
"Auuwh... punggungku, kenapa kau menendangku?" ujarnya dengan memegang punggungnya yang terasa sakit karena terjatuh dari atas tempat tidur.
"Siapa yang menyuruhmu berulah?" sengal Jennifer. Julian menunjukkan wajah memelasnya lalu duduk di tepian tempat tidur milik sang kakak.
"Tidak usah menunjukkan wajah sedih mu itu," sengalnya lagi karena merasa kesal tidurnya terganggu.
"Kenapa kau galak sekali? Padahal niatku baik, ingin membangunkanmu." Jawabnya agar Jennifer tidak memarahinya lagi.
"Kau tidak bisa menggunakan cara lain, hah?" Jennifer semakin menunjukkan wajah kesalnya pada Julian.
"Iya...iyaa... maafkan aku."
"Bagimana dengan mereka berdua, apa mereka mau?" tanyanya. Ternyata itu tujuannya datang ke kamar sang kakak dan membuat ulah di sana.
"Aku tidak tahu, aku belum membuka pesan di ponselku." Jawab Jennifer dengan ketus.
"Sudah sana keluar," usirnya.
"Jangan galak-galak, tidak baik." Ucap Julian.
"Diam kau, keluar atau aku tending lagi dirimu!" "Iya... aku keluar. Nanti beritahu aku," ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar Jennifer. Dari pada dirinya terkena tendangan lagi, lebih baik dia keluar dengan cepat.
Jennifer memutar kedua matanya malas akan hal ini, Jennifer pun membuka ponselnya dan melihat pesan-pesan. Siapa tahu jika keduanya sudah membalas pesannya semalam.
la membuka pertama dari Fany, tentu saja Fany setuju dengan ajakannya. Untuk Thea, Jennifer belum mendapat balasan. Akhirnya Jennifer pun memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Kau mau kemana, Fa? Kau mau pergi? Pergi saja yang jauh sekalian." Ucap sang mommy padanya.
"Apasih mom, kayaknya seneng banget kalau Fany pergi dari sini. Nyesel awas nanti," jawab sang mommy.
"Lah itu mau kemana? Semua baju di masukkan ke dalam koper." Ujar sang mommy kembali.
"Aku liburan ke Turki dengan tuan putri dan lainnya. Boleh kan? Boleh laah... ya... yaa...." Bujuknya pada sang mommy.
"Yasudah terserah kau saja, hati-hati. Jangan berulah di negara orang." Tutur sang mommy.
"Okey, siap mom. Love you mooooom...." Ujarnya memberi kiss jauh pada sang mommy. "Kenapa bisa aku punya anak seperti ini?" ia bergidik ngeri dengan tingkah anaknya sendiri.
__ADS_1
"Sarapan sana dulu, papa dan adikmu sudah menunggu." Sambungnya lagi. Fany pun mengikuti langkah sang mommy, ia akan berkemas lagi nanti setelah sarapan.
Fany memiliki adik laki-laki yang sudah berumur tujuh tahun, dia juga mmeiliki sifat yang sama seperti Fany. Entah bagaimana jika dewasa nanti, akankah masih sama atau bisa berubah menjadi laki-laki yang cool.
.
.
Bandara...
Mereka semua sudah berkumpul menjelang sore hari, mereka memilih penerbangan di waktu sore.
Di rasa semua sudah cukup, merekapun masuk ke dalam untuk pemeriksaaan sebelum pemberangkatan. Pemeriksaan membutuhkan waktu sekitar kurang lebih satu jam. Setelah semua sudah selesai, merekapun akhirnya menuju Jet pribadi dari keluarga Julian.
Sengaja Julian menggunakan jet peribadi agar cepat sampai di tempat tujuan. Teman-teman Julian merasa terkagum dengan kendaraan itu, di dalamnya juga terdapat fasilitas yang memadai, bahkan di dalam san tidak seperti jet pada umumnya.
"Kalau begini, aku akan betah." Ujar Marcus.
"Ya sudah kau tidak perlu turun nanti, di dalam saja." Sahut Julian.
Mereka duduk di tempat masing-masing yang sudah tersedia, tidak lama akhirnya jet tersebut mengudara.
Turki...
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya jet pribadi itu sudah mendarat dengan mulus di bandara Turki. Jarak antara Berlin dan Turki tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam penerbangan. Mereka turun dari jet secara bergantian.
"Wuuaahh.... Sepertinya di sini lebih menyenangkan." Ujar Fany di ambang pintu.
"Cepatlah, atau aku melemparmu dari sini!" Sengal Julian karena Fany tidak kunjung turun.
"Kau bisa sabar tidak?" Fany tidak mau kalah dengan Julian.
Thea dan Jennifer memutar kedua bola matanya malas melihat mereka yang tidak pernah akur.
Baru dua langkah menuruni tangga, Fany merentangkan kedua tangannya. "Halo Turki, aku telah tiba." Teriak Fany dengan kencangnya. Sudah menjadi kebiasaan untuk Fany berteriak, sepertinya dia memang tidak bisa diam. Tiada hari tanpa berteriak.
"Anak cabe, lama-lama aku lempar kau dari atas sini !" Sentak Julian kembali.
__ADS_1
"Kau tidak sabar sekali." Sinis Fany lalu kembali menuruni tangga. Mereka pun akhirnya melanjutksn perjalanan. Setelah keluar dari bandara, mereka segera mrnuju ke mobil jemputan untuk mereka.
Mereka menuju ke salah satu hotel bintang lima yang sudah di pesan. Mereka tinggal datang tidak perlu repot-repot mengurus segalanya, karena tentu saja anak buah Sean sudah mengurusnya.
Di sepanjang perjalanan, Fany melihat ke luar melalui kaca mobil. Ia memandang pemandanga kota turki.
Selang beberapa menit, mereka telah sampai di hotel yang sudah di pesan sebelumnya. Mereka pun segera turun dan melangkah masuk.
Mereka menuju kamar masing-masing, hanya dua kamar yang mereka sewa, tapi kedua kamar itu berukuran besar.
"Waahh.... Bahkan kamar ini lebih mewah dari rumahku." Celetuk Fany yang memandang sekeliling kamar tersebut.
la berlari menuju tempat tidur berukuran king size, Fany naik ke atas lalu melompat tidak karuan di sana.
"Uhuu... Ini menyenangkan, lebih empuk dari kasur di kamarku." ucapnya sambil melompat tinggi-tinggi.
"Jangan kekanak-kanakan, Fa." Tutur Jennifer di sana.
"Setelah ini kita akan kemana? Pasti menyenangkan jalan-jalan malam hari," ucapnya yang tidak melompat-lompat lagi.
"Apa kau tidak lelah?" Fany menggeleng cepat.
Sedangkan di sisi Julian dan kawan-kawan, mereka langsung saja merebahkan diri. Ada yang di kasur ada juga yang berada di sofa. Tidak ada yang heboh di antara mereka kali ini, mungkin mereka lelah.
"Aku lapar sekali," ucap salah satu di antara mereka.
"Kita akan kemana setelah ini?" Sahut dari mereka.
"Besok saja, kita simpan tenaga untuk besok jalan-jakan." Ujar Julian yang mengotak-atik ponselnya.
Kembali ke sisi Fany....
"Wait... Wait... Wait... Aku cari tempat yang enak di sini." Ucap Fany lalu membuka ponselnya. Ia mencoba searching dan mencari tempat yang ingin ia kunjungi.
"Waahh... Tuan putri, sepertinya ini sangat menyenangkan. Seperti festival balon udara," tunjuk Fany pada Jennifer. Jennifer pun menerima ponsel milik Fany lalu melihat-lihat destinasi apa saja di sana.
"Cappadocia? Sepertinya itu sangat menyenangkan," sahut Thea yang ikut melihat hasil searchingan Fany.
__ADS_1
"Tapi, kenapa jaraknya jauh sekali? Butuh waktu berjam-jam ke sana," keluh Fany yang melihat jarak tempuh dan lamanya perjalanan dari Istanbul menuju Cappadocia berkisar delapan jam lebih jika menggunakan transportasi darat.
"Emm... Lebih baik kita nikmati waktu dulu di sini, setelah itu kita ke sana. Dari sana kita langsung bisa pulang ke Berlin." Usul Jennifer.