
Siapa lagi yang datang itu kalau bukan Jennifer dan Gerald, entah kenapa mereka berdua tiba-tia datang ke sana. Mungkin terlalu bosan mengunjungi tempat-tempat yang ramai dengan para pengunjung.
"Aku bukan adikmu!" Jennifer menolak keras jika hanya di panggil nama oleh Julian.
"Baiklah, Ratu. Maafkan aku." Julian menunduk layaknya pengawal di depan ratunya. Dia memang paling bisa membuat suasana baru, meskipun di sana sedang melakukan aksi sadisnya.
Di sisi lain pada waktu bersamaan...
"Kemana mereka semua? Apa melakukan tugas begitu saja mereka tidak becus?" kesalnya karena tidak ada kabar dari para bawahannya.
la menaruh gelas berisi anggur merah itu dengan sedikit kasar, kekesalannya sangat terlihat di raut wajahnya. "Apa kalian tidak ada kabar dari mereka?"
"Maaf, Tuan. Tidak ada kabar dari mereka sedari tadi ," ujarnya memberitahu.
"Kalau sampai mereka gagal, akan aku serang keluarga itu tanpa ampun!" tekadnya. Dia tidak terlalu memikirkan resiko apa yang akan ia hadapi, yang ia pikirkan hanya pembalasan dendam saja. Rencana saja dia tidak punya, ia hanya meminta bawahannya untuk terus mengawasi.
Berselang beberapa menit, salah satu bawahannya datang ke ruang yang selalu ia tempati untuk bersantai. Ada apa kau kemari?"
"Maaf mengganggu, Tuan. Tapi... ada sesuatu yang harus anda lihat," ujarnya yang membuat orang yang ia panggil Tuan itu sedikit bingung.
Bawahannya itu pun memberikan ponselnya pada Tuannya itu, terdapat satu vidio di ponsel tersebut.
Alisnya mengerut, ia bertanya-tanya dalam hatinya, memang vidio apa itu? la pun menekannya dan melihat isi dari vidio tersebut.
Kedua alisnya menaut setelah melihatnya, belum juga dirinya melihat sampai selesai, tetapi wajahnya terlihat sekali jika dia sedang memendam kemarahan.
Braakk...
"Kurang ajar!" Ponsel milik bawahannya itu ia banting hingga tidak berbentuk lagi. Pemilik dari ponsel itu memandang pasrah pada ponselnya yang sudah remuk itu. Ingin marah pun takut jika dia akan mendapat kemurkaan dari tuannya. Mau tidak mau dia hanya diam saja tidak memprotes.
__ADS_1
Kira-kira apa yang ia lihat hingga membuatnya marah dan membanting ponsel milik bawahannya? Dia tengah melihat vidio yang di kirim oleh anak buah Julian, siapa lagi orang itu kalau bukan anak dari Jacob. Dengan cepat vidio yang berasal dari Julian itu terkirim padanya, ia semakin murka setelah melihatnya.
"Aaarrkh...." Semua barang yang ada di ruangannya ia jatuhkan. Gelas dan botol yang berisikan anggur merah itu juga ikut pecah karena ia menjatuhkannya.
Dia selalu kalah start oleh Julian, tetapi dirinya tidak memiliki rencana apa pun untuk melawan Julian dan lainnya. Siapa juga yang menyuruhnya untuk berhadapan dengan Julian, setidaknya dia juga harusnya memiliki banyak cara dan rencana jika melawan Julian.
"Anak itu benar membuatku semakin murka. Aaarkh .." la kembali berteriak dengan kencang.
Para bawahannya itu hanya menunduk dan diam tidak berbicara apa pun. Dia sendiri yang mencari lawan, tapi dia sendiri juga yang seperti kesetanan. Kalau saja Julian mengetahui bagaiaman dirinya, pasti Julian sudah tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya yang seperti kesetanan sendiri.
"Maaf, Tuan, lebih baik kita langsung menyerang saja mereka secara bersamaan. Kita pecah fokus anak itu," sela salah satu dari bawahannya.
"Bagaimana maksudmu?" napasnya memburu dengan hebat karena berkali-kali usahanya melawan Julian tengah gagal.
"Kita bisa melawannya dari segi mana pun Tuan, kita bagi semua anggota kita. Satu kubu kita mendatangi rumah dari wanita yang Tuan maksud tadi pagi, satu kubu kita datang ke mansionnya. Dia pasti tidak akan membiarkan orang tuanya dalam bahaya. Dan munkin yang lainnya bisa kita menyerangnya," sarannya yang memang sedikit masuk akal.
Namun tetap saja apa yang akan mereka lakukan pasti akan sia-sia. Mension, terdapat Sean yang notabenya pimpinan mafia sebelum Julian. Dan wanita yang di maksud adalah Ola, di sana juga terdapat Riko yang merupakan tangan kanan dari Sean waktu dulu.
Orang yang ia panggil 'Tuan' itu berpikir-pikir, sepertinya masukan dari salah satu bawahannya itu cukup menarik juga.
"Aku suka dengan idemu itu. Kita akan menyerangnya dengan membagi fokusnya. Hubungi semua anggota untuk datang ke mari," ujarnya menyetujui dengan usulan salah satu bawahannya itu.
"Kalian semua bersiaplah," pintahnya pada yang lainnya. Mereka semua menunduk hormat padanya, mereka semua keluar dari ruangn itu dan segera bersiap. Mereka akan bersiap menyiapkan apa yang ada di sana, dan menghubungi semua anggota mereka untuk datang.
"Awas kau anak ingusan! Tunggu saja kedatanganku ." Senyum jahatnya terukir di wajahnya. Dia sangat yakin jika usahanya kali ini membalaskan denndam akan berhasil. Entah berhasil atau tidak, kita lihat saja nanti bagaimana dia beraksi.
Kembali lagi ke sisi Julian ...
"Jadi mereka yang kau maksud itu? Antek-anteknya saja lemah seperti ini? Bagaimana dengan pemimpinnya?" jennifer meledek mereka-mereka yang tertangkap.
__ADS_1
Di tengah-tengah perbincangan mereka, ada salah satu yang masih kuat untuk berusaha melepaskan diri dari ikatannya. Akhirnya ikatan itu bisa lepas darinya, ternyata dia masih kuat juga untuk melepas ikatan itu. Tanpa aba-aba, dia berlari ke arah Julian dan lainnya dengan cepat selagi dia bisa lepas.
Syuutt...
Jleeebbb...
"Aaarkh...." Teriaknya cukup keras. Julian dan Jennifer menoleh ke arahnya yang sudah jatuh terduduk karena belati mendarat mulus di pahanya itu.
Anak buah Julian kembali membawanya paksa untuk di ikat kembali ke tiang tempatnya semula. Diam-diam di sana Gerald mengawasi pergerakan orang-orang itu, dan yang melempar belati itu tak lain juga Gerald.
"Kau apakan dia?" ucap Julian melihat ke arah Gerald.
"Apa kau tidak melihatnya? Kenapa masih bertanya apa yang aku lakukan?" Gerald benar-benar menjengkelkan di mata Julian.
"Aku tidak melihatmu, aku fokus pada kakakku, makanya aku bertanya padamu," jawab Julian dengan mencebikkan bibirnya.
Gerald memutar kedua matanya malas. "Kau urusa saja tawananmu itu."
"Apa kau tidak mau ikut denganku Tuan Putri. Mungkin akan semakin seru jika kau ikut," tawar Julian pada sang kakak.
"Hmm... baiklah. Aku akan ikut." Tanpa pikir panjang Jennifer menyetujui tawaran dari Julian.
Jennifer berlalu begitu saja untuk memilih banyak senjata yang berjejer, di ambilnya satu belati yang masih tersisa. Ia berjalan membawa belati itu ke arah salah satu dari mereka yang terikat di sana.
"Kau mau kemana!?" seru Julian melihat Jennifer yang tengah melangkahkan kakinya.
"Mau bermain-main dengan mereka. Bukankah kau yang mengajakku?" senyum devil dari Jennifer terlihat di mata Julian.
"Sepertinya, dia sudah kambuh," gumam Robert yang juga melihat senyum dari Jennifer di sana.
__ADS_1
Ke dua orang itu memandang tidak akan baik-baik saja jika Jennifer ikut bersama. Entah apa yang akan Jennifer lakukan kali ini pada mereka, sepertinya bukan hal yang baik.