
"Lanjutkan saja, kenapa berhenti?" Gerald mendudukkan dirinya di atas sofa empuknya.
"Aku sudah lelah," jawab Reiner di sana.
"Gak ada jiwa laki-lakinya sama sekali," sinis Julian pada Reiner.
"Biarkan saja, aku tidak seperti dirimu yang selalu petakilan." Sindirnya pada Julian.
"Lepaskan kakimu," sengal Marcus yang masih di posisi yang sama. Julian pun akhirnya menyingkirkan kedua kakinya dari Marcus.
Untung saja jika Gerald orang penyabar, jika tidak mungkin semua temannya sudah dia lempar ke luar rumah.
Kembali lagi ke sisi Jennifer.....
"Kau terlalu naif, Fa." Sahut Jennifer di sana.
"Apa sih kalian ini, kaya tidak ada pembahasan lain aja." Fany memasukkan keripik ke dalam mulutnya tanpa berbagi dengan siapapun.
Begitulah Fany, jika berurusan dengan makanan dia lupa dengan semua orang. Bahkan dirinya yang menghabiskan paling banyak makanan di sana.
"Nanti kau harus mengganti semua makanan ini," ujar Jennifer pada Fany.
"Tuan putriii... Kau kan sudah kaya raya. Kenapa juga aku harus membayar makanan ini? Di sini pasti masih banyak," jawab Fany.
"Jangan perhitungan, tidak baik loh." Sambungnya.
"Aku perhitungan, makanya aku bisa sekaya ini." Jawab Jennifer dengan entengnya.
"Pantas saja uang jajanmu tidak habis-habis, kau sudah seperti rentenir." Jawabnya sambil mengunyah cemilan yang di bawanya. Bisa saja dia menjawab perkataan Jennifer, mana di samakan seperti rentenir pula.
Malam hari...
Julian sedang beberes baju-bajunya untuk pergi berlibur bersama teman-teman gengnya. Siang tadi mereka merencanakan kemana liburan mereka dan apa saja yang akan mereka lakukan selama berlibur di sana.
Dia memilih bajunya satu persatu untuk di masukkan ke dalam koper.
"Ini sudah sering di pakai, masa iya aku bawa." la memillah-milah kaos yang sedang ia pegang di tangan kanan dan kirinya. Julian membuang bajunya ke sembarang arah lalu kembali memilih baju untuk dirinya sendiri.
la kembali memilih-mlih baju yang berada di ruang gantinya untuk ia bawa. Jika tidak cocok, dia akan kembali membuangnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya seseorang yang melipat kedua tangannya di depan dadanya karena melihat kelakuan Julian yang membuang baju-bajunya ke sembarang arah. Julian pun menoleh ke arah sumber suara.
"Tentu saja memilih baju, apa lagi?" jawab Julian.
"Terus, siapa yang akan membereskan semua ini?" ujarnya melihat semua baju-baju Julian yang berceceran. Julian pun menoleh melihat semua baju-baju yang pilih tadi ia buang ke sembarang arah.
"Hehehe..." ia meringis dengan munjukkan jarinya membentuk peace.
Orang itu pun menggelengkan kepala melihat Julian yang memang sering sekali dengan sikapnya yang random, "kau seperti perempuan saja." Ketusnya pada Julian.
"Kau yakin tidak ikut dengan kami, kak? Ayolah, biar semakin ramai kalau kau ikut." Bujuk Julian di sana. Orang yang datang ke kamar Julian tak lain adalah Jennifer, tadinya ia ingin sesekali berbincang dengan sang adik. Tapi, di saat dirinya datang, kamar itu terlihat berserakan.
"Aku malas sekali," jawab Jennifer mendudukkan dirinya di sofa yang ada pada kamar Julian.
"Aaahh... ayolah, kak. Nanti kita juga di sana akan pesta barbeque," Julian menghampiri sang kakak untuk duduk di sana.
"Kau ajak sekali Thea dan anak cabe itu. Robert sudah beres untuk itu," ujarnya yang membuat Jennifer mengerutkan keningnya.
"Anak cabe? Siapa yang kau maksud?"
Julian memutar kedua bola matanya malas, "siapa lagi kalau bukan Fany. Siapa lagi anak cabe selain dirinya?"
"Aku bukan mengejek, dia memang seperti cabe kalau berbicara." Jelasnya, padahal dia juga sebenarnya sama dengan Fany.
"Kenapa kau tidak sadar diri sekali? Kau juga sama saja seperti dirinya, sama-sama suka membuat ulah." Balas Jennifer dengan jujur.
"Aku bukan berbuat ulah, kakak. Aku hanya bersikap asik saja," elak Julian. Dia benar-benar titisan Diva.
"Ayolah, kak. Kau tidak bosan apa di mension setiap hari?" ia masih berusaha membujuk Jennifer agar dia mau ikut dengannya pergi berlibur.
Jennifer mencoba untuk berfikir-fikir dengan ajakan Julian, "hmmm, oke." Jawab Jennifer yang akhirnya menyetujui ajakan Julian untuk pergi berlibur.
"Aku mau kembali ke kamar, kau bersihkan sendiri kamarmu." Ucap Jennifer beranjak berdiri.
"Kau tidak mau membantuku?" Julian memasang wajah seperti anak kecil.
"Tidak! Itu ulahmu sendiri, jadi kau harus membereskan sendiri," Jennifer melangkah pergi keluar dari kamar Julian.
Julian memandang semua baju-bajunya yang tergeletak di sana, "kenapa banyak sekali, perasaan hanya beberapa saja." Ujarnya memandang baju-bajunya yang berserakan di lantai karena ulahnya sendiri. Ternyata bukan hanya perempuan yang seperti itu, tapi Julian juga. Bahkan hampir semua baju yang ada di sana ia buang berserakan di lantai.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Jennifer mengambil ponselnya menghubungi Thea dan Fany untuk mengajaknya berlibur. Mungkin Fany bisa mudah dia ajak, tidak tahu untuk Thea bagaimana. Tidak mendapat balasan, Jennifer memutuskan untuk segera tidur karena sudah malam. Mungkin Fany dan Thea sudah tertidur terlebih dulu pikirnya.
Keesokan harinya...
Buugh...
Buugh...
Buugh...
Suara pukulan keras terdengar di telinga.
Bugh...
Buugh...
Bughh...
Keringat bercucuran membasahi wajahnya karena dirinya melakukan olahraga tinju pagi hari. Ia memukul samsak yang ada di depannya hingga berulang-ulang. Otot kekar di lengannya terlihat jelas, sepertinya dia sangat rajin berolahraga.
"Tuan muda, waktunya anda sarapan. Semuanya sudah siap," ucap pengawalnya yang berada di sana.
"Baiklah, aku akan turun." Jawabnya singkat.
Setelah kepergian pengawalnya, ia pun segera bergegas membersihkan dirinya lalu segera turun ke bawah untuk sarapan.
Sedangkan di sisi lain....
Jennifer mengerjapkan matanya mencoba mengambil ponselnya untuk melihat sudah jam berapa sekarang. la masih enggan untuk terbangun, matanya sangat berat.
Julian masuk ke dalam kamar sang kakak melihat apakah Jennifer sudah terbangun, ia masih menggunakan baju tidurnya. Di lihatnya ternyata sang kakak masih belum bangun, dia pun mempunyai cara untuk membangunkan sang kakak.
Julian naik ke atas tempat tidur Jennifer dan melompat-lompat di atasnya dengan penuh semangat.
"Ayo, kak. Bangunlah, aku ingin berbicara denganmu ." Julian terus saja melakukannya. Dengan tidak pedulinya, Jennifer menutup tubuhnya dengan selimut meskipun rasanya tidak nyaman terganggu dengan ulah Julian.
"Kakak.... Cepatlah, bangunlah." Julian masih melompat-lompat di atas tempat tidur Jennifer seperti anak kecil. Julian tidak berhenti melakukannya sebelum Jennifer terbangun.Jennifer yang merasa terusik itupun menendang kaki Julian dari sana hingga dirinya terjungkal jatuh dari atas tempat tidur.
Buugh....
__ADS_1
Suaranya sangat keras, entah apa yang ia rasakan. Padahal masih pagi, tapi dirinya sudah mendapat sarapan yang cukup lumayan.