
Orang-orang itu pun segera membawa Sisca pergi dari sana. Cukup mudah mereka membawa Sisca pergi dari sana, karena tempat itu sepi tidak ada pengunjung sama sekali.
"Apa ini?" ucapnya saat tersadar dengan dirinya sudah dalam keadaan di ikat di dudukkan di kursi kayu.
la mendongakkan kepalanya dan menggoyang-goyangkan kepalanya agar semua rambut yang menutupi wajahnya itu tidak mengganggunya. Di tatapnya sekelilingnya, ia hanya melihat barang-barang yang berserakan dengan tempat yang sudah banyak sekali debu. Belum lagi sarang laba-laba juga terlihat sangat banyak sekali.
Dari arah lain, datanglah seorang pria untuk melihat jika tangkapannya berhasil. "Waahh.... ternyata anak-anak buahku dengan mudah bisa menangkapmu, Nona. Aku kira sangat sulit menangkap anak dari orang berpengaruh di Eropa ini."
Orang yang ia panggil nona itu pun menoleh ke arahnya, pria itu pun mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang tengah terikat di sana. "Apa yang sudah kalian lakukan padaku, hah! Kenapa kalian membawaku ke sini?"
Orang itu hanya tersenyum miring, tak lama kemudian, dirinya memanggil anak buahnya yang ia perintahkan tadi. Mereka yang merasa mendapat panggilan dari bosnya itu pun datang dengan cepat-cepat.
"Kenapa kalian payah sekali dalam menangkap seseorang, hah? Apa kalian tidak mengenali wajah yang aku tunjukkan pada kalian?" bentaknya pada anak buahnya, mereka menunduk karena mendapat omelan dari sang boss.
"M-maaf, boss, tadi kami tidak melihatnya," jawabnya dengan gugup.
"Bagaimana bisa kalian tidak mengenali wajahku, hah? Dasar bod*h," teriak Sisca pada mereka.
"Maaf, Nona. Kami datang dari arah belakang, jadi tidak bisa mengenali wajah anda," jawabnya dengan jujur.
Tentu mereka tidak bisa mengenali wajah Sisca, mereka juga dari arah belakang. Di saat mengikat Sisca pun, rambut panjangnya menutupi wajahnya. Jadi, mereka tidak terlalu melihat wajah siapa yang ia tangkap, yang mereka pikirkan adalah tugas mereka sudah berhasil.
"Kalian benar-benar bod*h, payah," teriaknya lagi menghina anak-anak buah itu.
Yaa... siapa lagi orang-orang kalau bukan orang yang Sisca minta untuk membawa Jennifer, bukan Jennifer tetapi malah dirinya sendirilah yang di bawa orang-orang itu. Mereka di tugaskan oleh boss mereka untuk emnangkap Jennifer, tetapi sepertinya mereka gagal setelah tahu siapa yang sebenarnya mereka tangkap.
"Tunggu, bagaimana bisa kalian berada di sana sampai-sampai kalian menangkapku?" tanya Sisca yang sedikit bingung dengan situasi yang ia alami.
__ADS_1
"Bukankah kau sendiri yang memnghubungiku, Nona? Kau sendiri yang memintaku untuk mengirim anak-anak buahku menangkap orang yang kau minta?" ujar pimpinan itu pada Sisca.
"Kau jangan mengada-ada, bod*h. Aku tidak
menghubungi kalian sama sekali!" teriak Sisca lagi yang merasa sedikit geram di sana.
"Berhenti meneriakiku bod*h, Nona. Kau sendiri yang memintaku dan anak-anak buahku untuk datang ke tempat itu!" pimpinan orang-orang jahat itu tidak kalah meninggikan suaranya karena Sisca berani mengatai dirinya dan anak buahnya.
"Kalian memang benar-benar bod*oh, payah, tidak bisa di andalkan. Lepaskan aku sekarang!" teriaknya lagi di sana dengan sedikit memerontak dari ikatan.
Orang itu pun mencengkram kuat kedua pipi Sisca." Hentikan ucapanmu itu, Nona. Kalau kau masih menghinaku dan anak buahku maka kau yang akan aku singkirkan dari muka bumi ini. kau sendiri yang memintaku datang ke sana bersama anak buahku, dan kau sendiri yang sekarang berteriak?"
la melepaskan cengkramannya dari Sisca dengan kasar karena kesal dengan Sisca sendiri.
"Aku tidak memintamu untuk datang, bod*h!" Sisca tidak hentinya berteriak di sana.
Tepat di depan wajah Sisca orang itu menunjukkan isi chat yang di kirim oleh Sisca, Sisca menatapnya dengan jeli dan itu memang dari nomor miliknya jika di lihat-lihat. Sisca bingung dengan apa yang terjadi, karena memang dirinya tidak mengirim pesan pada orang suruhannya. Sedari tadi dirinya sibuk bersiap karena ajakan Gerlad.
"Dari mana kalian mendapat pesan itu? Aku tidak pernah mengirim pesan itu pada kalian!" teriaknya lagi.
"Apa kau buta? Kau tidak melihat pesan itu dari siapa? Bukankah kau sendiri yang mengirim pesan itu? Dan sekarang kau yang menyalahkan ku?" semakin geramlah pimpinan orang-orang jahat itu pada Sisca karena pesan itu benar-benar dari nomor milik Sisca.
"Itu bukan aku, bod*h! Lepaskan aku!"
"Itu memang bukan dirimu, tapi aku," sahutnya tiba-tiba dari arah belakang. Mereka yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara tidak terkecuali dengan Sisca. Ia menoleh dan terkejut diapa yang ada datang ke sana.
"Gerald, tolong lepaskan aku. Mereka telah menculikku, tolong aku," mohonnya pada Gerald. Dalam beberapa detik wajahnya ia rubah memelas agar Gerald percaya padanya.
__ADS_1
Benar sekali, orang yang baru saja datang itu adalah Gerald, entah bagaimana caranya ia bisa tahu kalau Sisca berada di sana. Namun, mengingat siapa Gerald tidak sulit untuk Gerald menemukan orang-orang.
"Bagaimana dengan hadiah yang aku berikan, Nona?" tanyanya pada Sisca dengan tersenyum miring.
"Ap-apa maksudmu? Hadiah apa? Aku tidak paham." Sisca menggelengkan kepalanya di sana.
la juga sedikit bingung dengan Gerald, apa mungkin Gerald juga tahu siapa orang-orang yang ia suruh? Tetapi sepertinya tidak mungkin. Bagaimana bisa Gerald tahu siapa orang-orang itu, pikirnya.
"Siapa kau anak muda? Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau ingin mati sia-sia!" teriaknya pada Gerald.
Pimpinan orang-orang jahat itu juga sebenarnya terkejut saat kedatangan Gerald, karena tidak ada orang yang tahu tempat itu. Tempat yang mereka gunakan adalah gudang yang bertempat di tengah-tengah hutan, tidak ada orang yang menjamahnya ke sana. Lalu, bagaimana Gerald tahu tempat itu dan bisa datang ke sana, pikir pimpinan orang jahat itu.
"Simpan ucapanmu itu, Tuan. Kau harus berhati-hati dengan ucapanmu." Gerald tersenyum miring pada orang itu.
"Sombong. Hajar dia," pinta pimpinan orang-orang jahat itu untuk menghajar Gerald. Mereka pun beramai-ramai Menghajar Gerald. Dengan gesit Gerald menghindar dan melawan orang-orang itu sendiri.
"Apa yang kau lakukan, bod*h!" teriak Sisca saat melihat anak buah orang jahat itu menghajar Gerald.
"Sebaiknya kau diamlah!" bentak orang tersebut.
Bugh...
bugh...
bugh...
Tendangan melayang Gerald layangkan pada orang-orang itu hingga mereka jatuh tersungkur hanya dengan sekali tendangan dari Gerald. Yang lainnya pun kembali menyerang Gerald, dan dengan mudahnya Gerald bisa melawan mereka.
__ADS_1