Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 80


__ADS_3

Sean terus saja melajukan mobilnya, ia membawa mobilnya ke jalan yang berbeda. Sean mencari jalan yang sepi dari keramaian.


Saat di jalan yang cukup sepi, Sean memberhentikan mobilnya. Mobil yang mengikutinya pun iku berhenti di sana.


Sean segera keluar dan berdiri di depan mobilnya dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Posisi mobil Sean tepat di tengah-tengah jalan dan menghalangi jalan di sana.


"Sial... sepertinya dia menjebakku di sini." Ucap Leon di dalam mobilnya.


"Aku tau kau sedang mengikutiku, keluarlah." Ucap Sean dengan santainya.


Mau tidak mau Leon keluar dari mobilnya, dia sudah terlanjur mencebur ke dalam kolam.


Sean tersenyum remeh siapa yang sudah mengikutinya sedari tadi, ternyata musuh bebuyutannya.


"Nyalimu cukup besar juga sampai mengikutiku. Apa kau lupa di mana dirimu berada sekarang?" Sean mencoba memancing emosi Leon.


"Heh, jangan sombong dulu, kau. Ini memang wilayahmu, tapi, kau sendiri yang akan habis di tanganku saat ini juga." Ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Hahahaha.... Apa aku tidak salah dengar?" Sean meremehkan perkataan dari Leon.


"Jangan bangga dengan ucapanmu itu, Leon. Bahkan kau menyentuhku saja tidak akan bisa." Sambung Sean.


Leon sudah terbakar emosi mendengar ucapan Sean yang begitu sombong menurutnya. Sean masih santai dengan posisinya sedari tadi, ia hanya tersenyum remeh melihat Leon yang sepertinya sudah kebakaran jenggot.


"Ada apa? Apa kau tidak terima dengan yang aku ucapkan. Aku mengatakan sesuai fakta." Sean kembali berucap dengan raut wajah yang sedikit menjengkelkan.


"Jangan banyak bicara. Jika kau memang berani, hadapi aku saat ini." Leon menantang Sean.


"Hahaha.... Apa aku terlihat takut denganmu sedari tadi? Apa kau yakin dengan ucapanmu? Aku tidak yakin jika dirimu akan kembali ke negaramu dengan keadaan utuh." Jawab Sean.


Leon manghampiri Sean dengan langkah cepatnya dan memberikan bogeman pada Sean. Namun sayangnya, bogeman miliknya justru di tahan oleh Sean. pergerakannya sudah terbaca dengan Sean.


"Kalau kau ingin melawanku, harusnya kau tidak bertindak bodoh." Sean mengembalikan bogeman itu pada Leon.


Akhirnya baku hantam itu terjadi di antara mereka. Setiap pukulan yang di layangkan oleh Leon berhasil di tangkis oleh Sean.


Bugh...


Bugh...


Sean menendang Leon cukup kuat. Ia memegang perutnya yang terkena tendangan Sean.


Leon kembali menyerang Sean, dan lagi-lagi dirinya mendapat serangan balik dari Sean. Tubuhnya terjatuh di atas jalanan.


Leon yang sudah geram pun mengambil belati yang ada di balik punggungnya sedari tadi.

__ADS_1


la mencoba menyerang Sean menggunakan belati miliknya.


Setiap pergerakannya bisa di baca oleh Sean, jadi Sean tidak terluka sama sekali.


"Jadi kau mau melakukan hal curang?" Sean menaikkan alisnya sebelah. Leon yang sedari tadi melawan Sean merasa sangat emosi karena setiap serangan miliknya tidak mengenai Sean sama sekali.


"Hahahah.... Apa kau takut sekarang jika aku membawa senjata di tanganku?" kali ini Leon yang tertawa sangat kencang.


"Hahaha... untuk apa aku takut denganmu. Bahkan aku bisa menghabisismu dengan tangan kosong." Jawab Sean.


"Jangan banyak bicara, lawan aku." Dia kembali menantang Sean.


Leon kembali menyerang Sean dengan sangat


brutal.


Sreekk...


Belati itu mengenai lengan Sean. Darah segar keluar dari lengan Sean.


"Hahaha... kau lihat. Kau terluka bukan?" Leon terlihat sangat senang berhasil menggores lengan Sean dengan belati miliknya.


Sean hanya memandang goresan yang ada di lengannya tanpa ekspresi. Entah apa yang akan ia lakukan setelah ini.


Tatapan Sean langsung saja berubah sangat tajam ke arah Leon.


"Bukankah kau sendiri yang bilang jika aku tidak akan bisa menyentuhmu?" kali ini Leon yang berbicara sombong. Padahal dia tidak tahu, jika macan itu sudah bangun dari tidurnya.


"Tapi buktinya, kau tergores dengan belatiku." Sambung Leon dengan tersenyum remeh pada Sean.


"Kau masih ingin bertarung denganku?" Leon kembali menantang Sean dengan wajah songongnya.


Sean berjalan cepat ke arahnya lalu menendang kuat tubuh Leon hingga terpelanting jauh.


Leon tidak sempat bersiap-siap karena apa yang dilakukan oleh Sean cukup cepat, pergerakannya seperti kilat.


Sean kembali menghajar Leon habis-habisan. Sepertinya, dirinya tidak bisa terima jika ada yang tergores. Sean membalas Leon berkali-kali lipat dengan tangan kosongnya.


Leon mencoba mengarahkan kembali belatinya kea rah Sean, Sean menendang kuat tangan Leon hingga belati itu terjatuh dari tangannya.


Leon beralih mengambil pistol miliknya yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Entah berapa banyak senjata sebenarnya yang ia bawa.


Dor...


Sean berhasil mengelak dari tembakan Leon.

__ADS_1


"**!*... akan aku balas kau berkali-kali lipat." Sean sepertinya sudah sangat marah kali ini.


Sean juga mengambil pistol yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.


Dor...


Dor...


Dorrr..


Sean mengembalikan serang Leon berlipat-lipat.


Tembakan pertama mengenai lengan Leon, yang kedua meleset dan yang terakhir mengenai perut musuhnya itu.


Leon mengerang sambil memegangi perutnya yang sudah mengeluarkan banyak darah.


la mengacungkan pistolnya untuk menembak Sean kembali.


Dan... doorrr...


n..." teriaknya saat lengannya yang "Aaarrkkhh..." membawa pistol tertembak oleh Sean.


Sebelum Leon menekan pelatuknya, dengan cepat Sean menembak Leon tanpa aba-aba.


Pistol yang ia bawa pun terjatuh dari tangannya. Darah yang ia keluarkan semakin banyak.


Leon buru-buru masuk ke dalam mobil miliknya dengan langkah tertatih-tatih karena menahan sakit di perutnya.


Sean membiarkan Leon pergi dari sana tanpa mengejarnya. Entah apa rencana Sean selanjutnya untuk melawan Leon.


Leon melajukan mobilnya dengan sangat cepat meskipun dirinya sudah tidak sanggup lagi, dia memilih melarikan diri dari pada harus mati di tangan Sean saat itu juga.


Setelah kepergian Leon, Sean juga segera masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke mension peribadinya.


Sean tidak memperdulikan lukanya, ia terus saja menambah kecepatan mobilnya agar sampai di mension dan bertemu keluarga kecilnya.


Karena pertarungan yang cukup sengit selama 1 jam lebih itu, Sean kembali ke mension di hari yang sudah mulai gelap.


Setelah memakan waktu 1 jam perjalanan, ia akhirnya sampai di mension pribadinya. la segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil menenteng jas mahalnya.


"Kau baru pulang?” tanya Ana saat melihat Sean baru datang. Biasanya Sean sore hari sudah berada di rumah.


Ana melihat sedikit keanehan itupun begegas mendekat ke arah Sean.


"Ini apa, Sean?" tanya Ana cemas melihat luka yang ada di lengan Sean.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, aku sudah biasa ." Jawab Sean sambil tersenyum. Agar Ana tidak ketakutan.


"Bagaimana luka seperti ini kau kata kecil, hah? Apa yang sudah kau lakukan sampai seperti ini?" nada suara Ana meninggi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


__ADS_2