Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 81


__ADS_3

Diva dan twin J yang mendengar suara Ana itu pun ikut menoleh.


Sean segera memeluk tubuh Ana yang saat ini marah padanya. Sean mencium pucuk kepala Ana dengan lembut.


"Duduklah, aku ambilkan P3K untukmu." Ketus Ana melangkah pergi mengambil kotak P3K untuk Sean.


Sean menurut saja dengan apa yang di katakana oleh Ana, dari pada nanti ia terkena sembur lebih besar.


"Papii.. papii..." ucap Jennifer mendekat ke arah Sean. Sean tersenyum melihat kedua anaknya yang sudah tumbuh pesat itu.


Tidak lama kemudian, Ana kembali dengan membawakan kotak P3K dan sebaskom air yang di bawakan oleh maid untuk membasuh luka Sean.


"Lepaskan kemejamu." Perintah Ana dengan sedikit ketus.


Sean menurut saja dengan yang dikatakan oleh sang istri, untungnya dia juga memakai baju sebahu.


Ana mencoba membasuh luka Sean terlebih dahulu agar tidak infeksi. Ana sedikit menekan kuat luka Sean hingga dirinya berdesis kesakitan.


Dari pada Ana marah padanya. Ia membiarkan saja apa yang dilakukan padanya.


Sedangkan di sisi sebaliknya, Leon keluar dari dalam mobilnya dengan wajah yang terlihat pucat karena mengeluarkan banyak darah.


"Boss..." pekik anak buahnya yang melihat Leon berlumuran banyak darah.


la terjatuh tak sadarkan diri, anak buahnya segera membawa ke dalam dan menolongnya terlebih dahulu.


Ana mengobati luka Sean secara perlahan dengan sangat telaten.


"Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan di luar? Kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya Ana sambil membersihkan sisa-sisa darah yang masih menempel.


"Aunty kayak gak tau uncle saja. Pasti bergelut lah itu sudah biasa kalau uncle dulu pulang ada luka seperti itu." Sahut Diva pada Ana. Yang memang dulu Sean sering bertarung tengah malam dengan membawa oleh-oleh yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


Diva sepertinya sudah sangat hafal jika Sean terluka, berarti dirinya sedang bertarung dengan musuhnya yang ada di luaran sana.


"Apa itu benar?" Ana kembali bertanya dengan sedikit sewot. Sean hanya mengangguk pasrah karena Diva sudah menjawabnya tadi.


"Kenapa kau suka sekali bertarung? Bukankah anak buahmu banyak dan di mana-mana? Kenapa tidak mereka saja yang bertarung dengan musuh-musuhmu?" Ana kali ini dalam mode cerewetnya. Sedari tadi ia marah dengan Sean.


"Nanti kalau hanya mereka yang aku perintahkan mereka akan berfikir jika aku pemimpin yang tidak becus ." Jawab Sean. Tentu saja Sean tidak mungkin membiarkan anak buahnya melawan musuhnya sendiri. Dia juga adalah pemimpin, pemimpin juga harus bisa memberikan perlindungan juga pada anak-anak buahnya. Bukan hanya anak buahnya saja yang melindungi sang majikan.


"Kau itu sama saja dengan Diva, selalu suka menjawab." Ketus Ana. Padahal dirinya sendiri tadi yang mencerca Sean dengan segudang pertanyaan. Sepertinya kali ini mode sensitif Ana muncul juga.


"Kenapa Diva yang di bawa-bawa? Diva kan sedari tadi diam." Sengal Diva karena namanya di kambing hitamkan oleh sang aunty.


"Apa karena ini yang membuatmu baru pulang?" omelnya lagi.


"Iyaa... tadi dia mengikutiku. Aku membawanya dan memberinya pelajaran di tempat yang sepi. Dari pada dia mengikuti ke sini dan melihatmu nanti." Jawab Sean dengan jujur.


"Apa kau melawannya sendiri?" Ana kembali bertanya. Sean mengangguk menjawab pertanyaan dari Ana.


"Aku melawannya secara jantan, sayang. Aku akan bersama anak buahku jika memang sudah sangat genting Jawab Sean.


"Sudah sana bersihkan dulu dirimu, setelah itu makan." Perintah Ana.


"Maafkan aku." Sean memeluk tubuh Ana.


"Maafkan aku jika sudah membuatmu cemas seperti itu." Sambung Sean meletakkan dagunya di pundak Ana.


"Tidak apa-apa. Asal nanti kau harus lebih berhati-hati, aku tidak bisa menyalahkanmu untuk hal ini. Semua pasti akan ada resiko sendiri-sendiri dengan apa yang kita kerjakan." Jawab Ana mencoba mengerti dengan pekerjaan Sean.


Jelas saja Ana pasti akan sedih dan cemas dengan Sean, pekerjaan yang ia lakukan tidak main-main. Bahkan suatu saat pasti akan merenggut nyawa sang suami. Tapi, Ana juga tidak bisa egois. Jika Sean tidak berada di dunia bawah pun, musuh mereka di dunia bisnis juga pasti sangat banyak.


"Jika aku bisa, aku pasti sudah menyuruhmu untuk meninggalkan dunia bawah itu. Tapi, aku juga tidak bisa egois. Bohong jika aku tidak cemas saat melihatmu terluka seperti ini, aku juga selalu memikirkan mu jika di luaran sana." Sambung Ana mengeluarkan isi hatinya.

__ADS_1


"Aku juga di rundung rasa takut, aku takut jika mereka akan mengincar Diva dan anak-anak kita. Mereka masih kecil, belum tahu apa-apa Sean." Imbuh Ana meneteskan air matanya.


Sean memeluk erat Ana kali ini, agar dirinya merasa tenang dan tidak di liputi rasa takut.


"Aku ada di sini, sayang. Aku yang akan melindungi kalian semua, selama aku ada, semua akan baik-baik saja ." Sean mengusap air mata Ana yang terjatuh.


"Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis. Percaya padaku, semua pasti akan baik-baik saja." Sambung Sean menenangkan Ana.


Ana memeluk Sean dan menumpahkan apa yang ia rasakan saat ini. Twin J yang melihat sang mami menangis itu pun ikut menangis bersamaan.


Diva mencoba membujuk mereka tapi semua itu percuma saja usahanya.


"Tenangkan dirimu, oke. Semua akan baik-baik saja. Jangan menangis lagi, lihatlah, mereka ikut menangis." Ujar Sean. Ana menyeka air matanya dan menenangkan twin J agar tidak menangis lagi.


Keduanya kembali tenang seperti biasa dan melanjutkan permainan mereka lagi. Sean menuju ke kamarnya di lantai atas dan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum makan malam bersama.


Rumah sakit....


Anak buahnya mondar mandir kesana kemari menunggu hasil operasi selesai.


Mereka berharap-harap cemas mengenai keadaan bossnya yang tertembak tadi.


Orang-orang itu adalah anak buah dari Leon. Mereka segera membawa Leon ke rumah sakit setelah melihat keadaan Leon yang sudah kehabisan banyak darah.


"Kemana kepergian boss tadi? Dan siapa yang sudah melakukannya?" tanya salah satu anak buahnya yang ada di sana.


"Entahlah, tadi dia berkata jika dia akan mencari tahu sendiri. Apa mungkin tadi...?" ucapannya terjeda.


"Apa jangan-jangan tadi boss bertarung dengan musuhnya yang ada di sini itu?" tebak rekannya yang bersamanya.


"Sepertinya iya. Lalu, apa yang akan kita lakukan? Jika kita menyerangnya, kita semua kan mati sia-sia di sini." Jawab temannya tadi.

__ADS_1


"Tidak-tidak... sebaiknya kita tunggu nanti boss membaik. Kita pasti akan kalah melawan mereka. Kau hubungi tuan Rey mengenai hal ini." Saran temannya yang memang masuk akal.


__ADS_2