Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 262


__ADS_3

Sementara di posisi Julian, Julian terus saja mencari cara agar para pengintai itu mengikutinya. Ia akan membawa mereka semua ke tempat yang sudah ia rencanakan waktu lalu. Kemana perginya Julian, mereka selalu mengikutinya, karena memang target mereka adalah mengalahkan Julian.


Kembali lagi ke sisi Sean...


Sean tengah mengawasi mereka semua dari balik jendela yang ada di kamarnya. Perlahan-lahan pergerakan dari musuh tertangkap oleh pandangan matanya. Sean menuju ke ruang rahasianya selama ini


yang ada di kamarnya. Banyak yang tidak tahu jika Sean memiiki ruang rahasia di sana, termasuk Ana juga tidak mengetahui tentang itu.


Sean menutupnya dengan sangat rapi, sehingga tidak ada yang tahu soal itu. Lampu menyalah secara bersamaan saat Sean tiba di sana, lampu-lampu di sana di atur secara otomatis oleh Sean. Ada beberapa jenis senjata yang Sean rakit, senjata itu bisa terbilang langkah dari senjatanya yang ada di markasnya.


Sepertinya Sean membuatnya khusus tidak untuk di miliki siapapun. Sean memilih salah satu dari beebrapa senjata itu untuk ia gunakan. "Mungkin aku akan memberikannya pada Julian nanti, dia pasti akan sangat butuh untuk menghadapi semua musuh-musuhnya di masa mendatang. Untuk sekarang aku akan menggunakannya pada mereka."


Tanpa berlama-lama Sean kembali keluar dari ruang rahasia miliknya itu. Terdengar di luar suara ramai dan beberapa selongsong senjata terdengar. Ternyata bawahan dari putra jacob sudah berada di sana dan menyerang di mension Sean.


Beberapa anak buah dari Julian tumbang disana, Sean mengepalkan tangannya melihat dari mereka yang ingin menerobos masuk ke dalam mension miliknya." Mereka benar-benar mengantarkan nyawanya untuk datang ke sini."


Beberapa dari mereka berhasil masuk ke dalam mension dari Sean. Mereka melihat-lihat jika mension Sean terlihat sepi tidak ada penghuni sama sekali.


"Kemana mereka semua? Di sini sangat sepi, seperti tidak ada penghuninya sama sekali?" ujar salah satu dari mereka yang melihat sekeliling seperti tidak menunjukkan kehidupan sama sekali.


"Apa mereka semua sudah tahu jika kita akan datang ke mari?" tebak salah satu di antara mereka.


"Coba berpencar ke semua penjuru. Setelah bertemu mereka, bawa ibu dari anak itu." Mereka mengangguk dan segera berpencar untuk mencari apa yang mereka cari.


Sean mencoba memainkan di lantai atas, ia mengarahkan senjata itu pada orang-orang yang sedang beradu kekuatan. Gaya Sean sudah seperti sniper handal di sana, ternyata bawahan putra dari Jacob tidak terlalu banyak. Bisa di perkirakan hanya ada 200 orang yang terjun ke mension Sean.


Doorr...


Doorrr...

__ADS_1


Mereka yang terkena tembakan itu seketika tewas, mereka yang menyadari akan hal itu mencari siapa pelakunya. Dia yang menyadari Sean sembunyi itu segera membalasnya dengan melayangkan senjatanya.


Dorr ...


"Shi*t, ternyata mereka bisa mengetahui keberadaannku?" untung dengan cepat Sean bisa menghindar dari tembakan-tembakan itu. Sean kembali mengerahkan senjatanya pada mereka-mereka yang ke mari?" tebak salah satu di antara mereka.


"Coba berpencar ke semua penjuru. Setelah bertemu mereka, bawa ibu dari anak itu." Mereka mengangguk dan segera berpencar untuk mencari apa yang mereka cari.


Sean mencoba memainkan di lantai atas, ia mengarahkan senjata itu pada orang-orang yang sedang beradu kekuatan. Gaya Sean sudah seperti sniper handal di sana, ternyata bawahan putra dari Jacob tidak terlalu banyak. Bisa di perkirakan hanya ada 200 orang yang terjun ke mension Sean.


Doorr...


Doorrr...


Mereka yang terkena tembakan itu seketika tewas, mereka yang menyadari akan hal itu mencari siapa pelakunya. Dia yang menyadari Sean sembunyi itu segera membalasnya dengan melayangkan senjatanya.


Dorr ...


"****, ternyata mereka bisa mengetahui keberadaannku?" untung dengan cepat Sean bisa menghindar dari tembakan-tembakan itu. Sean kembali mengerahkan senjatanya pada mereka-mereka yang mengarahkan senjatanya padanya.


Doorr


Rentetan peluru Sean layangkan pada mereka orang-orang yang mengarahkan senjatanya padanya.


Doorr...


Doorrr...


Doorr...

__ADS_1


Lagi dan lagi Sean kembali menembakkan pelurunya. Mereka tumbang dengan seketika, anak buah dari Julain yang faham akan hal itu pun menyerang anak buah dari putra Jacob. Melihat anak-anak buah Julian bertindak dengan cepat, Sean memutuskan untuk melihat ke bawah bagaimana orang-orang itu yang tengah masuk ke dalam mensionnya.


Jika di luar terdengar keributan dan beberapa senjata saling beradu, mereka yang berada di dalam mencari ke sana ke mari tetapi tidak ada satu orang pun yang mereka temukan. Selama 30 menit mereka mencari, karena mension itu terlihat sangat luas. Mereka kembali berkumpul karena tidak menemukan siapa-siapa.


"Sepertinya mereka sudah tahu jika kita akan datang ke mari. Tidak ada satu orang pun di sini yang terlihat," ujar salah satu dari mereka.


"Apa kalian sudah benar mencarinya? Jangan sampai kalian yang habis di tangan Tuan Dario." Yah... Dario adalah nama dari putra Jacob.


"Kami sudah mencarinya ke segala penjuru, Ketua. Tidak ada orang satu pun di sini," jawab orang itu pada orang yang ia panggil ketua.


"Apa kau mencariku?" mereka yang mendengar suara itu menoleh ke arah sumber suara.


Siapa lagi kalau bukan Sean, entah muncul dari mana dia. Tiba-tiba saja dia sudah berada di sana dengan senyuman miring ia tunjukkan pada orang-orang di dalam mensionnya.


Sementara di sisi rumah Diva dalam waktu bersamaan...


Satu persatu bawahan dari Dario muncul dan mulai menyerang anak-anak buah Julian yang bertugas di rumah megah itu. Mereka mencoba untuk membantai anak-anak buah Julian, tetapi sayangnya usahanya itu tidak berjalan mulus. Mereka mengira jika orang-orang yang berjaga di sana hanyalah orang baisa, ternyata tidak.


Anak-anak buah Julian melawan mereka yang mencoba untuk masuk, pukulan demi pukulan mereka layangkan satu sama lain. Para bawahan Dario itu pun satu persatu muncul ke permukaan karena teman-temannya yang bisa di kalahkan oleh anak buah Julian. Karena mulai banyaknya bawahan dari Dario, anak buah Julian pun juga keluar satu per satu untuk melawan mereka.


Baku hantam dan senjata tidak bisa di hindari lagi, untuk Riko dia masih menunggu waktu yang tepat untuknya muncul ke permukaan.


Kembali lagi ke sisi Sean...


"Apa kau mencariku? Kalian sangat bod*h, begitu saja kalian tidak bisa menemukaku." Sean menunjukkan senyum miringnya pada mereka yang tengah berada di dalam sana.


"Kalian tidak beccus sama sekali! Serang dia dan bawa dia pada Tuan Dario," pintahnya pada beberapa anggota yang ada di sana.


Sean menembakkan pelurunya ke arah kaki-kaki mereka. Mereka terkejut dengan tindakan yang di lakukan oleh Sean, untung saja jika peluruh-oeluruh itu tidak mengenai kaki-kaki mereka. berondong-berondongan peluruh itu masih di berikan oleh Sean pada mereka, guna mencegah mereka maju untuk menyerangnya.

__ADS_1


__ADS_2