
"Bagaimana? Apa kau setuju? Aku harap kau bukan pengecut seperti yang aku katakan." Lagi-lagi Sisca menunjukkan senyum remehnya.
"Hentikan ucapanmu itu, Nona! Baiklah, aku menerima tawaranmu. Aku akan memberitahu anak-anak buahku," ucapnya yang akhirnya menyetujui.
Sisca tersenyum senang di sana. "Inilah jawaban yang aku tunggu darimu sedari tadi."
"Aku akan memberitahumu selanjutnya." Sisca meletakkan tangannya di atas pundak laki-laki itu.
"Singkirkan tanganmu, Nona," ujarnya dengan pandangannya masih terfokus pada tangan Sisca yang ada di pundaknya.
"Heh, sungguh munafik," ucap Sisca.
Setelah mendapat persetujuan itu, Sisca melangkahkan kakinya untuk kembali ke mension megah keluarganya. Wajahnya terlihat sangat bersemangat kali ini, ia ingin membuktikan ucapannya pada Jennifer. Belum tahu saja dia siapa yang tengah dia hadapi.
Meninggalkan Sisca, kita beralih kedua pasangan muda mudi yang terlihat awet itu. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua di manapun berada.
"Babe, bolehkah aku memotong rambutku?"
"Untuk apa kau harus memotong rambutmu? Tidak! Kau tidak boleh memotong rambut panjangmu itu," tDivaknya dengan tegas.
"Kenapa aku tidak boleh memotong rambutku? Itu tidak mengurangi kadar cantikku," ujarnya yang keukeh ingin memotong rambut panjangnya.
"Sejak kapan kau narsis? Sepertinya, kau tertular dengan Julian."
"Tidak, kau tidak boleh memotong rambut panjangmu itu. Jangan biarkan orang lain melihat kulit putihmu," sambungnya. Siapa lagi mereka kalau bukan Gerald dan Jennifer.
"Apa aku harus menutup seluruh wajahku sekalian?"
"Itu sepertinya ide yang bagus. Lebih baik kau menutup juga seluruh wajahmu dari pada harus di lihat orang lain. Aku sangat tidak suka dengan orang-orang jika melihatmu tidak berkedip, rasanya ingin sekali iku ambil kedua bDiva matanya." Desis Gerald yang terlihat sensitif pada Jennifer.
__ADS_1
"Kau terdengar kejam sekali," sindir Jennifer.
"Lalu, bagaimana denganmu, Nona? Di balik wajah kalemmu itu tersembunyi jiwa kejam yang mendominasi." Gerald membalikkan ucapan Jennifer.
Karena memang benar adanya, Jennifer memiliki wajah yang kalem, tetapi dia juga memiliki jiwa kejam yang tersembunyi. Saat ini, Jennifer juga masih menyembunyikan sisi kejamnya di hadapan orang yang selalu mengganggunya. Mungkin suatu saat nanti dia akan menunjukkannya secara langsung.
"Emm... itu aku hanya bermain-main saja," jawab Jennifer enteng.
"Bermain-mainmu sungguh beda, nyawa orang-orang yang menjadi mainanmu,"
"Jangan memojokkanku, kau juga sama saja," ketusnya.
Memang hanya di hadapan Gerald Jennifer bisa berbeda. Dia bisa bersikap lembut dan hangat, jika di hadapan orang lain dia akan terlihat cuek dan tidak peduli. Apalagi dengan hal-hal yang tidak penting menurutnya, Jennifer akan bersikap bodo amat, walau hal itu menjadi pusat perhatian banyak orang.
Markas...
Julian berjalan masuk ke dalam dengan bersiul, jaketnya ia letakkan di pundaknya. Ia berjalan alah-alah badboy. Selama markas berada di tangannya, Julian sering sekali datang kesana, beda dengan sang papi yang datang ke sana jika ada hal yang mendesak saja.
Karena bosan, ia pun memutuskan untuk melihat-lihat persiapan anak buahnya yang sedang mengemasi persenjataan pesanan milik mafia lain. Julian berjalan dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. Cara berjalannya pun dia sangat berbeda dengan mafia pada umumnya.
Jika mafia yang lain berjalan dengan gaya coolnya, lain halnya dengan gaya Julian. Ia bersiul di sepanjang jalan, bahkan ia juga sempat-sempatnya menjahili anak buahnya yang tengah melintas. Ketika dia sudah sampai, tangan kekarnya dengan sengaja menabok anak buahnya yang tengah mengemasi persenjataan di sana.
Bugh...
Anak buahnya itu pun hampir terjungkal karena ulah Julian yang tiba-tiba saja menaboknya. "Kau lemah sekali, baru juga di pukul seperti itu sudah hampir jatuh."
"Saya hanya kaget saja, Tuan Muda. Tiba-tiba saja anda memnabok saya begitu saja," jawabnya. Ingin sekali dirinya marah, tetapi dia juga ingat siapa yang berada di depannya saat ini.
"Alassaann...." Julian mengibaskan pelan tangannya di depan wajahnya.
__ADS_1
Dengan sabar sekali anak buahnya menghadapi tingkah Julian yang memang bedda dari yang lain, terkadang mereka juga tertekan dengan sikap tengil Julian yang tidak bisa di hilangkan. Mau tidak mau mereka harus ekstra sabar dengan tingkah Julian.
"Aku sangat bosan sekarang, sepi sekali di sini. Apa tidak ada hal lain?" ucap Julian pada anak-anak buahnya
yang berada di sana. "Sepi? Bukankah anggota kita berada di luar, Tuan Muda? Kemana perginya mereka semua?"
"Bukan itu yang aku maksud. Aah... .sudahlah, lupakan," ucapnya. Ia pun mendekat ke anak buahnya untuk melihat persiapan yang ada.
"Bagaimana dengan semuanya?"
"Semuanya sudah siap, Tuan Muda. Kita tinggal memberangkatkan semua senjata ini," jawab salah satu di antara mereka.
Julian menganggukkan kepalanya. "Bagus. Beberapa dari kalian harus memastikan semua senjata ini sampai di tujuan, tidak kurang dan tidak lebih. Banyak mereka yang di luar mengincar senjata-senjata milik kita. Kalian akan di hukum jika senjata-senjata ini tidak sampai pada tuannya." Baru saja Julian dengan sikap tengilnya, sekarang ia berubah menjadi serius dalam beberapa detik saja.
Mereka hanya bisa meneguk air ludahnya sendiri mendengar ucapan Julian yang terlihat sangat serius. Jika nanti kalian menemukan pembelot, saat itu juga habisi dia. Aku tidak mau jika markas di penuhi orang-orang yang tidak berkualitas."
"Baik, Tuan Muda," jawab mereka serentak.
Mereka pun bergegas untuk mengantarkan senjata-senjata itu ke pelabuhan. Tentu saja Julian ikut ke sana, ia hanya ingin memastikan kinerja dari anak buahnya. Saat di sana, Julian memerhatikan anak-anak bauahnya dan memerhatikan sekeliling.
Keesokan harinya...
Jennifer, Thea dan Fany kali ini tengah bersama-sama. Jarang sekali tiga serangkai itu berkumpul karena kesibukan masing-masing, jam perkuliahan mereka juga tidak selalu bebarengan. Baru saja mereka menikmati waktu bersama, tamu tidak di undang itu pun datang menghampiri mereka.
Jennifer sudah cukup jengah jika berhadapan dengan orang yang selalu saja datang tidak di undang itu. Siapa lagi kalau bukan Sisca dan kedua temannya itu. di manapun Jennifer berada, Sisca pasti akan datang menghampiri.
"Sepertinya asik sekali, ya," ucapnya dengan gaya sombongnya itu. "Kau siapa? Kami tidak mengundangmu, sebaiknya pergilah dari sini," ketus Fany. Tentu saja Fany juga tahu siapa Sisca, dia terkenal biang reseh di kampusnya.
Sisca tersenyum miring dengan ucapan Fany. "Kau rugi sekali jika tidak mengenalku."
__ADS_1
"Justru aku sangat rugi jika mengenalmu!" Fany kembali bernada ketus pada Sisca.