terjadi lagi.


"Kau tidak perlu khawatir, semua akan aman." Jawab Sean tersenyum lalu menggandeng tangan Ana untuk keluar.


"Kalian mau kemana?" tanya mami Sean melihat keduanya memakai baju tebal.


"Kami ingin berjalan-jalan sebentar, mi. Titip twin, ya. Nanti kalau bangun mami tenangkan mereka." Ucap Sean.


"Iya tenang... kalian berjalan-jalanlah. Kasihan Ana tidak pernah keluar." Ujar sang mami penuh pengertian.


Keduanya berjalan keluar, sesuai dengan permintaan Ana. Mereka berjalan kaki berdua dan bergandeng tangan sepanjang jalan.

__ADS_1


__ADS_2