
Pesawat mendarat mulus di bandara Internasional Amerika. Sesuai dengan ucapannya, James mengajak Fany untuk datang ke Amerika. Papa dan anak itu hanya pergi berdua saja, Rika dan putra nya tidak ikut. James tidak mengajak Rika untuk ikut karena memang ia hanya sebentar, ia ke sana hanya untuk mengantarkan Fany.
Satu hari saja dia pasti sudah kembali ke Berlin. James ingin memastikan jika putrinya sampai di Amerika dengan selamat. Mereka bersiap untuk turun dari pesawat.
Entah kenapa James memilih menggunakan pesawat, padahal ia juga bisa kapan saja meminta bantuan anak buah Sean menggunakan jet pribadi keluarga William, atau pun dari mafia milik Sean. Barangkali James merasa tidak enak, belum apa-apa ia meminta tolong ini itu. Mereka sampai di Amerika waktu dini hari.
Ternyata ke datang mereka sudah di sambut oleh orang-orang Sean yang ada di sana. Mereka pun masuk ke dalam mobil. Mobil melaju ke arah rumah sakit dengan kecepatan sedang.
Ke duanya memutuskan untuk langsung datang ke rumah sakit. Dalam perjalanan hati Fany sudah merasa berdebar-debar, antara dia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Julian, atau dia berpikir lain. la menarik napas panjangnya untuk menetralisir rasa yang berdebar di hatinya.
Memakan waktu selama satu jam, akhirnya mereka sampai di rumah sakit megah itu. James meminta Fany berjalan di sampingnya, dengan penuh kasih sayang James merangkul pundak putrinya.
"Tenangkan hatimu, Fa. Kau jangan tegang. Kau hanya berkunjung, bukan menikah paksa dengan Julian," goda James. Ia melihat jika wajah Fany terlihat tegang saat ini.
"Siapa yang tegang. Papa saja yang salah lihat, aku biasa saja kok," elaknya menutupi rasa tegangnya. Entah kenapa dia merasa tiba-tiba tegang, seperti baru pertama kali untuk bertemu Julian.
"Kau tidak bisa berbohong pada Papamu ini, Fa. Papa tahu bagaimana perasaanmu saat ini. pasti dirimu merasa tidak tenang," ujar James yang memahami bagaimana sifat Fany.
"Tidak. Aku biasa saja." Fany masih mengelak dengan apa yang di ucapkan oleh James. Mungkin dia malu mengakui bagaimana perasaannya saat ini.
"Baiklah, baiklah. Papa percaya padamu." James memilih mengalah dari pada nanti Fany tidak mau berbicara lagi. Membuatnya kembali berbicara panjang lebar saja sudah membutuhkan usaha besar, bagaimana nanti kalau Fany kembali diam.
Mereka melanjutkan langkah di lorong-lorong. Tentu saja di sana sudah terlihat sepi, waktu sudah menunjukkan waktu dini hari. Pasti banyak pasien atau keluarga pasien yang juga beristirahat, hanya beberapa dokter dan perawat berlalu lalang yang bergantian jam kerja di sana.
Anak-anak buah Sean yang sedang berjaga di sana membungkuk hormat pada James dan Fany. Mereka mempersilahkan ke duanya untuk masuk. Ruang di sana cukup luas, keluarga Julian saja mungkin bisa semua di tampung di situ. Sean memnag tidak pernah sembarangan memilih tempat untuk kenyamanan anak-anak dan istrinya saat di sana. Ruang di sana tidak kalah dengan mension pribadi Sean.
Sean yang masih berjaga itu menoleh ke arah James dan Fany yang baru saja tiba. "Kalian tidak hotel terlebih dulu." Sean memang suka berbicara ke intinya.
James dan Fany sedikit menundukkan kepalanya pada Sean. "Tidak, Tuan. Kami langsung saja memutuskan untuk ke sini." "Bagaimana keadaannya, Uncle. Apa Julian baik-baik saja?" tanya Fany.
Sean menganggukkan kepalanya. "Kau tenang saja, Fa. Julian akan baik-baik saja, Dokter mengatakan kalau dia sudah stabil. Kita hanya menunggu dia tersadar dari tidurnya."
"Ke mana Robert?" Fany kembali bertanya karena tidak melihat Robert berada di sana. Hanya ada Ana dan Jennifer yang sudah tertidur.
"Gerald mengajaknya keluar, entah ke mana anak itu mengajaknya," jawab Sean.
"Kau beristirahatlah lebih dulu, Fa. Kau bisa istirahat di samping Jenni," pinta Sean padanya. James mengangguk ke arah Fany.
Fany memutuskan untuk beristirahat, badannya juga lelah setelah melakukan perjalanan jauh dan memakan waktu berjam-jam lamanya. Sementara James dan Sean, mereka membahas masalah kantor. Kalau mereka sudah bersatu, yang di bahas pasti mengenai
masalah bisnis atau kantornya.
Waktu sangat cepat berlalu, langit malam di Amerika sudah berganti dengan awan cerah dan cahaya matahari dengan terangnya. Awalnya Jennifer terkejut melihat Fany di sampingnya saat terbangun, untung saja kalau dirinya tidak sampai mendapat tendangan deri Jennifer. Mereka ber dua kali ini tidak membuat gaduh, karena Fany lagi dalam mode diam seiriu bahasa.
Mereka yang ada di sana melakukan sarapan secara bersamaan. Mereka sarapan dengan menggunakan sandwich dan juga grits. Grits sendiri makanan yang Jennifer suka saat di Amerika, grits merupakan bubur jagung yang di rebus di atasnya terdapat sosi dan udang. Rasa gurih yang pas membuat Jennifer sangat lahap memakannya.
"Kau harus mencoba ini, Fa. Kau pasti akan suka." Jennifer menawarkan makanan tersebut pada Fany. la tahu kalau Fany pasti tidak akan menolak makanan enak. Fany semua jenis makanan sangat doyan.
"Apa itu enak?" Fany sedikit penasaran di buatnya.
"Sangat-sangat enak. Kau cobalah." Jennifer menyodorkan mangkuk miliknya pada Fany.
Tanpa ragu Fany menyendoknya dan memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya. Di rasakannya sensasi gurih berpaduan dengan rasa jagung membuatnya membelalakkan ke dua matanya. "Ini sangat enak."
"Boleh aku memintanya lagi?" Fany ketagihan setelah mencobanya. Rasanya memang benar-benar enak di lidahnya.
__ADS_1
"Tidak boleh! Kau habiskan saja milikmu." Jennifer tidak memperbolehkan Fany memintanya lagi. Terkadang memang Jennifer juga bersikap jahil, dia memakan bubur miliknya dengan lahap tanpa mempedulikan Fany yang sedikit cemberut.
Usai sarapan mereka sibuk dengan gawainya masing-masing, mereka menunggu Julian. Siapa tahu jika Julian sadarkan diri, menurut dokter Julian akan sadar hari ini. Penuh harap mereka berada di sana.
Uhuuk ...
Uhukk...
Terdengar suara batuk dari arah Julian, Jennifer dan Fany terjingkat saat mendengarnya. Semoga saja Julian benar-benar sadar. Mereka mendekat ke brankar tempat Julian.
"Bukalah matamu, Boy," ujar Sean.
Terlihat Julian mengerjapkan ke dua matanya. Perlahan matanya terbuka, ia menatap ke langit-langit yang sangat asing di matanya.
"Kau bisa melihat Mami, Jul?" Ana terlihat sangat bahagia melihat putranya akhirnya membuka ke dua matanya. Julian mengangguk lemah di sana.
Suasana senang dan haru mengelilingi mereka saat ini. Fany juga terlihat sangat senang karena Julian akhirnya membuka ke dua matanya. Dokter datang ke ruangan Julian untuk memeriksa ke adaan Julian.
Julian tidak banyak bicara saat saat dokter memeriksanya. Dia masih penyesuaian diri.
"Tuan Muda Julian memang sangat kuat, dia bisa pulih dengan cepat," jelas dokter itu secara singkat
"Apa tidak ada yang bermasalah pada putra saya?" tanya Ana memastikan.
"Tidak, Nyonya. Semua kondisinya baik,"
"Saya sarankan untuk Tuan Muda tidak banyak gerak terlebih dahulu. Biarkan Tuan Muda kembali pulih sepenuhnya," sambungnya.
"Terima kasih untuk bantuannya, Dokter," ujar Ana di sana. Serasa cukup, dokter pun memutuskan untuk mengundurkan diri terlebih dahulu dari sana.
Baru saja dokter itu keluar, Julian memaksa untuk bangun dari tidurnya. Dirinya seperti orang yang tidak sakit, saat ini dirinya juga terlihat seperti biasa saja. Entah kenapa bisa secepat itu dia pulih.
"Aku ingin duduk, Pi. Rasanya lelah sekali aku bangun tidur," ucap Julian. Ternyata dia sama saja walau dalam keadaan sakit.
"Tapi kau tidak boleh banyak bergerak dulu, Jul," larang Ana.
"Jangan dengarkan dokter tadi. Aku tidak kenapa-kenapa." Dia memang benar-benar tidak berubah.
Akhirnya Julian duduk dengan bantal ia taruh di belakang punggungnya. Ia menggerakkan kepalanya seperti peregangan, tulang-tulang lehernya juga berbunyi. "Aaahh... akhirnya...."
Julian seperti merasa hidup kembali, ia seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Fany yang berada di sofa panjang bersama Jennifer itu memandang ke arah Julian sedari tadi. Julian pun melihat ke arah Fany yang tengah melihatnya.
"Siapa kau?" Julian membuka suaranya.
Semua yang ada di sana di buat terkejut dengan ucapan Julian. Mereka memandang ke arah Julian. Apa benar yang dikatakan oleh Julian? Apa dia tidak mengenali Fany?
Degh...
Fany yang mendengar lontaran kata dari Julian itu hatinya merasa tercubit. Sakit dan perih terasa di hatinya, bagaimana bisa Julian tidak mengenali dirinya.
"Apa kau tidak salah, Boy?" Sean juga terlihat bingung di buatnya. Kenapa dengan secara tiba-tiba Julian tidak mengenali Fany, pikirnya.
"Apa ada yang salah denganmu?" Sean masih ingin memastikannya. Julian menggelengkan kepalanya.
"Kau yang benar saja, Jul. Apa kau benar tidak mengenali Fany?" sahut Jennifer. Ia melihat ke arah Fany yang saat ini tengah menunduk.
__ADS_1
"Apa kau ingat siapa kami?" Ana kali ini bersuara. la
takut nanti jika Julian tidak mengenalinya.
"Tentu saja aku ingat. Mami, Papi, Jen." ." Tunjuk Julian satu-satu.
"Kalau kau berbohong aku pukul kepalamu!" Jennifer memberi ancaman pada Julian. Ia yakin kalau Julian pasti tengah berbohong saat ini. Mana mungkin dia tiba-tiba bisa lupa dengan Fany.
Setelah sarapan James langsung kembali ke Berlin, dia akan super sibuk kalau tidak ada Sean. Jika saja James di sana paling dia sudah berbicara tiada henti. Fany hanya diam menunduk menahan air matanya.
Dari pada menjadi perdebatan yang tidak ada hentinya, Sean memutuskan untuk memanggil dokter yang menangani Julian selama ini. Dia akan membuat perhitungan pada dokter tersebut. Dia mengatakan jika tidak ada yang salah pada Julian, dan kenapa justru melihat Julian tidak mengenali Fany.
Dokter pun datang kembali di sana. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Coba kau periksa lagi putraku. Kau mengatakan jika tidak ada yang salah padanya, dia baik-baik saja, kenapa dia tidak mengenali pujaan hatinya sendiri!"
Dokter itu pun juga terlihat bingung, padahal tadi jelas-jelas ia memeriksa Julian tidak ada yang salah. Semua sudah baik-baik saja tidak ada kurang. Ia memandang ke arah Julian untuk sejenak.
"Tapi, dari pemeriksaan saya tidak ada yang terjadi sesuatu pada Tuan Muda, Tuan. Semuanya baik." Dokter di sana ikut merasa ketar-ketir, apa benar dia salah dalam memeriksa Julian.
Dia sangat takut jika memang ada yang salah dalam pemeriksaannya. Yang dia hadapi saat ini pun bukan orang biasa. Dalam hatinya sedari tadi meringis. Kalau ada yang salah tamatlah sudah riwayatnya.
Dokter pun memutuskan untuk memeriksa Julian kembali. Kali ini dokter itu melakukan dengan benar-benar hati-hati. Jangan sampai dia salah mengatakan hasilnya, bisa-bisa dia akan kehilangan pekerjaannya selamanya.
Di saat dokter tengah memeriksanya, ternyata Robert dan keluarga dari Gerald datang mengunjungi. Para besan itu saling berpelukan dan menyapa ramah. Jennifer juga beranjak dari duduknya dan memberi salam hangat pada calon mertuanya.
Robert ikut berdiri di antara Gerald dan Jenifer. Dia menjadi pengganggu antara dua insan itu.
"Bukankah dia sudah sadar beberapa menit yang lalu, kenapa dokter baru memeriksanya? Tidak mungkin kalau dokter datang telat," ujar Robert.
"Entah, sepertinya ada yang salah dengannya. Dia tidak mengenali Fany." Robert terkejut membulatkan ke dua matanya mendengar penjelasan Jennifer.
"H-hah!? Bagaimana bisa!?" Robert sepertinya lupa di mana dia saat ini. Dengan sangat keras dia mengucapkan hal itu.
Bugh...
Kepalanya di pukul oleh Gerald dari arah belakang." Kecilkan suaramu."
Robert mengelus-elus kepalanya. "Sorry, reflek."
"B-bagaimana bisa dia tidak mengenali Fany? Seperti tidak mungkin sekali. Perasaan dia tertembak bagian punggungnya, kenapa dia mendadak amnesia seperti itu. Apa pelurunya berjalan ke kepalanya melalui aliran darah!" Robert mengucapkan hal konyol di sana. Bagaimana bisa peluru bisa terbawa melalui aliran darah.
"Dokter itu sudah pro di sini, tidak mungkin juga dia mengatakan hasil pemeriksaan yang salah," timbrung Gerald.
"Waahh aku curiga dengan adikmu itu? Sepertinya dia kembali berbuat ulah," sambung Robert mulai merasa curiga pada Julian.
Robert mendekat ke arah Julian, tidak peduli walau dokter tengah memeriksa keadaan Julian. yang penting dia tidak mengganggu proses pemeriksaan.
"Apa kau tahu siapa aku? Apa kau juga tahu siapa saja yang baru datang?" rentetan pertanyaan Robert berikan pada Julian. Sepertinya Robert kehilangan kesabaran saat ini.
Fany memilih untuk keluar tanpa berpamitan, langkahnya dangat lesu, menunjukkan sekali dia sedang merasa kecewa. Mereka terlalu fokus pada Julian, hingga akhirnya tidak memerhatikan Fany yang keluar tanpa bersuara.
Belum juga Julian menjawab, dokter sudah mengatakan menyelah mengatakan hasil yang ia dapat. Maaf, Tuan. Hasil pemeriksaan semua menunjukkan tidak ada yang salah pada Tuan Muda Julian. Semuanya sangat baik," jelas dokter itu lagi. Ia sampai melakukannya berulang-ulang karena takut kalau salah dalam membuat hasil.
"Kau tidak salah bukan? Kalau kau salah, kau akan kehilangan pekerjaanmu!" gertak Sean. Dokter itu pun semakin ketar-ketir di buatnya.
__ADS_1
"Saya sudah memeriksanya berkali-kali, Tuan. Hasilnya tidak ada yang salah." Rasanya ia ingin menjerit di sana. Baru kali ini dokter itu mengalami seperti ini, mana orang yang ia hadapi bukan sembarang orang.
Tuan Carlos yang bingung itu pun mengeluarkan suaranya bertanya apa yang sedang terjadi sebenarnya." Apa yang terjadi dengan putramu, Tuan William?"