
"Diva tunggu di sini saj, ya. Jaga adiknya dulu, aunty masuk dulu." Ucap Ana pada Diva. Ia meletakkan Julian yang tertidur di kursi mobil. Ana selalu membawa kantung tidur kecil kemana-mana.
"Oke aunty. Tapi belikan Diva ice cream ya."
"Ice cream di mension kan banyak, Diva."
"Ya kan beda aunty. Yang ini kan beli." Jawab Diva sambil nyengir kuda.
Ana mencebikkan bibirnya mendengar jawaban dari Diva. Padahal di mension berbagai macam ice cream ada. Tapi, dirinya masih ingin membeli ice cream dari luar.
Ana segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket itu. Ana berjalan berkeliling mencari sesuatu yang ia cari.
Ana mencari beberapa cemilan sehat untuk dirinya dan Twin J, akhirnya dirinya menemukan biscuit yang cocok untuk Twin J.
Ana segera mengambilnya dan mencari yang lain. Tanpa berlama-lama Ana segera ke kasir untuk membayar, tidak lupa ice cream untuk Diva yang ia pesan tadi.
Ana segera membayar dan kembali ke mobil sebelum Julian bangun. Karena Ana tidak melihat, dirinya menabrak seseorang dengan cukup kerasnya.
Semua barang belanjaan miliknya jatuh ke lantai.
Bruugh...
"Aduuh... maaf, maaf. Aku tidak sengaja." Ucap Ana sambil memunguti semua barang belanjaannya.
Orang tersebut mengkerutkan keningnya setelah mendengar suara yang sangat ia kenal. Ia memandang Ana yang masih tertunduk memasukkan semua belanjaannya.
"Anara..." ucap orang tersebut.
Ana pun mendongakkan kepalanya setelah namanya di sebut oleh seseorang tersebut.
Ana membuka matanya lebar-lebar setelah melihat siapa yang habis ia tabrak tadi.
"Andi..." gumam Ana pelan.
Yaps... orang yang habis di tabrak Ana itu adalah Andy. Mantan kekasihnya, sekaligus kekasih dari kakak sepupunya. Tapi entah sekarang, ia masih berhubungan dengan Lita atau sudah tidak.
Ana langsung terburu-buru memasukkan semua barangnya yang terjatuh dan melangkahkan kakinya keluar dari supermarket itu.
Belum juga Ana sampai membuka pintu, tangannya di cekal oleh Andy.
"Tunggu, Ana. Kenapa kau buru-buru sekali?" Tanyanya pada Ana. Tangannya masih mencekal tangan Ana.
"Maaf, aku terburu-buru, Andy. Jangan ganggu aku lagi." Ucap Ana dengan sopan.
"Kenapa kau buru-buru sekali, hmm? Apa kau takut padaku?" Andy menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak, buat apa aku takut padamu. Aku masih ada hal penting yang harus aku urus." Jawab Ana mencoba cekalan Andy.
__ADS_1
Cekalan tersebut terlepas, Ana segera membukakan pintu lalu berjalan keluar. Andy mengejar Ana yang berjalan keluar. Ia kembali mencekal tangan Ana saat di luar.
"Kenapa kau buru-buru sekali, Ana? Apa kau tidak merindukanku?" Tanya Andy dengan pede-nya.
"Lepaskan, Andy. Aku mau pulang." Ana melepaskan cekalan Andy dengan sangat kasar.
Ana segera berlari kearah mobil yang ia tumpangi tadi.
"Ana... Ana..." teriak Andy dengan keras. Orang-orang yang ada di sana menoleh kearah Alex yang berteriak.
"Aaarrggh..." Andy mengusap wajahnya kasar karena tidak berhasil mengejar Ana.
la pun kembali masuk ke dalam supermarket untuk mencari sesuatu yang ia butuhkan. Aktifitas mereka sedari tadi di awasi oleh salah satu anak buah Sean yang menyebar. Anak buah Sean itu pun melaporkan hal itu pada sang bossnya.
Ana tidak tahu saja jika dirinya sedari tadi di pantau oleh anak buah Sean, karena memang anak buah Sean memakai baju biasa. Bukan baju serba hitamnya yang biasa Ana lihat. Jadi, Ana tidak tahu akan hal itu jika dirinya sedari tadi di awasi.
Ana bernafas lega karena berhasil lepas dari cekalan Andy
"Ini ice creamnya Diva." Ujar Ana memberikan ice
itu pada Diva.
"Terima kasih aunty..." jawab Diva dengan senangnya.
Mobil pun berjalan kearah mension setelah Ana masuk kedalam.
Ana tidak ambil pusing untuk tadi, selagi dirinya tidak di ganggu atau di usik oleh Andy.
Sean bersandar di kursi kebesarannya setelah mendapat kabar dari anak buahnya mengenai Ana yang tidak sengaja bertemu dengan Andy.
"James, kau selidiki semua tentang mantan kekasih Ana." Perintah Sean.
"Buat apa, tuan?" Tanya James penasaran.
"Sejak kapan kau bertanya seperti itu?" Sean menaikkan alisnya sebelah.
"Eeehh... maaf tuan." Ucap James.
"Cari semua seluk beluknya tanpa tersisa." Perintah Sean lagi. James pun segera melaksanakan sesuai perintah Sean.
Setelah kepergian James, Sean kembali bersandar di kursi sambil menerawang jauh. Entah apa yang dia pikirkan kali ini.
Sepertinya berfikir sesuatu. Tapi entah apa itu.
Sean yang tidak mau ambil pusing pun melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
Kembali ke mension Sean...
__ADS_1
Ana sudah tiba di mension bersama Diva. Ana melangkahkan kakinya masuk. Ia mendengar suara Jennifer yang sedang menangis. Entah kenapa tidak biasanya.
"Ada apa, mi?" Tanya Ana mendekat.
"Dia kebangun, mungkin dia tadi terkejut." Terang sang mami.
Julian masih tertidur lelap sedari tadi. Ana mencoba meletakkan Julian di box miliknya dan berganti menggendong Jennifer yang sedang menangis.
"Sini, mi. Biar Ana beri asi dulu, mungkin dia merasa haus." Ana mengambil alih Jennifer yang menangis.
Ana memberikan asi pada Jennifer, seketika tangisannya terhenti. Benar saja, mungkin dia merasakan haus.
"Diva ganti baju dulu, ya. Nanti main sama adiknya." Ujar mami Sean. tanpa berlama-lama, Diva menuju ke kamarnya dan berganti dengan baju santainya.
"Ini anak mami kenapa nangis, hmm? Tidak biasanya kakak menangis." Jennifer hanya diam dan tangannya terangkat keatas. Ana menangkap tangan mungil itu, ia merasa gemmas dengan anak-anaknya yang sudah mulai tumbuh besar itu.
Jennifer yang sudah cukup meminum asi itupun berceloteh lucu. Dia tidak tertidur kembali, justru dia mengajak bermain orang-orang di sana.
"Nataliiii.... Ini kakak... mau coklat?" Teriak Diva sambil menyodorkan coklat yang ia bawa.
Ana meletakkan Jennifer di atas karpet bulunya agar Jennifer bisa leluasa untuk bermain.
"Adiknya belum boleh makan itu, Diva. Nanti perutnya bisa sakit." Tegur mami Sean. Diva hanya bisa nyengir kuda.
Diva memakan coklatnya sampai habis terlebih dahulu, setelah itu ia bermain dengan Jennifer yang sudah terbangun lebih dulu. Julian masih tertidur dengan nyenyaknya tanpa terusik.
Diva memberikan mainan squisi pada Jennifer untuknya bermain. Jennifer menerimanya dan memainkannya.
"Hiiihhh..." ucap Diva gemmas pada Jennifer. Kedua tangannya rasanya ingin mencubit pipi gembul Jennifer.
"Kau kenapa, Diva?" Tanya Ana melihat tingkah Diva yang merasa gemmas pada Jennifer.
"Diva gemmas sekali aunty. Ingin aku gigit pipinya." Jawab Diva.
"Kenapa kau lucu sekali sih." Ujar Diva sambil menggelitik perut Jennifer dengan hidungnya.
Jennifer tertawa dengan renyah karena merasa geli. Diva tertular tawa Jennifer, ia pun di buat tertawa tanpa henti.
Diva mengulanginya berkali-kali tapi Jennifer tetap merasakan geli.
Hingga pada akhirnya...
Bruuth...
Diva seketika mendongakkan kepalanya dan menutup kedua lubang hidungnya.
"Astaga.... Bauuu..." pekik Diva karena mendapat gas beracun dari Jennifer.
__ADS_1
Mami Sean dan Ana tertawa terbahak-bahak karena tiba-tiba saja Diva mendapat hadiah yang sangat bagus dari Jennifer.