Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 203


__ADS_3

Salah satu dari mereka celingukan ke kanan dan ke kiri, padahal sudah jelas-jelas jika Julian tidak ada. Mereka kehilangan sosok Julian saat ini, karena memang mereka selalu bersama-sama. Namun sekarang Julian tidak terlihat sama sekali.


"Jeeeen!" teriak Marcus melambaikan tangan saat melihat Jennifer. Jennifer menoleh dan menaikkan sebelah alisnya mendenga teriakan cukup kencang itu. Jennifer datang mendekat dengan muka datarnya.


"Jen, bisakah kau sedikit tersenyum? Jangan begitu, nanti kecantikanmu hilang," ujarnya sedikit menggoda Jennifer.


Sang kekasih hati itu pun melototkan matanya lebar-lebar, Marcus yang mendapat pelototan dan Gerald itu pun sedikit menciut. "Astaga, hanya bercanda saja. Kenapa kau seirus sekali? Aku tidak aka mengambilnya darimu, kau tenang saja."


"Dimana Julian?" tanyanya pada Jennifer.


"Apa dia tidak ada?" jawab Jennifer singkat.


"Kalau dia ada, aku tidak akan menanyakan padamu ," ucap Marcus yang memang ada benarnya.


"Dia sudah berangkat lebih awal tadi. Apa benar jika dia tidak ada?" tanya Jennifer. Karena memang Julian berangkat lebih dulu darinya. Marcus menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Jennifer.


"Tidak ada. Bahkan dia juga tidak masuk kelas," jawabnya.


Jennifer berfikir-fikir kemana dengan sang adik, jika ada sesuatu hal yang terjadi dia pasti akan mengatakannya. Di tambah lagi jika saat ini Robert jugda berada di sana, tidak mungkin jika ada sesuatu yang terjadi, batin Jennifer.


"Hiish... anak ini. Siap-siap saja kau di rumah nanti," ujar Jennifer dengan pelan.


Mereka tetpa berkumpul walau pun tanpa Julian, sedangkan Jennifer melangkahkan kkainya pergi ke perpustakaan mencari sesuatu yang ia cari.


Di waktu yang bersamaan, William's Company ...


Ting...


Terdengar suara notifikasi dari ponsel Sean, yang mana hal itu menunjukkan jika ada pesan masuk ke dalam ponselnya. Sean segera membuka pesan tersebut, siapa tahu jika itu dari Ana. Saat Sean melihat isi pesan tersebut, ia mengerutkan dahinya.


Sean menelisik apakah yang ia terima pesan itu tidak salah. "James apa putrimu pergi ke kampus?"

__ADS_1


James menoleh ke arah Sean. "Tentu saja, Tuan. Aku melihatnya sendiri jika dirinya menenteng tasnya yang biasa dia bawa ke kampus.


"Pergi dengan siapa?" tanya Sean lagi.


"Biasanya dia pergi sendiri, Tuan. Mau dengan siapa lagi?"


"Apa kau yakin?" Sean ingin memastikan.


"Tentu saja aku yakin, Tuan. Aku melihatnya sendiri, setelah sarapan dia bergegas pergi. Katanya hari ini ada ulangan," jawab James.


"Memangnya ada apa, Tuan? Tidak biasanya anda bertanya seperti itu," tanya James bingung. Karena tidak biasanya jika Sean menanyakan hal-hal seperti itu.


"Coba kau lihat ini." Sean menunjukkan pesan yang ia terima pada James. James pun melihatnya dengan kedua bola matanya dengan jeli.


"Eeehh... apa ini tidak salah, Tuan?" ucap James setelah melihatnya.


"Bagaimana menurutmu? Sepertinya, mereka sekongkol," ujar Sean.


Ada yang penasaran foto apa yang di maksud olah James? Foto yang di maksud adalah foto Fany dan Julian yang sedang berada di gerbang Brandenhurg. Sean mendapatkannya dari anak buahnya yang sedang mengawasi mereka berdua. Entah apa yang akan di lakukan oleh mereka berdua pada kedua orang itu.


Malam harinya...


Mension Sean...


Saat ini keluarga tersebut sedang melakukan makan malam bersama, tentu saja mereka mengajak Gerald untuk makan malam bersama.


"Kau menghabiskan hari ini kemana saja, Jul?" tanya Sean basa-basi.


"Tidak kemana-mana, hanya ke gerbang Brandenhurg." Jawabnya dnegan mengunyah makanannya. Ia begitu menikmati makan malamnya dengan hikmad. Bahkan dia sampai tidak menoleh ke arah sang papi karena menikmati makanan miliknya.


"Kau pergi ke sana dengan siapa? Dengan Fany?" sambung Sean. Julian hanya menganggukkan kepalanya dengan begitu saja, sepertinya dia tidak sadar jika sang papi tengah memancingnya. Yang lain hanya menyimaknya.

__ADS_1


"Kalian tidak ke kampus?" tanya Sean lagi. Julian kembali menganggukkan kepalanya begitu saja. Ana yang mendengar dan melihat hal itu memandang tajam pada Julian yang masih asik makan.


Sepersekian detik, Julian baru tersadar dengan apa yang di tanyakan dengan sang papi sedari tadi." Tidak-tidak. Papi dan Mami salah paham. Tadi Julian pergi ke sana setelah ke kampus," elaknya dengan cepat karena melihat tatapan horror Ana.


"Kau tahu sayang? Dia mengajak Fany keluar, padahal Fany saat itu ada ulangan. Tapi putramu ini sangat nakal sekali, sepertinya tidak sabar kalau menunggu setelah kuliah," sambung Sean.


Kali ini dia semakin membuat panas, mungkin dia balas dendam dengan tingkah Julian. Biasanya Julian yang selalu memanas-manasi Ana, sekarang kesempatan untuknya. Ana semakin menatap horror ke arah Julian.


"Papi... mengarang cerita itu tidak boleh," ujar Julian pada sang papi. Ia tidak mau jika nanti uang jajannya akan di potong oleh sang mami jika sang mami tahu dirinya tengah membolos.


"Papi tidak pernah mengarang cerita, kakakmu menjadi saksi dirimu tidak ada di kampus sedari tadi." Julian menatap ke arah Gerald dan Jennifer mengedipkan matanya agar tidak memberitahu pada mami dan papinya jika dirinya tidak datang ke kampus sejak tadi.


"Aku dan Jenni bahkan tidak melihatmu di kampus," jawab Gerald yang memang terkadang paling suka membuat suasana panas. Julian melototkan matanya ke arah Gerald, Gerald tidak memperdulikan plototan Julian ke arahnya.


"Lihatlah foto ini, sayang. Putramu memang benar-benar nakal." Sean memberikan ponselnya pada Ana, ia menunjukkan foto yang sempat di ambil oleh anak buahnya tadi. Julian di buat kalang kabut saat Sean memberikan ponselnya pada Ana, padahal dirinya saja tidak tahu foto yang seperti apa yang Sean tunjukkan pada Ana.


"Tidak, Mi. Julian pergi ke sana setelah jam kuliah," ucapnya dengan cepat.


"Lihatlah jam pengirimannya, sayang. Itu waktu jam perkuliahan." Ana melihatnya dengan jeli dari mulai gambar dan jam pengiriman. Sean seperti kompor meleduk saat ini. Suka sekali jika dirinya melihat Julian ternistakan.


"Uang jajan potong lima puluh persen selama satu bulan," ucap Ana dengan tegas. Julian semakin melebarkan matanya mendengar ucapan sang mami.


"Hah? Mami tidak salah? Itu hanya salah faham, Mi, jangan percaya pada mereka," ujarnya dengan sedikit kesal dan membenarkan dirinya.


"Tidak ada bantahan, Julian. Kau harus di hukum untuk ini, uang jajan potong. Kartu mami sita," ujar Ana lagi.


"Hah!" Pekiknya lagi. Gerald dan Jennifer hanya menahan tawanya melihat Julian.


"Mami jangan bercanda, itu tidak lucu, Mi."


"Mami tidak bercanda. Kalau kau ingin bolos kau bolos saja sendiri, jangan ajak anak orang. Tidak adan bantahan lagi, uang jajan Mami sita. Jika membantah motor kamu yang akan Mami sita sekalian." Ancam Ana yang membuat Julian mengurungkan niatnya untuk memprotes.

__ADS_1


__ADS_2