
Julian tidak terpengaruh dengan ucapan itu, ia pasti tahu jika itu hanya akal bulus dari tawanannya untuk bisa lepas dari ikatannya. Saat ini dirinya tidak ingin terlalu membuang tenaga untuk menghajar orang-orang itu. Sendiri mereka. pun Julian sebenarnya bisa saja mengalahkan
"Bahkan kau juga bersama temanmu. Apa kau tidak bisa berhadapan dengan kami sendiri? Mana buktinya jika kau penguasa dari Eropa? Hahaha...." Gelak tawanya mengejek Julian.
"Lalu, bagaimana dengan kalian? Kalian juga datang secara bersamaan, bukan? Kalian justru berlima, siapa yang payah sebenarnya?" Julian bukanlah orang yang mudah terpancing emosi, ia selalu menanggapinya dengan santai dan sifat ketengilannya yang ia punya.
"Sepertinya kalian yang payah, bukan aku. Jangan mendeskripsikan diri kalian sendiri, aku saja malu mendengar ucapanmu itu," sambungnya dengan terlihat sangat santai. Padahal baru saja wajahnya tadi terlihat menakutkan.
"Lepaskan ikatanmu ini. Kalau kau berani memang berani, hadapi kami dengan tangan kosong," teriaknya lagi menantang Julian.
"Jangan menjadi pengecut dan hanya menggunakan senjata!" teriaknya lagi. Di saat yang lainnya terdiam menarik napasnya panjang-panjang. Jika yang lain was-was akan gilirannya, hanya dia sendiri yang berteriak menantang Julian.
"Waaahh... sepertinya ada yang menantangmu, Tuan Muda. Apa kau tidak mau bertarung dengannya?" ujar Robert pada Julian.
"Beri alasan yang tepat untuk aku melawan orang itu!" jawab Julian.
"Kenapa aku harus melawaannya? Saat ini aku tidak melakukan pertarungan, tapi aku memberikan mereka pelajaran pada orang yang sudah mengusik keluargaku. Kenapa aku harus bertarung dengannya? Membuang-buang tenagaku saja, heh." Julian tersenyum miring di sana.
"Apa kau pengecut!?" teriaknya lagi di sana. Julian dan Robert memandang orang itu bersamaan.
"Dia mencari mati ternyata." Robert terkikik melihat orang itu.
"Sebaiknya kita mulai saja." Julian tersenyum miring lalu kembali memakai penutup untuk menutup ke dua matanya.
Kali ini Julian menggunakan pistol miliknya sendiri. Julian mulai mengarahkan pistol itu lurus ke depan.
Door...
Dorr...
Dorr ...
__ADS_1
Dorr...
Tembakan dari Julian tidak ada yang meleset ke orang-orang itu, mereka masing-masing mendapatkan satu peluru dari Julian. Teriakan demi teriakan terdengar dari mereka-mereka yang terikat. Cairan merah kental itu bercucuran tanpa terhambat sedikitpun.
Satu sudah terlihat tidak berkutik, yang lainnya baru saja menerima giliran dari Julian. "Hah, cobalah. Sangat menyenangkan mendengar suara-suara mereka yang terdengar merdu."
Julian memberikan pistolnya pada Robert, dengan senang hati Robert menerimanya dan tersenyum miring." Bagaimana dengan keadaan di sekitar? Apa semuanya aman?"
Julian memilah-milah senjata yang lainnya, sedangkan Robert memfokuskan pandangannya untuk seegra membidik tawana-tawanan itu. "Semua aman terkendali. Untuk mension aku percaya jika Tuan Sean pasti sudah menjaga ketat di sana."
"Aku belum membicarakan ini pada Papi, tapi... dia pasti juga sudah tahu tanpa aku memberitahunya." Kali ini Julian memilih sebuah panah.
Door ...
Dorr ...
Robert melesatkan timah panas itu dengan cepat, mereka bisa dengan mudah memberi pelajaran pada tawanan karena mereka semua dalam kondisi terikat. Tidak bisa memberontak atau pun menghindar, ke dua anak itu juga tidak langsung menghilangkan nyawa dari para tawanan itu. Mereka sengaja dengan perlahan membuat tawanan itu kehilangan nyawanya.
Para tawanan itu kembali menerima rasa sakit dari peluruh yang baru saja melesat. "Waaahh... aku tidak pernah jika latihan seperti ini," ujar Robert.
"Telat! Anak panahnya sudah berada di tanganku," jawab Julian sedikit ngegas di sana.
"Kau tenang saja, semuanya aman," sambung Julian. Robert mencoba memberitahu Julian karena anak panah itu sempat di taburi racun oleh anak-anak buah Julian.
Julian mulai menarik anak panah itu dari busurnya, ia menyipitkan matanya sebelah. "Mana dulu yang kita bidik?" Julian mengarahkan panahnya ke kiri dan kanan memilih mana dulu yang akan ia bidik.
Syuutt...
Jleeb...
Anak panah itu melesat paling ujung kanan. Erangan darinya terdengar, rasa sakit dan panas sekujur tubuhnya menjadi satu. Ternyata racun yang di berikan anak buah Julian langsung bereaksi di sana.
__ADS_1
"Aaarkh...." la ingin berteriak lebih kencang, tetapi tenaganya tidak cukup untuk berteriak. Tubuhnya rasanya seperti terbakar, ia mengerang kesakitan.
"Waahh... ternyata racun itu memang t tidak main-main. Kita tidak perlu menunggu lama untuk menunggu hasilnya." Julian terlihat senang atas racun yang anak-anak buahnya racik sendiri. Mereka meracik racun itu sedemikian rupa dan memiliki efek yang langsung terlihat. Sangat cocok jika di gunakan untuk membasmi musuh dengan cepat.
Tawanan itu sedari tadi mengerang, semakin lama dia pun akhirnya mengejang. Jika saja dia tidak dalam keadaan terikat, mungkin orang itu sudah mengejang tidak karuan. Julian hanya menatap efek dari racun itu.
"Apa kalian sudah merekamnya?" tanya Julian pada anak buahnya.
"Sudah, Tuan Muda,"
"Kau kirmkan vidio itu pada pimpinan mereka. Apa yang akan dia lakukan setelah melihatnya." Julian tersenyum miring, ia sengaja memancing untuk pimpinan itu segera datang dan menyerangnya terlebih dulu. Karena itulah yang di tunggu oleh Julian.
"Baik, Tuan Muda." Mereka segera melaksanakan tugas yang di berikan oleh Julian.
"Waahh... apa aku ketinggalan sesuatu di sini?" ucap seseorang yang baru saja tiba di sana. Julian dan Robert menoleh ke arah sumber suara yang ia kenal.
"Kapan kau datang?" tanya Julian padanya.
Orang itu mendekat ke arah Julian dan Robert, ia juga tidak datang sendiri di sana. "Kau apakan mereka?"
"Aku hanya ingin berlatih dengan mereka. Apa kau mau ikut?" tawar Julian padanya.
"Apa kau tidak ada mainan lain yang bsia kau mainkan?" sahut orang satunya saat mendengar tawaran dari Julian.
"Mereka adalah mainan terbaik saat ini. Sekalian aku berlatih dengan mereka," jawab Julian dengan sangat enteng. Mainan yang di maksud oleh Julian adalah mainan yang berhubungan dengan nyawa. Mainan yang ia mainkan memang tidak main-main.
"Kenapa aku merasa mereka tidak asik sama sekali?" desisnya melihat para tawanan itu.
βLalu bagaimana menurutmu?" Julian menaikkan sebelah alisnya.
"Mereka terlalu cepat untuk kehilangan nyawanya, harusnya bertahan lebih lama lagi," jawabnya saat melihat dua orang tawanan sudah tidak menunjukkan pergerakan. Yang tiga masih bisa menahan rasa sakitnya, bahkan mereka juga masih bisa memberontak untuk bisa lepas dari ikatan tali itu.
__ADS_1
"Aku tidak suka dengan mainan yang cepat lenyap. Sangat membosankan," ungkapnya. Sepertinya jiwa-jiwa psikopatnya muncul.
"Jangan terlihat sadis di depan tunanganmu itu, Jen. Kau harus terlihat anggun, jangan seprti pembunuh berdarah dingin," ujar Julian yang tahu bagaimana orang yang dia maksud itu.