Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 218


__ADS_3

"Kalian memang tidak becus! Cari kembali putriku, jangan kembali jika kalian tidak menemukannya!" daddy Sisca terlihat marah. Dia juga sebenarnya sangat cemas dengan Sisca yang tidak kunjung di temukan, orang tua mana yang tidak khawatir jika anaknya tidak ada kabar dan tidak pulang sama sekali.


Para bodyguard mereka kembali untuk mencari Sisca, mommy Sisca terlihat menitihkan air matanya di dalam pelukan kakak perempuan Sisca. "Mommy tenang, Mom. Aku yakin Sisca akan ketemu nanti, Mommy jangan sedih, oke."


Dengan usaha keras ia menenangkan sang mommy, tetapi sang mommy masih terus menangis berharap jika Sisca berada di hadapan mereka. Jelas saja mereka tidak akan dengan mudah menemukan Sisca, Gerald menghilangkan jejak sampai bersih. Berharap saja jika nanti Sisca akan kembali dengan keadaan hidup-hidup.


Tiga serangkai itu saat ini sedang bersama untuk menikmati waktu, siapa lagi kalau bukan Fany, Jennifer dan Thea. Mereka menghabiskan waktu usai jam kuliah, ketiganya datang ke salah satu mall di kota. Tentu saja geng dari Julian juga mengikuti mereka, tidak terkecuali Gerlad juga tidak ketinggalan.


Jennifer, Fany dan Thea berpencar dari para laki-laki agar bisa dengan leluasa memilih-milih barang belanjaan. Mereka juga tidak mau jika para laki-laki itu mengganggu dan merecoki mereka saat berbelanja. Ketiganya masuk ke dalam salah satu toko baju yang ada di mall, mereka memilih-milih yang cocok untuk di kenakan.


Fany melihat salah satu set baju casual di sana, Fany yang melihat model simpel itu menyukainya dan segera mengambilnya. Di saat tangannya ingin meraih satu set baju itu, ada saja yang menyerobot mengambilnya dengan cepat. Fany yang melihat itu tidak terima karena dia yang pertama kali melihatnya.


"Heh, apa-apaan ini. Berikan baju itu padaku, itu milikku. Sebaiknya kau cari saja yang lainnya!" sengal Fany saat baju itu sudah di tangan orang yang mengambilnya.


"Tidak, baju ini sudah berada di tanganku, jadi ini milikku. Kau saja sendiri yang mencari baju yang lain," ucapnya yang tidak kalah ngegas dengan Fany. Sepertinya, orang itu sama dengan Fany.


"Kau yang merebutnya, itu milikku!" Fany tidak kalah nyolot di sana hingga semua pengunjung yang berada di toko itu melihat ke arah keduanya.


Jennifer dan Thea yang mendengar suara Fany itu pun segera datang menghampiri. "Kau kenapa, Fa. Jangan teriak-teriak, semua orang melihatmu," ujar Thea.


"Kau lihat orang ini, dia sudah merebut bajuku. Enak saja dia mau ambil, tentu tidak bisa. Aku yang lebih dulu melihatnya," Fany tidak mau tahu itu. Dia ngotot untuk mengambil baju yang hampir saja ia ambil tadi.


"Mana ada. Baju ini berada di tanganku, tentu saja ini milikku." Orang itu juga tidak mau kalah dari Fany.

__ADS_1


"Ya udah, Fa. Tanyakan saja pada karyawan di sini, jangan membuat keributan," selah Jennifer agar tidak semakin ribut.


"Apa baju seperti itu masih ada?" tanya Jennifer pada salah satu karyawan di sana.


"Tidak ada, Nona. Itu stok terakhir di toko kami," jawabnya sopan.


"Sini kembalikan bajuku! Kau cari saja yang lain," sentak Fany pada orang itu.


"Owwhh... tidak bisa ini milikku," ujarnya dengan tengil. la pun melangkah menuju kasir untuk segera membayar dari pada harus meladeni Fany.


"Awas kau, ya!" Fany ingin mengejar orang itu, tetapi Jennifer dan Thea mencekal tangannya agar tidak sampai Fany mendekat ke orang tersebut.


Keduanya menarik membawa Fany keluar dari sana, Fany menahan dirinya dan masih ngotot untuk meminta baju tadi. "Lepaskan, aku!"


"Tidak, kita cari saja yang lainnya," ujar Thea.


"Haaahh... kau lihat, dia mengejekku. Dasar orang gila." Fany ingin kembali lari ke dalam karena melihat dirinya sedang di ejek. Thea dan Jennifer kembali menahan Fany agar tidak sampai masuk ke dalam.


"Sudah, Fa. Kau ini seperti tidak ada yang lain saja, lihatlah, semua orang melihatmu. Kau tidak malu?" ucap Thea.


"Aku tidak peduli!" sengal Fany. Akhirnya mereka melepas tangan mereka dari Fany saat sudah berada jauh di toko tadi.


"Haaah... harusnya kalian biarkan saja tadi aku menghajarnya," kesal Fany pada Thea dan Jennifer.

__ADS_1


Mereka bertiga pun melanjutkan untuk mencari barang yang lain setelah sedikit keramaian di sebabkan oleh Fany. Untung saja mereka masih bisa menahan Fany, kalau tidak, entah apa yang akan terjadi mengingat Fany yang selalu bar-bar. Ketiganya berjalan-jalan menyusuri setiap toko-toko di mall.


"Di sini sumpek sekali. Semua laki-laki juga terlihat jelek, apa tidak ada satu pun laki-laki tampan di sini?" celetuk Fany. Sepertinya, jiwa randomnya terlihat kembali.


"Bukankah kau sudah ada Julian? Untuk apa kau mencari lelaki tampan?" sahut Thea yang mendengar ucapan Fany.


"Ck, kau ini. Kenapa percaya sekali dengannya. Aku menolak keras dengan apa yang dia katakan," elak Fany.


"Waah... Jen, sepertinya, adikmu di tolak mentah-mentah dengan Fany, nanti juga akan bucin sendiri dia," jawab Jennifer. Jennifer memang tidak memaksa jika seandainya Fany memang benar-benar tidak menerima Julian, yang Jennifer lihat sekarang adalah Fany masih belum terbiasa dan belum memahami perasannya yang sebenarnya.


"Hah, tidak akan mungkin." Fany mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gaya centilnya.


"Ya... ya... kita lihat saja nanti,”


"Aahh... sudahlah. Tidak perlu di bahas." Fany mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Haii handsome...," ujar Fany yang pada saat itu melintas satu pria yang terlihat sangat tampan.


Orang tiu pun menoleh ke arah Fany, Fany mengedipkan kedua matanya dengan genit lalu melakukan kiss bye. Laki-laki itu terlihat bingung dengan apa yang di lakukan oleh Fany, Jennifer dan Thea pun hanya bisa meringis di sana. Kalau berhadapan dengan Fany memang tidak ada habisnya melihat tingkahnya.


Dari arah belakang tiba-tiba saja tangannya di tarik pergi dari sana. "Ehh... Ehhh... apa ini?" Orang itu terus menarik dan membawa Fany pergi dari sana.


"Apa yang kau lakukan?" sengal Fany saat tahu siapa yang sudah menariknya pergi dari sana.

__ADS_1


"Diam saja dan ikut aku." Terlihat sekali jika dirinya sedang menahan cemburu karena tingkah Fany yang genit tadi.


"Tidak, aku tidak mau." Fany menggelengkan kepala dengan menahan tubuhnya.


__ADS_2