Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 313


__ADS_3

Mereka semua berjaga-jaga dan mencari siapa yang sudah melakukannya. Semua yang ada di sana tidak ada yang mengaku. Tentu saja tidak ada yang mengaku, karena dari mereka tidak ada yang melakukannya.


Gerald yang keluar dari persembunyiannya itu pun melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku butuh waktu sampai dini hari di sini. Setelah itu, aku akan pergi dari sini.”


Keberadaan Gerald di ketahui oleh salah satu anggota disana. "Siapa kau!?" Gerald dengan cepat berjalan ke arah orang tersebut. Dengan tali yang ia bawa, ia mencekik orang itu dengan cepat.


Pemberontakan dan perlawanan pada Gerald, tetapi Gerald semakin mengencangkan tali yang ia ikatkan di leher orang tersebut. Tanpa lama orang itu pun tewas seketika, Gerald pergi dari sana dan membiarkan orang tersebut tergeletak. Di saat Gerald mulai menghabisi orang-orang di sana, anak-anak buahnya berjuang untuk mencari keberadaan ruang rahasia di rumah megah itu.


Gerald bersembunyi di sebalik tembok, dengan memegang senjata miliknya ia mulai mengarahkan senjata itu pada orang-orang yang di lihatnya. Satu persatu mereka tergeletak bersimbah darah, Gerald sengaja untuk menggunakan peredam suara agar aksinya bisa berjalan mulus dan tidak membuang-buang tenaganya. Sebisa mungkin juga dia mencari tempat persembunyian yang tidak terlihat oleh orang-orang di sana.


"Ada berapa orang di sini?" tanya Gerald pada anak buahnya.


"Ada sekitar 300 orang, tuan muda, "jawabnya melalui sambungan earphone yang sudah terpasang sedari tadi.


"Baiklah... aku akan habisi sebagian dari mereka terlebih dahulu. Tidak asik jika hanya aku yang bermain sendiri," gumamnya sendiri. Ia kembali menghabisi orang-orang yang ada di sana.


Syuut... jleb...


Akhirnya ia mengeluarkan satu belatinya, orang tersebut berteriak merintis kesakitan dengan belati yang menancap begitu saja. Di situasi genting seperti ini ia tidak ada takut-takutnya, justru dia tersenyum sinis.


Apa yang di lakukan oleh Gerald kembali menjadi pusat perhatian untuk mereka yang tengah berjaga. Mereka berlari untuk melihat apa yang tengah terjadi. Sementara Gerald berlari menuju ruangan lain tanpa di ketahui oleh mereka.


"Kau sudah menemukannya?" Gerald kembali berbicara dengan anak buahnya.


"Kami menemukan satu tempat, tuan muda. Sepertinya semua hartanya ia simpan di ruangan ini," jelas anak buahnya.


"Kau cari wadah emas dengan logo kingdom. Aku menuju ke sana." Gerald merasa bangga dengan anak buahnya yang bsia dengan cepat menemukan apa yang mereka cari. Mereka benar-benar melakukan dengan cepat.


"Anda tinggal lurus ke arah jam 9, tuan muda. Terdapat lukisan besar, anda bisa menggeser sedikit." Gerald melangkahkan kakinya sesuai dengan apa yang di beritahu oleh anak buahnya.


Melihat lukisan besar terpajang di sana, Gerald sedikit menggeser kan. Dinding di sana terbuka, Gerald segera masuk ke dalam. Benar saja di sana merupakan tempat penyimpanan semua kekayaan dari bos orang-orang di sana. Banyaknya emas batangan dan harta lainnya, sepertinya memang bukan orang sembarangan bos dari mereka.

__ADS_1


Gerald bisa dengan mudah masuk ke sana karena semua orang lagi di sibukkan berjaga dan mencari pelaku yang tengah membabat anggota yang lainnya. Tanpa di ketahui Gerald yang menjadi pelaku itu dengan tenang berkeliaran di sana.


"Kalian sudah mendapatkannya?"


"Belum, Tuan Muda. Kami belum menemukan wadah yang anda maksud. Sepertinya sedikit sulit karena berbaur dengan semua emas-emas ini," jawabnya.


Mereka kembali mencari, sedangkan Gerald menelisik ruangan tersebut. Menurut instingnya, benda itu tidak bercampur dengan banyaknya emas di sana.


"Surat itu sepertinya memang bukan hanya sekedar surat. Bagaimana juga orang itu bisa mengambilnya dari papi?" gumam Gerald. Gerald sedikit di buat bingung, mengambil sesuatu di markas kingdom bukanlah hal mudah. Bagaimana bisa orang itu bisa membawanya sampai ke sini.


la kembali menelisik ruangan tersebut, terdapat satu lukisan tua yang berada di sana. Jika di uangkan mungkin itu bisa berharga fantastis, Gerald melihat kerya seni yang saat ini di depannya. Gerald kembali melangkahkan kakinya, di salah satu langkahnya, sedikit terasa aneh saat menginjak lantai yang tepat di bawahnya.


Gerald berjongkon dan memastikan apa yang baru saja ia injak. Gerald mengetuk lantai itu dengan tangannya, bunyi dari lantai yang ia pijak dan laintai lainnya terasa berbeda.


"Sepertinya ada yang salah di sini." Gerald mencari sesuatu yang ada di ranselnya. Dia akan menggunakannya untuk mencokel lantai yang ada di pijakannya.


Melihat apa yang di lakukan oleh Gerald, anak-anak buahnya pun mendekat dan membantunya. Setelah berhasil di congkel, ternyata di bawah lantai itu tersimpan brangkas tersembunyi. Brangkas itu dalam keadaan terkunci rapat.


Gerald sebenarnya juga penasaran apa isi berkas berharga yang ada di dalam wadah emas dengan logo dari kingdom itu, tetapi dia masih memiliki batasan. Gerald tidak akan berani membukanya, bukannya tidak berani, tetapi dia lebih menghargai privasi. Dia juga harus ingat batasan dan sopan santunnya.


"Tutup kembali dan kita pergi dari sini," pinta Gerald pada anak-anak buahnya. Mereka mengembalikan itu semua pada tempatnya. Apa yang baru saja ia ambil segera Gerald sembunyikan.


"Kalan bsia kembali lebih dulu. Keluarlah dari pintu lain, jangan secara bersamaan. Aku akan mekewati jalan di mana aku masuk," titah Gerald pada anak buahnya.


"Aku tidak menerima bantahan. Lakukan dengan cepat." Belum juga anak buahnya menjawab Gerlad sudah lebih dulu berbicara. Mereka hanya bisa melaksanakan apa yang tuan mereka perintahkan.


Mereka keluar ke arah yang berbeda sesuai dengan perintah dari Gerald.


"Siapa kau!?" salah satu dari mereka mengetahui keberadaan Gerald di sana.


Bugh...

__ADS_1


Gerald memberikan bogeman mentah begitu saja hingga orang tersebut seketika tidak sadarkan diri. Baru saja dia melangkah, dia sudah terkepung dengan orang-orang di sana. Mereka yang baru saja melihat Gerald menyadari jika Gerald adalah penyusupnya.


"Penyusuuupp!" teriak salah satu dari mereka.


"Sial," umpatnya karena ketahuan.


Akhirnya baku hantam tidka bisa di hindari, Gerald yang sudha ketahuan itu mau tidak mau dirinya menghadapi orang-orang di sana.


Bugh... bugh... bugh...


Tendangan dan pukulan dia layangkan pada orang-orang di sana. Gerald hanya seorang diri melawan banyaknya orang yang ada di sana.


Door... doorr...


Dorr ... dorrr....


Dorr... doorr...


Rentetan senjata berasal dari Gerald. Dia memutuskan untuk tidak menggunakan peredam suara lagi. Mendengar suara-suara tembakan membuatnya bersemangat untuk menghabisi orang-orang di sana.


Orang-orang di sana yang mendengar suara tembakan itu pun segera berlari mencari asal dari suara tembakan itu. Melihat mereka mulai bermunculan, dengan cepat Gerald menembakkan pelurunya ke arah mereka.


Doorr... dorr...


Doorr... doorr...


Benar-benar tidak bisa berhenti untuk menembak orang-orang di sana. Mereka semua belum juga melakukan perlawanan tetapi sudah tewas lebih dulu. Gerald berlari melarikan diri dengan menembakkan setiap pelurunya pada orang-orang di sana.


Tempat yang terlihat tenang itu saat ini terdengar ramai dengan selongsong senjata. Baku hantam juga tidak bisa di hindari, alhasil mereka melakukan pertarungan. Satu lawan berpuluh-puluh orang, bahkan mungkin di sana masih banyak sekali, bukan hanya puluhan.


Doorr... dorr... dorr...

__ADS_1


Gerald membalas mengeluarkan jurusnya untuk menembakkan peluru pada mereka semua. Beberapa dari mereka melaporkan hal ini pada bosnya. Gerald tidak berhenti menembakkan pelurunya karena hanya dia seorang yang menghadapi banyaknya orang-orang di sana.


__ADS_2