Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 142 Season 2


__ADS_3

"Uncle, kau pasti tau kan kekacauan kemarin?" tanya Julian to the point.


"Apa kau ke sini hanya untuk menanyakan hal itu padaku?" tanya Riko balik.


"Tentu saja, memangnya mau apa lagi?" jawabnya dengan enteng.


"Kenapa kau tidak bertanya dengan papi dan kakakmu saja langsung?"


"Kalau aku tanya kak Jen dia tidak akan menjawabnya, papi sedang perusahaan. Malas sekali aku datang ke sana, jauh." Jawabnya.


"Kalau kau malas ke sana kenapa kau pergi ke sini? Lalu, apa bedanya?" Riko tidak habis fikir dengan Julian.


"Kalau aku pergi ke perusahaan pasti papi marah kalau aku tidak masuk." Itulah alasannya yang sebenarnya.


"Apa gunanya ponselmu?" Riko terus saja bertanya pada Julian hingga Julian jengah.


"Aaahh.. aku tidak suka bertele-tele. Cepat katakan padaku," ujarnya yang sudah kesal.


"Kau pasti tahu dengan orang berpengaruh di kota ini, bukan. Putrinya meminta bantuan mamanya untuk bisa dekat denganmu, tapi mamanya menyewa orang bayaran. Mereka menghajar kakakmu kemarin di restoran milik keluargamu." Terang Riko. Julian yang mendengar jawaban dari Riko pun mengepalkan tangannya kuat. Bisa-bisanya mereka ingin melakukan hal yang tidak-tidak pada kakaknya.


"Lalu, apa yang terjadi uncle?" tanya Julian yang masih penasaran.


"Salah satu dari mereka tewas karena lemparan belati dari kakakmu, yang lainnya di bawa oleh manajer restoran ke polisi. Untuk mama dan putrinya itu, papimu memerintahkan anak buahnya membawa kemari." Jelas Riko lagi.


Orang-orang yang melawan Jennifer memang lebih cepat di amankan oleh pihak restoran sebelum Sean datang.


"Bawa aku pada mereka, uncle." Pinta Julian pada Riko. Wajahnya yang biasa terlihat jahil dan petakilan menjadi sangat menakutkan dengan tatapan tajamnya kali ini. Riko pun membawa Julian ke ruang penyekapan yang biasa di pakai Sean untuk tawanan-tawanannya.


Sorot mata Julian terlihat sekali jika dirinya sangat marah kali ini, ia mengikuti Riko dari belakang melewati lorong-lorong sebelum sampai di ruang yang di maksud.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Julian melihat satu tempat yang di gunakan untuk Cindy dan mamanya. Cindy yang melihat kedatangan Julian itupun merasa sangat senang. Dia mengira jika Julian akan menolongnya keluar dari sana.


"Julian. Ma lihat, ma. Julian datang kemari, pasti dia akan membebaskan kita dari sini. Tidak mungkin dia tega melihatku dan mama ada di sini." Ucapnya pada sang mama dengan sangat gembira.


Sorot mata tajam Julian masih belum berubah, wajahnya juga semakin datar saat melihat Cindy dan mamanya di sana.


"Julian, kau pasti akan menolongku kan. Tolong aku Julian, tolong aku dan mama." Ucapnya kembali pada Julian di depan pintu yang terkunci.


Julian mendekat ke arah Cindy, Cindy sangat percaya diri itupun berharap bisa mendapat perlakuan manis dan perhatian dari Julian.


Julian tersenyum sinis lalu menjambak rambut Cindy dengan kuat, harapan Cindy telah pupus. Dia meringis kesakitan karena jambakan dari Julian.


"Jangan harap aku akan melepaskanmu dari sini, jika bisa, aku akan meminta papi untuk tidak melepaskanmu dan mamamu." Julian semakin menjambak kuat rambut Cindy. Mama Cindy yang melihat Julian menjambak putrinya itupun berlari mendekat ke arahnya.


"Lepaskan tanganmu dari putriku." Teriak mama Cindy mencoba melepaskan tangan Julian dari rambut Cindy. Bukannya terlepas, justru Julian semakin menjambak lebih kuat lagi.


"Aauuw... mama sakit ma. Julian lepaskan aku." Erangnya merasa sakit di kepalanya hingga dirinya meneteskan air matanya. Julian tidak ada belas kasihan sedikitpun walau Cindy tengah meneteskan air matanya.


"Lepaskan putriku." Mama Cindy kembali membentak Julian. Julian menatap mama Cindy dengan tatapan garangnya.


"Heh, kalian semua. Apa kalian tidak melihat anak ini sudah menyakiti putriku, bantu aku." Sentaknya pada semua anak buah Sean di sana.


Mereka hanya diam tidak memperdulikan teriakan-teriakan dari mama Cindy.


"Jangan berteriak disini." Julian membentak mama Cindy dengan keras, hingga mama Cindy terdiam seketika.


Bugh...


Julian melepaskan tangannya dengan kasar hingga Cindy jatuh tersungkur di sana. Ia menangis tidak ada hentinya karena merasakan sakit teramat yang di berikan oleh Julian. Julian menjambak rambut Cindy tidak tanggung-tanggung, hingga kepala Cindy mengeluarkan darah akibat jambakannya.

__ADS_1


Mama Cindy segera menolong putrinya yang sedang menangis dan terjatuh, Julian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Cindy dan mamanya. la menunjukkan senyum jahatnya yang lebih terlihat seperti psikopat.


"Kalian bermain-main dengan orang yang salah." Ujar Julian yang masih menunjukkan senyum psikopatnya.


"Kalian memang tidak tahu malu dan tidak tahu diri, apa begini sikap kalian? Ternyata hanya nama kalian yang besar, tapi bertingkah konyol." Sambung Julian berkata pada Cindy dan mamanya.


"Kenapa kau jahat pada putriku, hah? Kenapa kau jahat pada orang menyukaimu?" teriak mama Cindy kembali.


Julian kembali menunjukkan smirknya, "heh, jika memang dia menyukaiku, harusnya dia bisa berfikir luas. Tidak memiliki fikiran sempit, harusnya dia bisa mengambil hati orang yang dia suka, bukan malah membuat orang yang dia suka menjauh." Jawab Julian panjang lebar.


"Ternyata kau anak iblis," mama Cindy berkata pada Julian.


"Yaa... kau benar, nyonya. Aku adalah anak iblis, kau harus tahu itu." Jawab Julian dengan santainya.


"Kau masih untung untuk hari ini, nona. Tapi aku tidak yakin untuk hari selanjutnya." Ujar Julian lalu berdiri dan melenggangkan kakinya pergi dari sana.


Mama Cindy berteriak tidak karuan saat kepergian Julian, Julian tidak menggubris sama sekali teriakan-teriakan dari mama Cindy. Julian tidak mau terburu-buru mengambil tindakan. Entah jika nanti, sepertinya dia akan melakukan yang lebih lagi pada Cindy.


Satu bulan kemudian....


Papa Cindy masih belum bisa membebaskan anak dan istrinya. Sean benar-benar tidak mau membebaskan Cindy dan mamanya. Mereka berdua juga masih berada di markas dengan keadaan yang tidak terurus. Penampilannya tidak seperti dulu lagi, terlihat kotor dan sedikit kurusan.


"Ma.... Kenapa papa belum juga menolong kita. Cindy tidak mau di sini terus-terusan." Rengeknya pada sang mama.


"Kamu sabar dulu, papa pasti akan melepaskan kita. Papa pasti menyiapkan sesuatu." Jawab sang mama dengan percaya diri.


"Tapi kenapa sampai sekarang papa belum membebaskan kita, ma. Ini sudah satu bulanan kita di sini "Ujarnya.


"Udah yakin aja, papa pasti akan datang nolong kita." Mama Cindy berucap penuh dengan percaya diri jika suaminya yang notabene-nya orang berpengaruh di kota itu pasti akan membebaskan mereka berdua.

__ADS_1


Mama Cindy memang tidak ada takut-takutnya sama sekali, mungkin karena dia sangat percaya jika suaminya nanti pasti tidak akan membiarkan dirinya begitu saja.


__ADS_2