
Riko mendekat ke arah Diva lalu mencium kening Diva sedikit lama. Semua yang ada di sana kembali bertepuk tangan deng bersorak sorai melihat keduanya. Diva nampak malu-malu, karena itu adalah hal pertama bagiannya, apa lagi di hadapan semua orang.
Satu persatu dari mereka naik ke atas dan memberikan ucapan selamat pada keduanya.
"Cucu Grandma sama Grandpa, selamat untuk kalian. Semoga pernikahan langgeng sampai maut memisahkan, semoga kalian segera di berikan momongan yang lucu-lucu. Grandma selalu mendoakan kebahagian kalian," ucap sang grandma dengan mencium pipi kanan dan kiri Diva. Grandma hampir saja menjatuhkan air matanya karena bisa melihat sang cucu berada di pelaminan.
"Terima kasih, Grandma. Maaf jika Diva selama ini sangat nakal," jawab Diva. Sang grandma menganggukkan kepalanya.
"Selama cucu Grandpa, semoga kalian sekalu bahagia." Grandpa memeluk Diva.
"Nak, Grandpa titipkan cucu Grandpa yang nakal ini padamu. Jika dia tidak menurut, cubit saja dia. Jangan pernah memukulnya," tutur papi Sean pada Riko.
"Baiklah, Tuan Besar. Aku akan selalu mengingat apa yang anda katakan," jawab Riko.
"Panggil Grandpa, jangan memanggil Tuan. Kau sekarang menjadi cucuku," selanya.
"Baiklah, Grandpa." Jawabnya. Mereka berdua turun dan bergantian dengan yang lainnya.
Di susul dengan Sean dan Ana di sana, "kau jaga dia, Ko. Jangan pernah membuatnya menangis, jika hal itu terjadi, maka nyawamu yang akan menjadi taruhannya." Sean memberikan sedikit ancaman pada Riko.
"Kau ini, ada-ada saja," protes Ana mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sean. Bisa-bisanya di saat seperti ini dirinya masih saja memberikan ancaman.
"Aku akan selalu mengingatnya, Tuan," jawabnya. Karena sudah terbiasa dengan panggilan seperti itu, Riko tidak mengubahnya panggilannya pada Sean. Mungkin sudah terlanjur nyaman dengan panggilan itu.
"Kenapa kau tidak mengubah panggilanmu padaku?" protes Sean.
"Lalu, aku harus memanggil anda apa, Tuan?" tanya Riko balik pada Sean.
"Terserah kau saja, dari pada harus pusing memikirkannya," jawab Sean yang juga tidak tahu.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian, semoga segera di berikan momongan. Berikan aunty baby yang lucu-lucu," ucap Ana.
"Kenapa kau meminta pada mereka? Aku masih bisa memberikannya," protes Sean.
"Diamlah, melahirkan itu tidak mudah. Kedua anakmu sudah besar, bagaimana nanti mereka jika memiliki adik? Aku tidak yakin jika mereka bisa menjaga adiknya," jawab Ana yang ragu mengingat tingkah Julian yang random tidak ada obatnya.
"Tapi aku masih kuat untuk menjaga mereka," jawab Sean.
"Sudah diam, jangan ngelantur. Sebaiknya kita turun ." Ana menyeret tangan Sean dari pada berbicara sembarangan di atas sana. Riko dan Diva hanya menyaksikan drama kedua orang itu.
Setelah pemberian selamat dari masing-masing orang yang hadir, mereka melakukan sesi foto. Tidak lupa foto keluarga dan foto random yang mereka lakukan. Dan seperti biasa Julian berdebat dengan Fany di sana.
Malam harinya...
Sean meminta untuk semua keluarganya berkumpul untuk membicarakan hal penting, entah apa yang akan ia bicarakan kali ini. Saat ini semua orang sudah berkumpul di ruang berkumpul sesuai dengan keinginan Sean. Sean menuruni tangga bersama Ana dengan membawa berkas yang ada di tangannya.
"Ada apa sih, Pi?" tanya Julian.
"Diva, ini adalah aset peninggalan mama dan papamu. Uncle akan memberikannya padamu, sudah waktunya dirimu untuk mengurus semuanya." Sean menyodorkan beberapa berkas yang ia bawa. Diva mengambilnya dan melihat-lihat apa saja yang ada di sana.
"Aset itu ada kantor cabang, restoran milik mamamu, tanah. Untuk lainnya kau bisa lihat sendiri," ucap Sean.
"Kenapa tidak Uncle saja yang mengurusnya?" sepertinya, Diva ingin menDivaknya.
"Itu adalah milikmu, Diva. Tugas Uncle sudah selesai, Uncle memberikannya padamu untuk kehidupan kalian berdua. Tidak mungkin jika nanti dirimu terus-terusan meminta uang jajan pada Uncle," ujar Sean.
"Dan untuk dirimu, Ko. Aku membebaskan dirimu dari dunia bawah, terserah jika kau tetap ingin berada di sana atau tidak. Keputusan ada di tanganmu, tapi aku harap kau juga bisa mengurus kantor cabang. Tugas kalian untuk mengembangkan kantor itu," sambung Sean.
"Tapi, Tuan. Jika aku di bebaskan, siapa yang akan mengurus di sana?" tanya Riko yang memang sedikit sulit untuk meninggalkan dunia bawah yang ia geluti selama ini.
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir masalah itu, masih banyak anggota yang ada di sana yang juga memiliki kemampuan tidak bisa di ragukan," jawab Sean.
"Dan untuk Julian," Sean beralih menoleh ke arah Julian, "kau harus bersiap untuk nanti."
"Aku? Memangnya ada apa, Pi? Kenapa Julian?" tanya Julian yang tidak mengerti.
"Kita akan melakukan pergantian pemimpin besok, dan kau yang Papi pilih untuk menggantikan Papi," terang Sean.
"Kenapa harus Julian, Pi? Kan masih ada kak Jen, dia yang lebih tua dariku. Harusnya Papi memberikannya pada kak Jen. Julian tidak mau melangkahi kak Jen," tolak Julian secara halus.
"Dan kenapa harus besok? Mendadak sekali," sambung Julian karena sang papi memang suka sekali jika hal sesuatu serba mendadak.
"Papi memberikannya padamu karena ada alasan, boy. Untuk kak Jen, dia pasti suatu saat nanti akan ikut dengan suaminya. Kemampuanmu juga di atas rata-rata, boy. Papi sudah membicarakan ini dengan yang lainnya jauh-jauh hari," jelas Sean lagi. Sebelum acara pernikahan, Sean dan lainnya memang sudah membahas untuk kepemimpinan selanjutnya.
Mereka sepakat jika menjadikan Julian sebagai pimpinan selanjutnya, karena kemampuan Julian juga tidka bisa di ragukan lagi.
"Kau memang terlihat petakilan. Tapi tidak dengan musuh-musuhmu," sambung Sean.
"Kenapa tidak Papi saja? Biar Papi tetap terlihat keren di mata Mami," ucapnya.
"Papi memang sudah keren dari dulu, apa kau tidak pernah melihatnya?" mode narsis Sean kambuh di sana.
"Tidak ada bantahan lagi, boy. Bersiaplah untuk besok, kita akan datang ke markas untuk peralihan jabatan," ucap Sean dengan serius.
"Kenapa harus Julian? Julian masih ingin bermain, Pi ," rengeknya pada sang papi.
"Sudah waktunya kau menggantikan Papi, boy. Waktunya kau belajar, Papi juga akan memberikan bagian lain untuk kak Jen. Sudah waktunya kalian belajar, kau masih bisa melakukannya dengan bermain nanti. Jangan menghabiskan waktu hanya untuk bermain, jika sekarang kau tidak melakukannya, maka akan penyesalan yang kau dapat di masa nanti. Ini bukan untukmu saja Jul, tapi ini juga untukmu Jen." Sean beralih menoleh ke arah Jennifer yang sedari tadi mendengarkan Sean dari awal.
"Eeemm... Jenni mengerti, Pi," jawab Jennifer.
__ADS_1
"Dan untukmu, Diva. Kau juga harus mulai mengurus peninggalan papa dan mamamu, itu adalah hakmu. Kalian urus itu berdua, kalian nanti akan tahu bagaimana sama-sama berjuang dan menikmati hasil kalian sendiri. Uncle akan membantu kalian jika merasa kesulitan," ujar Sean lagi.
"Baiklah, Uncle," ucap Diva menyetujui.