Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 286


__ADS_3

"Siapa kau? Apa kau mengenalku?" tanyanya sedikit angkuh.


"Siapa aku itu tidak penting, Nona. Tentu aku mengenalmu, kalau tidak, bagaimana bisa aku memanggilmu." Jennifer juga mengimbangi sifat angkuh dari Wendy.


"Ada keperluan apa kau denganku? Kalau tidak, sebaiknya kau minggir dari hadapanku." Dia benar-benar sangat angkuh, tidak ada ramahnya sama sekali.


"Tenanglah, Nona. Kau tidak perlu buru-buru, santai saja." Jennifer semakin mendekat ke arah Wendy.


Wendy mengerutkan keningnya saat Jennifer tepat di depannya. "Sebaiknya menjauhlah dariku? Siapa kau sebenarnya. Aku tidak mengenalmu, jangan sampai kau menyesali dirimu nanti."


Walau mendengar ancaman dari Wendy tidak ada rasa takut dari diri Jennifer. "Apa kau ingin tahu siapa aku? Biar aku bisikkan sesuatu padamu."


Jennifer semakin mendekat ke arah Wendy, ia berada tepat di samping Wendy dan membisikkan sesutu. Wendy sedikit terkejut dengan apa yang di bisikkan Jennifer padanya.


"Kau sudah tahu siapa aku, bukan? Sebaiknya kau buang semua harapanmu dan jauhi orang yang kau incar itu. Atau kau akan menyesal nanti?"


"Apa kau mengancamku!" pekik Wendy. Jennifer berbisik memberitahu Wendy jika dirinya adalah tunangan dari Gerald.


"Apa itu mengancammu? Aku tidak mengancammu, Nona. Aku hanya mengucapkan apa yang kau ucapkan tadi padaku." Dengan sangat santai Jennifer berkata seperti itu pada Wendy.


Wendy tersenyum remeh melihat keberanian Jennifer berhadapan dengannya. "Kau hanya tunangan darinya, Nona. Walau pun kau istrinya, aku akan tetap mengejarnya. Aku tidak peduli dengan posisimu sebagai apa."


"Apa kau tahu, Nona. Aku sudah menyukainya sejak lama. Dan bagaimana pun itu dia harus berad di tanganku. Hanya aku yang boleh mendapatkannya," sambung Wendy.


"Kau bod*h atau bagaimana, Nona. Harusnya kau bisa membedakan antar obsesi dan suka," ejek Jennifer.


"Apa yang kau katakan!" Wendy tidak terima karena Jennifer mengatainya bod*h.


"Turunkan nada bicaramu, Nona. Aku bisa mendengar suaramu tanpa kau harus meninggikan suaramu." Jennifer ternyata bisa menyamai sikap adiknya yang terlewat tengil.


"Aku melihat penampilanmu semua yang kau pakai adalah barang mahal dan branded. Sebaiknya kau juga harus memiliki sikap seharga dengan barang-barang yang kau gunakan, Nona. Jangan sampai sikapmu itu di bawah harga barang-barangmu yang kau kenakan itu." Jennifer menyindir secara halus di sana.


"Beraninya kau menghinaku!" Wendy yang tahu maksud dari Jennifer itu pun tersulut emosi. Tangannya ia angkat ingin menampar wajah Jennifer, sayangnya Jennifer dengan cepat menangkap tangan Wendy.


"Aku tidak menghinamu, Nona. Aku hanya memberitahumu, jangan sampai sikapmu itu di bawah harga barang-barang yang kau kenakan. Wanita berkelas pasti akan paham." Jennifer melepaskan tangan Wendy sedikit kasar.


"Ingat kataku, Nona. Berhati-hatilah. Hilangkan rasa obsesimu itu, jangan sampai kau menyesalinya." Jennifer menepuk pelan pipi Wendy di sana. Dengan mengedipkan sebelah matanya Jennifer berlalu pergi dari hadapan Wendy.


Itu hanya peringatan ringan dari Jennifer. Wendy mengusap kasar pipinya, dia sangat emosi dan kesal.


"Dasar wanita tidak tahu diri! Awas saja kau, akan aku buat menyesal!" siapa yang sebenarnya tidak tahu diri di sana. Wendy pun berlalu pergi dengan perasaan menyimpan dendam pada Jennifer.


"Hah! Siapa sebenarnya wanita itu. berani-beraninya mengataiku murah*an dan mengancamku!" Wendy terlihat uring-uringan setelah mendapat ancaman dari Jennifer.


"Kau baru tunangannya, Nona. Aku pastikan kalau akulah nanti yang akan menjadi Nyonya Dusten Carlos." Wendy mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia membuat perhitungan pada Jennifer yang baru saja mengatainya.


Seketika wajahnya kembali berbinar saat melihat Gerald tengah melintas dan berbicara dengan teman sekelasnya. "Aku sudah jauh-jauh datang ke sini. kau harus menjadi milikku, Baby...."


Wendy mendekat ke arah Gerald. Pas sekali saat Wendy datang menghampiri teman Gerald itu pergi ke lain arah. "Hay, Baby...."


Nada suaranya ia buat semanja mungkin. Dia berpikir jika dengan begitu Gerald akan luluh dengannya begitu saja, padahal tidak sama sekali. Gerald memandangnya saja tidak, bagaimana bisa Gerald akan luluh dengannya.


Tangannya meraih lengan Gerald berniat untuk bergelayut manja. Memang tidak ada malunya dia di sana. Gerald menepis kasar tangan Wendy.


"Jauhkan tanganmu dariku!" tatapan tajamnya ia arahkan ke arah Wendy.


"Kenapa kau selalu menolakku, Baby? Apa kurangnya aku. Aku tidak kalah cantik dari orang lain, aku juga memiliki kekayaan yang sebanding denganmu. Mereka atau kekasihmu itu juga tidak pantas bersamamu ." Kalau orang sudah terobsesi, begitulah dia. Hati dan matanya pasti akan tertutup.


"Lalu? Apa kau juga pantas bersamaku? Tidak!" tegas Gerald.


"Memangnya apa yang bisa kekasihmu berikan padamu? Apa dia sudah menyerahkan semua tubuhnya. Kalau itu, aku juga bisa memberinya lebih padamu." Ucapan Wendy sungguh frontal di sana.


Gerald yang mendengarnya itu pun mengeraskan rahangnya, susah payah dia menjaga Jennifer bagaimana bisa dia dengan mudah berbuat yang tidak-tidak. Walau dia terlahir di negara dengan terkenal akan kebebasannya, Gerald tetap menjaga batasan. Dia bisa menghargai bagaimana seorang wanita.


"Dia tidak sepertimu yang bisa dengan suka rela menjatuhkan harga dirinya, Nona. Jika kau di bandingkan dengannya, kau tidak ada apa-apanya," celetuk Gerald. Kalau saja bukan di kampus, mungkin Gerald sudah menutup mulut Wendy agar tidak berucap sembarangan.


"Kau jangan terlalu bod*h, Gerald. Bisa saja dia sudah melakukannya berkali-kali dengan pria lain. Dia hanya menginginkan hartamu." Wendy sama saja dengan menggali lubang untuknya sendiri.


Gerald semakin di buat emosi dengan Wendy, Gerald masih mencoba untuk mengontrol emosinya agar tidak lepas di sana. Kalau saja itu Julian yang di hadapi, mungkin tanpa basa-basi Julian ;angsung menutup mulut wendy.


"Sepertinya kau sedang mendeskripsikan dirimu sendiri, Nona," ucap Gerald yang membuat Wendy sedikit gugup.


"Tentu saja, tidak, Baby. Mana mungkin aku melakukan itu." Wendy ingin meraih kembali lengan Gerald.


"Hai, Babe." Belum juga Wendy menggait tangan Gerald, Jennifer datang menyerobot dan menggait tangannya pada lengan Gerald.


Gerald menunjukkan senyumnya pada Jennifer. Wendy kembali kesal tiba-tiba Jennifer berada di sana, ia juga kesal karena Gerald tidak pernah menunjukkan senyum seperti itu padanya.


"Siapa dia? Apa dia temanmu?" Jennifer pura-pura tidak mengenal Wendy, bahkan wajah Jennifer terlihat sangat polos seperti tidak tahu apa-apa. Padahal dirinya baru saja menemui Wendy dan memberi peringatan.


"Emm... dia teman sekelasku dulu sebelum aku pindah ke sini," jelas Gerald. Namun ekspresi Gerald menunjukkan tidak suka di sana.

__ADS_1


"Aaahh... hanya teman ternyata. Kenalkan, Nona. Aku adalah tunangannya." Jennifer memperkenalkan dirinya dan menyodorkan tangannya mengajak Wendy untuk berjabat tangan.


Wendy terlihat sangat ogah sebenarnya, tetapi di depan Gerald dia mencoba bersikap sedikit baik. Jennifer menekan kuat tangan Wendy hingga dirinya meringis.


"Salam, Nona." Jennifer semakin kuat mencengkram tangan Wendy dengan wajahnya mengembangkan senyum lebar. Wendy menahan rasa


sakitnya dengan tersenyum paksa di sana. Akhirnya Jennifer melepaskan tangannya di sana, Wendy hanya bisa mendumel dalam hatinya.


"Kau beruntung sekali memiliki tunangan sepertinya, Nona. Tapi, kau sangat tidak cocok bersanding dengannya. Kau harus sepadan dengannya." Wendy ingin membalas dendam pada Jennifer. Ia juga mencoba merendahkan Jennifer, dia tidak tahu siapa Jennifer sebenarnya. Gerald kembali terpancing emosi karena ucapan Wendy.


Gerald ingin sekali memarahi Wendy, tetapi Jennifer sudah mendahuluinya. "Tentu aku sangat beruntung menjadi tunangannya, Nona. Banyak sekali wanita berkelas sepertimu itu iri denganku yang hanya orang biasa ini, Nona." Jennifer memberikan sindiran balik pada Wendy. Wajahnya menunjukkan seperti tidak berdosa sama sekali.


"Mereka tidak iri, Nona. Tapi mereka mengejar apa yang menurutnya bahagianya," ucap Wendy.


"Aahh... begitukah ternyata? Tapi setauhuku, itu adalah ciri-ciri yang wanita yang tidak laku, karena mereka menjatuhkan pilihannya pada pasangan orang lain." Wendy semakin tersinggung dengan ucapan Jennifer.


Sedari tadi Jennifer mengatainya tanpa henti, yang pertama kata murah*n dan sekarang Jennifer menyinggungnya tidak laku. "Tarik ucapanmu itu, Nona!"


"Ada apa dengan ucapanku, Nona? Itu menurut pandanganku, kalau kau memiliki asumsi sendiri, silahkan." Jennifer bersikap sangat snatai. Bahkan Gerald tidak menyelah ucapan Jennifer di sana. Sepertinya Wendy tidak bisa membalas lagi ucapan Jennifer.


"Semoga harimu menyenangkan, Nona." Jennifer berlalu pergi bersama Gerald meninggalkan Wendy di sana sendiri.


"Haaah... awaas kau. Lihat saja nanti, apa kau masih bisa berucap seperti tadi!" Wendy uring-uringan sendiri di sana.


"Jen ke mana? Kenapa tiba-tiba dia tidak ada?" Thea celingukan mencari Jennifer yang tiba-tiba menghilang.


"Apa dia tidak memberitahumu?" ujar Fany.


"Tidak. Tadi dia pergi begitu saja tanpa berbicara padaku,"


Sedari tadi mereka berdua mencari keberadaan Jennifer, tetapi tidak ada jejak dari Jennifer sama sekali. Bahkan nomor ponselnya juga tidak aktif.


"Siapa yang sedang kau cari?" secara tiba-tiba dia datang dan merangkul pundak Fany begitu saja dengan kuat. Fany sedikit terhuyung di buatnya, untung saja dia tidak jatuh.


"Hiish. ... kau ini kenapa!" sengal Fany kesal di buatnya. Tiada hari tanpa ribut di antara ke duanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Julian.


Fany kesal bukan karena Julian tiba-tiba merangkulnya, tetapi karena dirinya hampir terhuyung di buatnya. Fany menyingirkan tangan Julian dari pundaknya.


"Kenapa kau suka sekali marah-marah?" Julian tidak merasa bersalah sama sekali di sana. Sudah jelas-jelas Fany marah karena dirinya yang tidak ada kalem-kalemnya.


"Jangan banyak tanya!" sengal Fany kembali.


"Sudah aku katakan padamu waktu tiu, bukan. Kau tidak perlu merasa bersalah, meski pun dia hidup ke dua kalinya sikapnya juga sama saja seperti ini." Julian harus banyak-banyak sabar jika begini, Fany tidak pernah membelanya, justru Fany ikut andil. Fany memang seperti memiliki dendam pribadi terhadap Julian.


"Kalau aku berubah, dunia akan sepi. Mungkin dunia akan menjadi putih abu-abu,"


"Justru kalau kau berubah duniaku menjadi lebih bewarna!" ujar Thea.


"Duniamu memang berwarna, tapi akan sepi jika tidak ada kehadiranku." Julian mengatakannya dengan penuh percaya diri sekali.


"Fe, kau tidak salah kan dengannya? Semoga saja nanti kau tetap waras menghadapinya." Thea sudah tidak sanggup lagi mendengar ocehan-ocehan Julian yang nyeleneh. Memang hanya dia teman satu-satunya yang sangat narsis dan penuh percaya diri.


"Memangnya apa yang aku lakukan?" protes Julian.


"Sudahlah, lebih baik kau pergi sana. Teman-temanmu sedang mencarimu." Thea menyeret tangan Fany begitu saja. Berurusan dengan Julian akan membuatnya pusing sendiri.


Malam terasa begitu tenang, semua orang memutuskan untuk beristirahat dari lelahnya aktifitas sehari-hari. Malam ini Jennifer bermain di markas, ia tengah melempar belati ke sembarang arah.


Syutt...


Jleb...


"Astaga!" pekik orang itu kaget saat belati itu menyerempet pada dirinya. Ia kaget saat tiba-tiba belati itu meluncur mulus di depan matanya. Untung saja belati itu tidak mengenainya, belati itu menancap di salah satu furniture yang terbuat dari kayu.


"Kenapa kau tidak bermain di ruang berlatih saja? Untung saja mainanmu itu tidak mengenaiku. Kalau mengenaiku bagaimana dengan wajahku yang tampan ini?" masih sempat-sempatnya dia narsis seperti itu. Siapa lagi kalau bukan Julian, dia siang malam berada di markasnya. Kali ini kedatangan Jennifer.


Jennifer memutar ke dua matanya malas. "Kau alay sekali," sinis Jennifer pada Julian.


Lagian, dia juga, kenapa harus melempar belati itu ke sembarang arah. Untung saja dia memiliki keahlian, kaalu tidak, pasti belati itu sudah menggores sang adik.


"Lagian kau juga. Di sini sudah ada tempat berlatih," celetuk Julian.


"Kalau kau kesal kenapa tidak kau lempar saja belati itu ke orangnya. Biar sekalian kau puas," sambungnya lagi.


"Bagaimana dengan wanita itu? Kau sudah memberinya pelajaran?" Jennifer hanya menanggapinya dengan gelengan kepala.


"Kenapa juga kau belum memberinya pelajaran? Hanguskan saja. Parasit harus di singkirkan secepatnya sebelum terlambat." Julian terlihat menggebu-nggebu dari pada Jennifer.


"Aku masih pemanasan. Selagi dia tidak menyentuh milikku, dia masih aman," ujar Jennifer singkat.


"Aku ingin segera melihat pertunjukan darimu." Sepertinya akan ada sesuatu yang akan terjadi nanti. Entah apa pun itu, hanya Jennifer yang tahu bagaimana nantinya.

__ADS_1


"Heh, kalau mau hasil yang perfect tidak perlu terburu-buru." Jennifer tersenyum miring di sana.


"Baiklah, Paduka Ratu. Buat saja buatlah sesuka hatimu."


"Aku akan pulang dan beberes. Aku besok akan ke Swiss." Jennifer beranjak dari duduknya. Julian yang mendengar itu melototkan ke dua matanya lebar-lebar.


"Ke Swiss? Kenapa kau tidak mengajakku? Kau parah sekali?" Julian mendumel di depan Jennifer karena dia tidak di ajak sebelumnya.


Dulu jennifer berjanji akan pergi ke Swiss mengunjungi grandma dan grandpanya, tetapi tidak jadi. belum lagi waktu itu juga Julian tertembak dan harus menjalani perawatan di Amerika.


"Tidak perlu. Kau nanti hanya merusuh di sana." Jennifer berlalu begitu saja tanpa memperdulikan ocehan Julian di sana.


"Ohh tidak bisa, tidak bisa. Aku akan ikut nanti, enak saja aku di tinggal," ujarnya sendiri di saat Jennifer sudah tidak terlihat di sana.


"Kemari." Julian memanggil salah satu anak buahnya yang melintas..


Anak buahnya itu pun mendekat ke arah Julian. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?"


"Carikan aku dua tiket untuk ke Swiss besok. Tidak ada bantahan, pokoknya besok!" belum juga anak buahnya bersuara, ucapannya sudah tidak bisa di tolak.


"Baiklah, Tuan Muda." Mau tidak mau anak buahnya mengiyakan begitu saja. Ia pun berlalu pergi dari Julian. Padahal masa hukumannya saja belum selesai, bagaimana nanti dia akan pergi begitu saja. Namun walau begitu Julian tetap santai, masih banyak anak buahnya yang lain. Kartu di sita tidak membuat hambatan untuk Julian berkelana ke mana saja.


Ke esokan paginya...


Bandara ...


"Tunggu ...!" teriaknya dengan kencang.


Jennifer dan Gerald yang ingin berada di ambang pintu itu pun menoleh ke arah sumber suara yang sangat dia kenal. Terlihat Julian tengah terburu-buru mengejar Jennifer, tentu saja dia pasti akan mengajak Fany pergi.


"Bagaimana bisa kau tiba-tiba di sini?" sudah Jennifer kira jika Julian tidak akan tinggal diam di rumah. Apa pun caranya pasti sang adik itu akan ikut dengannya.


"Tentu saja aku naik mobil." Jawaban yang sungguh mengesalkan.


"Di mana barangmu, Fe?" tanya Jennifer melihat Fany datang hanya membawa tas selempang kecilnya.


"Kau tanyakan saja pada adikmu. Dia datang tiba-tiba dan menyeretku begitu saja. Mana sempat aku membawa barangku." Fany kesal karena tidak ada pemberitahuan dari Julian sebelumnya. Julian datang secara mendadak dan mengajaknya begitu pergi saja, untung kalau dirinya sudah selesai membersihkan diri.


"Tidak perlu. Nanti beli saja di sana. Sudah ayo cepatlah!" siapa yang mempunyai rencana dan siapa juga yang paling menggebu-nggebu di sana.


Akhirnya mereka masuk dan pengecekan data sebelum berangkat. Sebentar lagi adalah jadwal keberangkatan mereka, tidak ada lagi waktu untuk berdebat.


Wendy duduk di bangkunya dan memerhatikan dosen yang tengah mengajar di kelasnya. Selama pindah ke Berlin, Wendy sangat rajin untuk memasuki jam kuliah. Pasti alasannya dia karena ingin bertemu dan mendekati Gerald.


Dia jauh-jauh dari Amerika pindah ke Berlin hanya ingin mendekati Gerald. la duduk dengan kaki menyilang dan tegap. Berselang beberapa menit kemudian, jam kuliah itu telah usai.


Wendy dengan cepat keluar dari kelasnya. Ia berjalan seorang diri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri berharap jika menemukan orang ia cari. Banyak dari mereka yang juga menatap takjub kecantikan dari Wendy.


"Tunggu. Apa kau melihat Gerald?" tanyanya pada salah satu mahasiswi yang melintas di depannya. Mahasiswi itu menggeleng begitu saja, tidak semua orang mengenal Gerald, tetapi dengan begitu bod*hnya dia bertanya seperti itu pada mahasiswi lainnya.


Wendy kembali bertanya pada yang lainnya. Mereka menggelengkan kepalanya dan berlalu begitu saja. Berkali-kali dirinya bertanya orang-rang di sana, tetapi hasilnya tetap nihil.


"Aaahh... ke mana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?" Wendy merasa geram sendiri karena tidak menemukan Gerald yang ia cari sedari tadi. Tentu saja dia tidak akan menemukan Gerald, Gerald pergi berlibur bersaa dengan Jennifer.


"Apa dia bersama tunangannya itu? Aku akan mencarinya walau ke lubang semut." Wendy pun memutuskan kembali mencari Gerald. Wendy menebak kalau saat ini pasti Gerald bersama dengan Jennifer.


"Tunggu-tungg, apa kau tau di mana tunangan Gerald sekarang?" Wendy mencegah setiap orang yang berlalu di sana.


"Siapa yang kau cari, Nona? Di sini banyak nama, bagaimana bisa kami tahu siapa yang kau maksud itu," jawab sala satu dari mereka.


Konyol sekali jika dirinya bertanya seperti itu pada orang-orang di sana, tentu saja mereka tidak akan tahu jawabannya. Apa dia mengira jika kampus itu terlihat seperti lingkungan rumah? Padahal kampus itu sangat besar, tentu banyak nama dan tidak semua orang saling mengenal.


Wendy tidak tahu nama Jennifer, jadi begitulah hasilnya, dia di buat kesal sendiri dengan tingkahnya sendiri. Dia tidak mencari tahu sebelumnya.


"Ya sudah kau pergi sana. Bod*h sekali, begitu saja tidak tahu!" Wendy mengejek orang tersebut.


"Apa maksudmu, Nona. Kau saja bertanya tidak jelas,


dan mengataiku bod*h! Kalau kau tahu dia, kenapa kau harus bertanya padaku? Siapa sebenarnya di sini yang bod *h? Aku atau dirimu!" orang itu mengomel tanpa henti karena tidak terima di katai seperti itu oleh Wendy.


"Kau memang bod*h, begitu saja kau tidak tahu!" Wendy kembali mengejek orang itu. Padahal dirinya sendiri saja tidak tahu.


Plak...


Orang tiu menampar Wendy dengan tiba-tiba." Hati-hati dengan ucapanmu, Nona. Kalau kau memang tahu orang itu kenapa kau harus bertanya padaku! Apa kau tidak melihat kampus di sini besar dan banyak orang? Tidak semua orang saling mengenal!"


"Dirinya sendiri bod*h tapi menghina orang lain! Dasar tidak tahu diri!" orang itu pun pergi berlalu begitu saja dari pada harus terpancing emosi hanya gara-gara Wendy.


"Haahh...." Wendy sangat kesal itu mengusap wajahnya kasar.


Memang aneh sekali dia, tiba-tiba bertanya seperti itu. Tentu saja orang-orang di sana tidak memberinya jawaban yang di inginkan. Dengan uring-uringan dirinya melanjutkan langkah kakinya pergi.

__ADS_1


__ADS_2