Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 85


__ADS_3

Ana dan Sean yang mendengar cerita dari Diva pun terkejut. Bagaimana bisa Julian beraksi sebar-bar itu.


"Apa yang Diva katakana itu benar?" tanya Ana yang tidak percaya dengan cerita Diva.


"Diva tidak punya wajah-wajah pembohong aunty. Coba tanya saja dengan Jenni." Ucap Diva. Bisa-bisanya dia menyuruh Ana untuk bertanya pada Jennifer yang belum mengerti apa-apa.


"Lalu?" sahut Sean.


"Lari jauh itu Alpaca. Aku menarik ljul untuk tidak mengganggunya, tapi ljul tidak mau. Dia lari ke arah Alpaca itu lagi. Alpaca tadi pun kembali lari melihat ljul ke arahnya. Mungkin dia trauma karena ljul sudah menarik ekornya. Tidak lama kemudian penjaga Alpaca tadi ikut mengejar ljul agar tidak berlari, untung saja ljul mudah di tangkap." Diva melanjutkan ceritanya tanpa ada yang kurang sedikitpun.


Ana dan Sean terdiam mendengar cerita dari Diva. Bisa-bisanya anak mereka mempunyai sifat bar-bar dan jahil seperti itu. Apa lagi sampai menarik ekor Alpaca.


"Kenapa kau nakal sekali, Jul? Untung saja Alpaca itu tidak menendangmu." Ujar Ana pada Julian. Julian hanya diam dan menunjukkan giginya yang tumbuh baru dua biji itu.


"Besok jangan ajak adiknya kesana lagi, Diva. Bahaya." Tutur Sean. Dia takut jika anak-anaknya nanti kenapa-napa, apalagi sampai terluka.


"Harusnya uncle dan aunty lihat tadi bagaiamana aksi ljul yang langsung membuat heboh." Ujar Diva.


Sean juga tidak habis pikir, entah kenapa anak-anaknya memang terkadang ada saja yang di lakukan. Untung saja mereka tidak masuk ke kandang Ceetah ataupun Leopard yang ada di sana.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia gede nanti, sepertinya dia akan sangat petakilan daripada Jenni." Diva mencoba menerka-nerka bagaimana sikap Julian jika besar nanti. Sekarang saja ia sudah bar-bar, apalagi nanti saat sudah dewasa?


"Sudah jangan berfikir yang tidak-tidak, sekarang ayo tidur. Hari sudah malam, Diva juga besok harus sekolah." Ucap Sean.


la juga tidak tahu bagaiamana menanggapi sikap anak-anaknya. Karena memang masa-masa sekarang adalah masa mereka aktif-aktifnya dan lucu.


3 hari kemudian...


Leon sudah bisa keluar dari rumah sakit karena kondisi tubuhnya sudah semakin membaik. Saat ini ia berada di tempat yang ia singgahi sementara selama di Berlin.


"Apa kau sudah berhasil menemukannya?" tanyanya pada anak buahnya.

__ADS_1


"Kemarin salah satu dari kami mengikutinya sampai tempat tinggalnya tuan." Jawabnya.


"Bagus, pantau dia. Dan kita siapkan rencana untuk menggulingkannya." Perintah Leon sambil tersenyum mengerikan.


Butuh cara yang benar-benar matang untuk bisa mengalahkan Sean. Salah satu anak buah Leon bisa berhasil mengikuti Sean sampai di kediamannya, entah cara apa yang ia gunakan sampai bisa berhasil untuk mengikuti Sean.


"Apa yang kau dapatkan?" tanya Leon.


"Kami belum mendapatkan apa-apa tuan." Jawabnya jujur.


"Hmm... tidak apa. Yang penting kita sudah tau di mana dia tinggal. Kalian harus awasi mereka." Anak buahnya menunduk kepalanya faham dengan apa yang di perintahkan oleh Leon.


"Dimana alamatnya?"


Anak buahnya menyebutkan alamat di mana kediaman Sean selama ini. Ia pun memutuskan untuk pergi ke sana melihat sendiri. Padahal, dia baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi sekarang ia ingin pergi ke kediaman Sean. Sepertinya, dia tidak ada jerah dan tidak takut sama sekali.


Leon melajukan mobilnya menuju di mana Sean tinggal selama ini. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Leon tiba di sekitar kediaman Sean, dia berhenti sedikit jauh dari sana. Jangan sampai jika anak buah Sean melihatnya berada di sana.


Mension Sean terletak di tengah-tengahnya, halaman kiri, kanan dan belakang juga masih memiliki lahan yang luas.


"Jadi di sini selama ini dia tinggal?" gumam Leon.


"Pasti dia menempatkan penjagaan yang ketat di sini ." gumamnya lagi.


Tidak lama kemudian, mobil keluar dari gerbang mansion yang menjulang tinggi itu. Leon mencoba mengikuti kemana arah pergi mobil itu, mungkin siapa tahu jika dirinya nanti mendapat kesempatan.


Leon mengikuti mobil itu dari jauh agar dia tidak tertangkap lagi. Dia memutuskan untuk mengikuti mobil itu karena di sana dia tidak menemukan apa-apa. Yang dia lihat hanya beberapa anak buah Sean yang berjaga.


Hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil itu pun tiba di tempat yang di tuju. Leon terus mengamati dari jauh.

__ADS_1


Laki-laki berpakaian serba hitam keluar dari dalam mobil tersebut dengan membawa kotak bekal makanan untuk sang majikan.


Mobil itu adalah mobil anak buah Sean yang biasanya mengantar bekal makanan pada sang majikan, karena memang Ana tidak bisa sembarang keluar saat ini.


Bugh...


"Sial... aku kira itu adalah istrinya." Leon memukul setir mobilnya dengan kuat.


Dia kecewa melihat anak buah Sean yang keluar dari sana, ternyata yang dia cari-cari tidak ada di hadapannya. Leon yang sudah kesal akhirnya dirinya memutuskan untuk kembali ke kediamannya.


Sedangkan di dalam sana...


"Ini bekal dari nyonya, tuan." Anak buahnya memberikan bekal makanan untuk Sean.


"Hmmm..." Sean menjawab dengan deheman.


"Tuan, salah satu dari kita melapor jika Leon hari ini sudah keluar dari rumah sakit." Lapornya.


Sean berdiri dan berjalan ke arah jendela besar yang ada di ruangannya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya dan memandang jalanan kota yang ramai dari atas sana.


"Perketat penjagaan yang ada di mension, dia tidak akan berani jika menyerang markas." Perintah Sean.


Yaahh... Leon pasti akan mengincar anak-anak dan istrinya, dia tidak akan bisa jika menyerang markas Sean. Karena wilayah Eropa sebagian besar merupakan daerah kekuasaan Sean. Jika Leon melakukan penyerangan di markasnya, sudah di pastikan jika kelompok Leon akan kalah telak.


"Beri tahu Ana jika nanti aku akan pulang terlambat. Aku akan mengurus sesuatu." Ucap Sean yang masih belum mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang ia lihat.


"Kau boleh kembali." Ucap Sean lagi.


"Baik, tuan." Anak buah Sean membungkukkan sedikit badannya lalu beranjak keluar dari sana.


Sean sedang memikirkan sesuatu, tapi entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Sepertinya, hal besar yang saat ini di pikirkan.

__ADS_1


Sean kembali duduk dan mengambil ponselnya," datang ke ruanganku sekarang." Sean langsung memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak.


Tidak lama kemudian pintu di ketuk dan terbuka." yang bisa saya bantu, tuan?" tanyanya. Ada


__ADS_2