Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 53 Sikap Manis Sean


__ADS_3

"Kita masuk ke dalam, matahari sudah sangat terik." Ajak Sean. Ana mengangguk setuju dengan ajakan Sean.


Mereka masuk ke dalam, tak lupa Sean membawakan wadah salad buah milik Ana. Ana menuju ke ruang keluarga, sedangkan Sean ke dapur terlebih dahulu. Entah apa yang akan dia lakukan.


Tak lama kemudian, Sean menyusul Ana dengan membawakan segelas susu untuk Ana. "Ini, minumlah dulu. Agar mereka sehat di sana," Sean meletakkan segelas susu itu di meja.


"Kau yang membuatkan untukku?" Sean mengangguk. Ternyata Sean sudah mulai bisa berkutat dengan alat-alat dapur. Mungkin karena Ana yang terkadang sering memintahnya untuk membuatkan sesuatu untuk dia makan.


"Terima kasih..." Ana tersenyum senang. Meskipun itu hanya segelas susu buatan Sean, tapi itu sudah membuatnya senang. Hal sederhana yang membuat setiap wanita merasa di ratukan.


Ana meneguk susunya hingga separuh. Tak lama kemudian, suara lengkingan Diva terdengar nyaring. "Aunty.... Diva pulaaaang," Teriak Diva di ambang pintu. la berlari kearah Ana yang sudah terduduk di sebelah Sean.


"Kenapa uncle sudah pulang?" Tanya Diva melihat Sean yang sudah berada di mension. "Uncle mau menemani aunty di rumah. Biar tidak kesepian," Jawab Sean.


"Pasti uncle bohong." Seru Diva.


"Tidak, uncle tidak bohong," Jawab Sean lagi.


"Mami bawa apa? Kenapa banyak sekali?" Tanya Ana melihat mami Sean menenteng beberapa papper bag di tangannya.


"Ini mami ada sesuatu buat kamu, kamu pasti akan suka. Bukalah," ucap mami Sean meletakkan pepper bag yang ia bawa di atas meja.


Ana membuka papper bag itu satu per satu. Dilihatnya beberapa baju bayi, sepatu dan lainnya. Baju-baju dan sepatu-sepatu bayi itu terlihat lucu dan menggemaskan.


"Ini lucu sekali, mi," Ucap Ana melihat-lihat beberapa pasang baju dan sepatu kembar itu.


"Mami sengaja memilihkan warna-warna netral. Biar nanti bisa di pakai laki-laki atau perempuan," Jawab mami Sean. Mereka semua sepakat untuk tidak melihat dulu apa jenis kelamin calon buah hati Sean dan Ana. Agar nanti menjadi kejutan untuk semuanya.


"Terima kasih banyak, mi."


"Yasudah, mami pulang dulu ya. Nanti papimu tidak


bisa diam. Mami akan sering-sering datang kesini." Pamit


mami Sean lalu melangkahkan kakinya keluar. "Aunty... Diva mau berbicara sama adik-adik." Diva meminta izin pada Ana.


"Kemarilah. Ajak mereka berbicara," Diva mendekat kearah Ana dan mengelus pelan perut Ana.


"Haii adik-adik kecil... kalian kapan keluar? Kakak sudah tidak sabar mau mengajak kalian bermain," Sapa Diva. Namun sayangnya, sapaan Diva tidak mendapat respon dari mereka.


Diva mengerutkan keningnya, "Kenapa mereka tidak menyahuti, Diva?" Keluh Diva karena tidak mendapat respon.


"Mungkin adiknya ngambek sama Diva," Sahut Sean


di sana.


"Massak iya... kenapa mereka bisa ngambek? Kan Diva tidak berbuat apa-apa?" Ucap Diva tidak percaya dengan ucapan Sean.


"Benar yang uncle katakana, adiknya ngambek sama Diva. Itu buktinya, mereka tidak mau merespon Diva." Ujar Sean lagi pada Diva. Sepertinya, dia ingin sekali mengerjai Diva.


"Nggak percaya Diva sama uncle," Ketus Diva.


Dia kembali mendekat kearah perut Ana, "Hai adik-adik comelnya kakak Diva... masak iya ngambek sama kakak cantik, gak jadi kasih ice cream deh kalau gitu," Gombalan maut Diva keluar kali ini. Namun sayang sekali, mereka masih tidak merespon Diva. Mungkin yang di katakan oleh Sean benar adanya, jika mereka ngambek.


Sean seketika tertawa mendengar perkataan Diva, "liish... apa sih uncle. Nggak ada yang lucu kok." Sungut Diva pada Sean.

__ADS_1


"Adiknya mana boleh makan ice cream Diva, mereka tidak boleh makan ice cream," Sahut Ana.


"Gimana? Adiknya mau tidak?" Ejek Sean pada Diva. Diva melengoskan wajahnya kearah lain..


"Apa mereka bisa ngambek, aunty? Kenapa mereka tidak merespon Diva?"


"Tidak, mungkin mereka sedang tidur di sana," Jawab Ana asal agar Diva tidak ngambek parah. Ana juga tidak tahu, kenapa mereka tidak merespon Diva kali ini. Biasanya, setiap ada yang mengajaknya berbicara mereka selalu merespon.


"Benarkah itu?" Tanya Diva yang sepertinya tidak percaya.


"Iya... biarkan dulu mereka tidur. Nanti Diva ajak mereka berbicara lagi, ya," Jawab Ana meyakinkan Diva. Jika saja Diva termakan dengan omongan Sean tadi, mungkin bisa-bisa dia ngambek berhari-hari.


Malam harinya...


Sebelum tidur, Sean dan Ana menyempatkan untuk melihat acara TV sejenak sambil bersantai. Saat ini, Sean memindahkan kamar mereka di lantai bawah. Tidak mungin jika nanti mereka akan naik turun. Apa lagi dengan kondisi perut Ana yang sudah membesar itu.


"Sean... aku ingin makan steak." Ujar Ana


"Steak? Apa kau lapar?" Ana menganggukkan kepala.


"Tapi, kita baru saja makan malam."


Nafsu makan Ana memang sangat meningkat saat hamil, terkadang bisa sampai 3 porsi sekali makan. Awalnya Sean di buat bingung, tapi setelah mendapat tutur kata dari sang mami, Sean mencoba untuk memahami. Karena memang wanita saat hamil hormonnya berbeda-beda. Bagi sean lebih baik Ana makan 3 porsi sekali makan dari pada tidak ingin makan sama sekali.


"Tapi aku menginginkannya. Aku mau steak ayam, dengan bumbu black paper. Sepertinya sangat enak." Ana membayangkan makanan tersebut.


"Apa kau sunggu menginginkannya?" Ana mengangguk cepat.


"Apa kau ingin aku yang membuatnya?"


"Boleh, buatkan aku." Wajah Ana sumringah mendengarnya.


Sean sudah banyak belajar dari para maid yang ada dimension ataupun dengan Ana langsung, jadi untuk saat ini dia tidak kerepotan lagi jika Ana menginginkan sesuatu. Meskipun terkadang masih bingung dengan setiap bumbu-bumbu yang di gunakan.


Sean mengambil semua bahan-bahan yang ada di kulkas.


"Duduk saja. Biar aku yang memasaknya sendiri. Tunggu saja, oke." Ujar Sean lembut. Ana menuruti apa yang di ucapkan Sean. Ia duduk di kursi yang berada di dapur sambil melihat Sean memotong-motong setiap bahan yang di gunakan.


Pandangan Ana tidak pernah lepas dari Sean yang menggunakan apron. Sean yang biasanya memakai setelan jas mahal, sekarang ia terjun untuk memakai apron demi sang istri.


Ana bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Sean. Ia memeluk tubuh Sean dari belakang.


Sean merasakan perut Ana yang sudah menonjol di punggungnya. "Ada apa? Nanti pesananmu tidak jadi-jadi kalau begini."


"Tidak ada. Kau terlihat manis jika memakai apron ini." Jawab Ana yang masih memeluk Sean. Sean masih fokus memotong bahan-bahan yang di gunakan untuk membuat steak.


"Benarkah itu? Apa kau hanya ingin merayuku?" Tanya Sean.


"Tidak... aku tidak merayumu. Yang aku ucapkan benar." Jawab Ana.


"Ya ya ya... kau memang istriku yang manis. Sekarang duduklah dulu, biar steak yang kau minta cepat selesai."


"Baiklah, aku akan menunggu kembali." Jawab Ana lalu melepaskan pelukannya. Ia kembali duduk ditempatnya tadi.


Sean kembali fokus dengan apa yang dilakukan.

__ADS_1


Hingga 45 menit kemudian, Sean sudah menyelesaikan steak yang ia buat.


"Ini, cobalah." Sean memberikan steak itu pada Ana. Mata Ana berbinar-binar melihat steak buatan Sean di depannya.


"Waahh... sepertinya ini enak sekali." Ucap Ana. Ana segera mencoba steak buatan Sean.


"Bagaimana? Apa Enak?" Tanya Sean setelah Ana mencicipi satu suap steak buatannya.


"Emmm... lumayan. Tapi, rasanya kurang asin sedikit. Tapi aku suka." Jawab Ana. Ana kembali memotong steak di depannya lalu menyuapkan pada Sean. Sean membuka mulutnya menerima suapan dari Ana.


Sean mengecap steak buatannya. Ekspresinya sedikit terlihat aneh saat mencicipinya. "Ana, kenapa kau makan. Rasanya hambar sekali." Sean menjauhkan steak buatannya dari hadapan Ana.


"Kenapa kau mengambilnya. Aku belum menghabiskannya Sean." Kesal Ana pada Sean.


"Steak ini tidak ada rasanya. Tidak layak di makan."


"Tapi aku suka. Sini biar aku habiskan." Ucap Ana. Sean masih tidak memberikannya pada Ana. Ia merasa sedikit kecewa dengan masakan yang ia buat Ana. Tapi, kenapa Ana mau memakannya? Pikirnya.


"Sini Sean." Pekiknya karena Sean tak kunjung memberikannya.


"Tidak. Biar aku suruh maid untuk membuatkannya lagi untukmu." Jawab Sean.


"Tidak, aku tidak mau. Aku lebih suka buatanmu."


Ana ngotot untuk memakannya kembali. Bagaimanapun juga, Ana juga harus bisa menghargai usaha suaminya yang sudah repot-repot memasakkan untuknya.


"Sean... biarkan aku memakannya. Atau aku akan marah padamu?" Kuekehnya.


"Tapi..."


"Sudah diamlah. Apa kau tega membuat anak dan istrimu ini kelaparan?" Pekik Ana. Mau tidak mau, Sean memberikan steak itu kembali pada Ana. Ana memakannya dengan lahap sekali.


Tengah malam...


Sean mendapatkan panggiln telfon dari salah satu anak buahnya yang ada di markas. Sean segera menjauhkan dirinya dari Ana dan mengangkat telfon tersebut.


"Maaf tuan, ada yang menyerang gudang persenjataan." Ucapnya dari seberang sana. Rahang Sean mengeras mendengar laporan dari anak buahnya.


"Apa kalian sudah mengatasinya?" Tanya Sean. Karena memang selama ini, ia sangat berhati-hati dalam dunia bawahnya. Ia memerintahkan Riko untuk menangani setiap masalah yang ada.


"Sudah tuan. Tapi, mereka masih tidak mau mundur. Mereka terus saja menyerang." Jawabnya.


"perintahkan semua anggota yang ada di sana untuk terus menyerangnya. Panggil Riko untuk mengatasinya." Perintah Sean. Ia pun mematikan ssambungan telfonnya.


"Sial... siapa lagi yang melakukannya. Aku akan melihat kesana sebentar." Sean memandang wajah Ana yang tertidur dangat pulas.


Tanpa berlama-lama Sean berganti baju serba hitamnya untuk datang ke sana dan membantu sedikit anak buahnya.


Selesai berganti baju, Sean segera keluar. la mendekat dan mencium singkat kening Ana.


"Aku akan segera kembali." Ucap Sean lalu melangkahkan kakinya keluar. Ana terbangun saat Sean mencium keningnya,


tapi ia tidak membuka matanya. Saat Sean berbalik Ana melihat Sean keluar dengan menggunakan pakaian serba hitam. Yang menurut Ana sangat aneh sekali. "Sean..." gumamnya saat Sean menutup pintu.


"Kenapa dia memakai pakaian serba hitam seperti itu? Tidak biasanya."

__ADS_1


"Mau pergi kemana dia tengah malam seperti ini?" Sambung Ana setelah melihat jam yang terpampang di kamar tersebut.


Ana tidak bisa memejamkan matanya setelah kepergian Sean. Ia mencoba untuk menghubungi Sean, tapi sepertinya Sean menonaktifkan ponsel miliknya. Ana terus bertanya-tanya kemana kepergian Sean sebenarnya.


__ADS_2