
"Mereka sangat aktif, bagaimana bisa kau menjaga mereka sendiri, sayang." Desis Sean mengingat bagaimana dirinya menjaga twin J, apalagi saat dengan Julian.
Ana tersenyum pada Sean, "itu sudah kewajiban ku merawat mereka. Tidak ada yang susah untukku." Jawabnya.
"Sudah, beristirahatlah. Kau harus masih banyak istirahat, jangan banyak bicara." Sean mengelus pucuk kepala Ana dengan penuh kasih sayang.
"Mamiii..." panggil Julian pada sang mami. Sepertinya dirinya sudah sangat merindukan sang mami, karena memang dirinya sangat dekat dengan maminya.
Julian meronta-ronta ingin naik ke atas brankar bersama Ana. Sean yang peka dengan tingkah putranya itupun mengangkatnya dan membiarkan dirinya bersama dengan sang mami.
Julian merebahkan dirinya di samping Ana dan memeluk maminya, terlihat sekali jika dirinya rindu.
"Apa Julian nakal?" tanya sang mami pada putranya.
"No, mami." Jawabnya dengan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Ana tersenyum mendengar jawaban dari Julian.
"Apa Jen tidak iku sekali?" tawarnya.
"Tidak mami, mami masih sakit. Jen tidak mau membuat mami sakit." Jawabnya. Ana hanya tersenyum ke arah sang putri yang terlihat sedikit dewasa.
.
.
.
Sore hari...
Rika dan Clare datang ke sana setelah mendengar kabar jika Ana sudah sadar. Tidak lupa mereka membawa buah tangan untuk Ana,
"Ana... bagaimana keadaanmu? Kami sangat cemas." Ujar Rika di sana.
"Aku sudah mulai membaik." Jawab Ana padanya.
"Haii bayiiikkk..." Julian mendekat ke arah putri Rika. Rika bersiap waspada jika nanti Julian berbuat jahil lagi pada putrinya.
__ADS_1
Putri Rika terlihat sangat senang saat Julian datang menghampirinya. "Kau sangat cantik." Puji Julian. Julian yang merasa gemmas itu pun mencubit pipi dari putri Rika.
"Astaga... astaga..." pekik Rika melihat putrinya menangis karena di cubit oleh Julian.
"Juliiiaann... apa yang kau lakukan boy?" tegur Sean melihat Julian yang mencubit pipi putri Rika.
Rika mencoba menenangkan putrinya yang sedang menangis. "Ayo minta maaf sama adik dan aunty, Jul." Sahut Ana pada Julian. Julian hanya memandang putri Rika yang sedang menangis di gendongan Rika.
"Kenapa dia cengeng?" celetuknya pada putri Rika.
"Tuan keciiilll... dia tidak cengeng, tapi karena kau mencubitnya. Jadi dia menangis." Jawab Rika yang merasa geram pada Julian. Dirinya yang sudah mencubit putrinya malah mengatakan jika putrinya cengeng.
"Maafkan putraku, Rika." Ucap Sean merasa tidak enak.
"Kau tenang saja, tuan. Dia memang sudah biasa menjahili putriku." Ucap Rika yang terus terang.
Sean mencoba membujuk putranya dan bertutur kata pada Julian dengan lembut. Agar putranya itu tidak mengulangi hal-hal yang membuat orang kesal dengannya.
Satu bulan berlalu...
Mereka yang ada di sana memang sangat senang jika bisa bermain dengan twin J, tapi yaa... begitulah. Seperti biasa, Julian pasi sangat jahil. Banyak dari maid di sana kewalahan dan kelelahan mengurus Julian. Beda lagi dengan Jennifer yang memang terlihat lebih kalem dan penurut.
Julian sering sekali berbuat ulah saat bersama para maid. Pernah sekali dirinya ikut ke dapur untuk melihat para maid membuat cake untuk Diva, Julian menumpahkan semua tepung hingga seluruh tubuhnya putih. Dirinya hanya nyengir menunjukkan wajah tanpa dosanya.
Mereka yang ada di sana hanya bisa meringis ingin menangis melihat tingkah Julian. Jika saja dia bukan anak Sean, mungkin mereka semua sudah mengikatnya agar tidak bisa lari kemana-mana dan tidak berbuat jahil lagi.
Saat ini Ana beberes baju dan perlengkapan karena Sean ingin mengajaknya untuk berlibur ke luar negeri. Kali ini mereka kembali lagi ke negara Asia, tapi Ana memilih untuk pergi ke jepang. Ana ingin menikmati salju di sana.
Ana dan Sean tidak pergi hanya berdua kali ini, mereka akan pegi bersama twin J, Diva dan tak lupa juga dengan mami dan papi Sean juga. Mereka semua pergi untuk berlibur keluarga.
"Beristirahatlah, biar aku saja yang menata." Ujar Sean.
"Aku sudah cukup beristirahat, suamiku. Biarkan aku bergerak sedikit saja, aku lelah jika terus-terusan berdiam diri." Tolak Ana secara halus.
"Jangan bawa banyak-banyak sayang, bawa saja yang kau perlukan. Nanti baju kita bisa beli di sana." ucap Sean mendekat ke arah Ana.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya membawa beberapa saja. Baju kita sudah sangat banyak, kita tidak perlu membeli baju lagi. Mau kita apakan nanti baju-baju yang ada di ruang ganti?" jawab Ana.
la memeluk Ana dari belakang hingga tidak ada sekat di antara mereka berdua.
"Aku menyayangimu." Ucap Sean mencium pipi Ana dengan singkat.
"Aku tahu itu, jika kau tidak menyayangimu mana mungkin kau akan melindungiku." Ucap Ana yang membalikkan tubuhnya menghadap Sean. Tangannya ia kalungkan di leher kokoh milik suaminya.
"Aku tidak bisa berfikir jika waktu itu aku akan kehilanganmu." Ucap Sean menatap lekat wajah Ana.
"Tapi, aku percaya jika suamiku ini tidak akan membiarkan aku tiada begitu saja." Jawab Ana.
"Tentu saja saku tidak akan membiarkan dirimu pergi meninggalkanku begitu saja. Jika kau pergi, aku juga akan pergi." Ucap Sean tak mau kehilangan Ana.
"Jangan bicara seperti itu, siapa yang merawat twin jika kita sama-sama pergi." Sanggah Ana pada suaminya.
"Sebaiknya kita kembali beberes, jika seperti ini terus kita tidak akan selesai-selesai." Sambung Ana. Sean mencium seluruh wajah Ana lalu kembali beberes barang yang ia bawa dan untuk twin juga.
Malam harinya...
Bandara....
Sean memilih penerbangan malam hari seperti biasa, karena baginya itu tidak membuat dirinya menjadi pusat perhatian dari banyak orang. Terutama oleh para kaum hawa yang memang mengagumi ketampanannya.
"Aku titipkan perusahaan padamu, kau bisa ambil cuti nanti jika ingin pergi bersama istri dan putrimu." Ucap Sean pada Riko yang ikut mengantarkan dirinya beserta keluarganya ke sana.
"Baik, tuan." Ucap Riko membungkukkan sedikit badannya.
Sean dan semua keluarganya segera melangkahkan kakinya masuk untuk pemeriksaan terlebih dahulu. Julian dan Jennifer naik di atas trolli tempat untuk semua koper mereka. Mereka berdua memerintahkan sang papi untuk mendorongnya.
Mereka berdua sambil menikmati ice cream yang sebelumnya mereka minta saat tiba di bandara.
Setelah pemeriksaan selesai, mereka semua bergegas untuk menuju jet yang akan ia gunakan.
Setelah beberapa menit kemudian, jet milik Sean itu pun mengudara menuju negara sakura yang di inginkan oleh Ana.
__ADS_1