
"Tentu saja tidak boleh. Kau sudah menjadi milikku, kau tetap milikku walau kau masih menolaknya. Tapi itu tidak bisa di bantah, milikku tetap milikku," tegas Julian dengan menekankan setiap kalimatnya. Fany di buat bungkam terdiam dengan ucapan dari Julian.
Fany memandang ke arah lain tidak menyahuti ucapan Julian." Jeeennn...," teriaknya saat melihat Jennifer.
Fany berlari menghindari Julian di sana, dia sedikit malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia berlari mendekat ke arah Jennifer yang tengah bersantai bersama Gerald. Julian memandang Fany yang tengah berlari menghindarinya.
"Haiissh... ternyata dia tidak mau mengaku." Julian memilih untuk menyusul Fany yang berlari ke arah Jennifer.
Mereka semua tengah berkumpul di kedai teh asli China, suasana yang di bangun sedemikian rupa di sana membuat mereka seperti benar-benar berada di China. Sejenak Fany dan Julian melupakan pembicaraan yang mereka bicarakan, sekarang mereka tengah menikmati nuansa yang ada dan saling bercanda dengan yang lainnya. Tanpa ada rasa canggung, yang ada hanya kesenangan dari masing-masing pasangan.
Tentu saja di sana Julian bersikap seperti biasanya, tetapi tetap saja mereka bersenang-senang.
Satu minggu kemudian...
Seorang laki-laki dengan poster tubuh yang tegap itu kini berdiri di dekat jendela dengan menghisap rokok di tangannya. Asap mengepul setelah ia hembuskan ke udara, dirinya kini tengah menikmati hari di mana berada di tempat tinggal barunya. Ia sudah selama satu minggu berada di sana, suasana malam sunyi yang menenangkan sangat pas untuk menikmati sebatang rokok.
"Bagaimana?" ia kembali menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Ini yang saya dapatkan, Tuan. Tidak hanya memiliki saudara perempuan, dia juga sedang dengan wanita. Wanita itu tidak lain temannya sendiri dari waktu kecil. Anda bisa melihatnya sendiri." Di berikannya map ciklat yang berisi beberapa informasi dan beberapa lembar foto di sana.
Orang yang ia panggil tuan itu pun melihat satu per satu informasi yang baru saja di bawah oleh bawahannya. Satu tangannya sedang memegang laporan yang baru ia dapat, dan tangan satunya lagi masih setia memegang rokoknya. Ia nampak berpikir-pikir saat melihatnya.
"Hmmm... bagaimana jika Tuan William kehilangan anak-anaknya? Sepertinya akan menarik, aku ingin membuatnya hancur," ujarnya saat di sana.
"Jika aku tidak bisa menyerangnya langsung, maka aku akan menyerang melalui putranya. Aku ingin dia juga merasakan kehilangan seperti yang aku rasakan," sambungnya lalu meletakkan berkas itu di atas mejanya.
"Lalu, apa yang akan Tuan rencanakan. Bukankah Tuan memintaku menyelidiki anak itu?" tanya anak buahnya bingung.
"Kita mulai dari putranya dulu, kita renggut kebahagiaan dari putranya. Setelah itu baru dirinya," jawabnya.
__ADS_1
"Aku ingin membalas berlipat-lipat di sini," sambungnya lalu menghisap rokoknya kembali. "Kau terus awasi anak itu," pintanya lalu di angguki
oleh bawahannya.
la kembali meminta bawahannya untuk keluar, dengan di temani sebatang rokoknuya dia berada di ruangan pribadinya. Orang itu sepertinya mempunya dendam kasumat pada keluarga William, jika tidak, mana mungkin jika dia harus datang ke Berlin dan mencari tahu keluarga William.
Markas Kingdom....
Julian berjalan dengan santainya ke arah anak-anak buahnya yang sedang berkumpul di sana. Terlihat jika mereka sedang membuka bingkisan besar di sana, Julian ingin tahu apa yang sedang di lakukan oleh anak-anak buahnya.
"Kalian sedang apa?"
"Kami sedang membuka paket yang baru kami terima, Tuan. Kami membuat seragam khusus untuk kelompok kami," jawab salah satu anak buahnya.
Julian terlihat mengintip anak-anak buahnya yang sedang membongkar baju-baju. Salah satu anak buahnya berdiri dan mendekat ke arah Julian.
"Bagaimana, Tuan Muda? Bagus bukan?" ia menempelkan bajunya di tubuh Julian sampai dirinya sedikit terhuyung ke belakang. Sepertinya, anak buahnya sengaja untuk mengerjai Julian.
Semuanya mengerumuni Julian dan menempelkan bajunya pada tubuh Julian. "Haaiiissh!" sentaknya karena semuanya mengerumuninya dan mencocokkan baju mereka di tubuhnya.
Semua anak buahnya hanya meringis mendengar sentakan Julian. "Apa kalian sedang mengerjaiku!?"
"Kita kan hanya mencocokkan baju, Tuan Muda. Anda jangan marah-marah," ujar salah satu dari mereka.
"Kenapa kalian tidak mencocokkan pada diri kalian sendiri, hah!?" sengalnya dengan berkacak pinggang di hadapan anak-anak buahnya.
"Karena sangat cocok kalau berada di tubuh Tuan Muda," sahut salah satu lagi dari mereka.
"Ya sudah kalau begitu, berikan semuanya padaku." Julian meminta baju-baju itu dari anak buahnya.
__ADS_1
"Eeeh...memangnya untuk apa, Tuan Muda? Baju-baju Tuan Muda kan pasti sudah banyak dan mahal-mahal, kenapa meminta baju kami?" timpal anak
buahnya yang sedikit berani di sana. Terkadang mereka juga bersikap seperti Julian untuk menghadapi sikap Julian yang tengil di sana.
"Bukankah kalian sendiri yang mengatakan kalau baju-baju itu sangat cocok untukku? Jadi biarkan aku memintanya dari kalian," jawab Julian.
"Jangan dong, Tuan Muda. Ini kan khusus untuk kita, Tuan Muda sebaiknya cari yang lebih bagus lagi dari pada baju-baju ini." Tunjuknya pada Julian.
Kali ini mereka mengerjai Julian, biasanya Julian yang mengerjai mereka. Mereka mengimbangi sikap Julian yang biasanya menjengkelkan jika berada di markas.
"Sejak kapan kalian berani membantahku?" Julian kembali berkacak pinggang di sana. Baru kali ini kalau anak buahnya mengerjai dirinya.
"Kami tidak membantah, Tuan Muda. Kami hanya mengusulkan pada Tuan Muda," jawabnya yang tidak ada rasa takut.
"Hah! Pintar sekali kalian menjawab!? Sejak kapan kalian selalu menjawab setiap ucapanku?" wajah Julian di buat sedikit garang di sana. Namun anak-anak buahnya tidak ada yang takut dengannya, tetapi kalau Julian sudah marah mereka akan menunduk tidak berani melihat wajah Julian.
"Apa kita harus diam di saat anda bertanya, Tuan Muda?" tanyanya dengan tampang polosnya.
"Hah, sudahlah. Terserah kalian." Julian memutuskan pergi sana karena merasa sedikit kesal.
"Sejak kapan mereka berani deganku? Dasar! Kalau aku potong gaji mereka baru tau rasa kalian," gerutunya di sepanjang perjalanannya. Anak buahnya hanya terkikik melihat kekesalan Julian yang pergi meninggalkan mereka. Meraka kembali sibuk sendiri dengan baju-baju yang baru saja mereka terima.
Keesokan harinya...
Entah kapan datangnya tiba-tiba saja Julian sudah berada di rumah Fany, Fany yang melihatnya itu terlihat sedikit kaget saat Julian melambaikan tangannya padanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kau yang santai saja, jangan marah-marah tidak baik untuk kesehatanmu," ujar Julian.
__ADS_1
Fany memutar kedua bola matanya malas. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Fany kembali bertanya pada Julian.
"Hmmm... aku ingin mengajakmu keluar," jawabnya enteng.