Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 51 Ganjaran Keluarga Lita


__ADS_3

"Kau tidak ada hak untuk membentak istriku." Sambung Sean dengan wajah yang sudah tidak bisa di gambarkan.


"Sean... tenangkan dirimu." Ana mengelus lengan Sean agar suaminya itu bisa tenang.


"Nyonya..." ." James menggelengkan kepala pada Ana. Yang artinya, jangan pernah mencegah Sean di saat dirinya sedang marah.


"Tuan... tolong maafkan kami, tuan. Kami berjanji padamu, jika kami tidak akan berbuat buruk lagi pada Ana." Paman Ana kembali memohon.


"Ana... tolong paman untuk membujuk suamimu." Ujar paman Ana memandang pada Ana. Paman Ana sedikit menurunkan harga dirinya agar dia tidak kehilangan harta miliknya.


la mencoba sedikit lembut pada Aba. Padahal, sebenarnya paman Ana juga tidak pernah menyukai Ana.


"Ana... bujuk suamimu ini untuk mengembalikan perusahaan kami." Bibi Ana tidak pernah bisa bersikap lembut meskipun di hadapkan seperti ini.


Entah memang hatinya sudah mati atau bagaimana.


"Heh wanita tidak tahu diri. Suruh suamimu itu mengembalikan perusahaan milik papaku." Lita sangat berani. Bahkan mereka sudah di ambang kehancuran saja bicaranya tidak bisa lembut.


Entah dulu terlahir dari apa Lita waktu itu.


"Jaga bicara kalian." Bentak Sean sampai suaranya menggelegar seluruh mension. Semua maid yang bersembunyi menutup telinga mereka ataupun mengelus dadanya.


Meskipun mereka sudah pernah melihat kemarahan Sean, tapi tidak seperti marah ini.


Ana yang berada di samping Sean pun tidak kalah terkejut dengan suara Sean yang sangat keras menggelegar itu. Baru kali ini dirinya melihat kemarahan Sean.


Diva memeluk erat tubuh Ana karena takut melihat kemarahan Sean.


Keluarga paman dan bibi Ana merasa gemetar melihat Sean yang sedang murka itu.


"Tuan... jangan sampai lepas kendali. Jangan membuat nyonya terkejut, nanti bisa berimbas ke kandungannya." Bisik James pada telinga Sean.


Sean menoleh kearah Ana yang sedang merasa terkejut bercampur takut melihat kemarahannya.


"Bawa Ana dan Diva menjauh dari sini." Perintah Sean yang pandangannya kembali fokus pada keluarga paman dan bibi Ana.


"Mari nyonya." Ajak James.


"Tidak perlu, tuan James. Aku mau di sini. Jangan melarangku." Sengal Ana pada James. James memandang kearah Sean. Sean hanya membiarkannya saja.


"Bukankah aku sudah mengatakan pada kalian untuk menjaga sopan santun kalian saat di sini?"


"Tidak ada maaf ataupun ampun untuk kalian. Apa yang kalian dapatkan kali ini memang pantas untuk kalian. Apa yang kalian miliki, detik ini juga sudah lepas dari kalian." Sambung Sean dengan sorot matanya yang sangat tajam.


"Tidak... jangan lakukan ini pada kami tuan. Bagaimana nasib kami kedepannya, tuan. Hanya perusahaan itu yang kami punya." Ucap paman Ana memohon.


"Kenapa kau tega melakukan ini pada keluarga istrimu sendiri tuan?" Bibi Ana menyahutinya.


"Disaat seperti ini kalian menganggapnya keluarga? Lalu dimana kalian selama ini? Apa kalian pernah menganggapnya sebagai keluarga kalian saat dia bersamamu?" Sean kembali membalas perkataan keluarga bibi Ana.

__ADS_1


"Jangan harap kali ini kalian bisa memintanya untuk membantu kalian semua." Imbuh Sean dengan tegasnya.


"James Hanguskan sisa saham yang ada pada perusahaannya." Perintah Sean pada James. James pun


melakukan apa yang di perintahkan Oleh Sean.


Keluarga paman dan bibi Ana kembali. membelalakkan matanya lebar-lebar mendengar perkataan Sean.


"Siap-siap kalian angkat kaki dari kota ini." Sambung Sean.


Ana langsung menoleh cepat kearah Sean. " Sean ... jangan biarkan mereka pergi dari kota ini, Sean. Aku mohon." Ana mencoba membujuk Sean. Bagaimanapun juga, mereka yang telah menampung Ana selama ini..


""Tuan... maafkan kami tuan. Jangan biarkan kami pergi dari sini. Kami tidak tau harus tinggal di mana." Ucap paman Ana. Bibi Ana dan Lita hanya berdiam diri tidak ingin memohon pada Sean. Sedari tadi hanya paman Lita lah yang memohon.


"Aku tidak peduli bagaimana nanti kalian di luar sana. Apa kalian juga pernah berfikir bagaimana nasib Ana saat di luar sana?" Sean tidak tinggal diam kali ini. Sean memberikan pelajaran yang setimpal pada keluarga paman dan bibi Ana.


"Ana... tolong selamatkan bibi, Ana. Bibi tidak mau pergi dari kota ini. Tolong bibi Ana, harus tinggal di mana bibi nanti? Perusahaan pamanmu juga sudah mengalami bangkrut di tangan suamimu." Kali ini bibi Ana yang memohon. Dia memang memohon, tapi sama saja perkataannya. Seperti menyalahkan Sean karena perusahaannya sudah bangkrut.


"Apa kau menyalahkanku, nyonya?" Tatapan tajam Sean tertuju pada bibi Ana


"Harusnya kalian malu, kalian sudah mengusirnya begitu saja tapi kalian mengemis padanya kali ini." Sarkas Sean pada mereka.


"Ooohh... tidak... bahkan kalian masih tidak merasa bersalah dan justru menyalahkanku. Sebenarnya hati kalian berfungsi atau tidak?" Celetuk Sean.


Lita tidak terima dengan ucapan Sean. Lita merasa jika keluarganya telah di hina habis-habisan oleh Sean.


"Sebenarnya, siapa yang tidak tahu diri di sini, nona?


Dirimu, atau istriku?" Seru Sean. Kesabarannya sudah sampai di ubun-ubun menghadapi keluarga bibi Ana.


"Sekarang kalian pergi dari sini. Semua aset yang kalian punya sudah aku berikan pada yang membutuhkan. Aku tidak perlu dengan harta kalian." Sean mengusir keluarga bibi Ana.


"Tidak tuan.... Maafkan kami. Kami janji akan memperbaiki sikap kami pada Ana. Maafkan kami tuan, tolong jangan ambil rumah kami. Harus tinggal di mana kami?" Paman Ana kembali memohon-mohon..


"Ana... bujuk suamimu. Kembalikan rumah kami, Ana." Bukannya berbelas kasih, bibi Ana malah sedikit membentak Ana.


"Sean... aku mohon padamu sean, biarkan mereka tinggal di rumah mereka. Jangan biarkan mereka terlantar di luar sana." ana mencoba untuk membujuk Sean.


"Tidak, Ana... mereka sudah mengusirmu dari rumah. Mereka juga harus merasakan bagaimana menderitanya dirimu di luar sana." Sean mencoba menahan amarahnya saat berbicara dengan Ana.


"Pergi kalian dari sini. Aku tidak sudi melihat wajah-wajah kalian." Usir Sesn.


"Tidak... kami tidak akan pergi sebelum rumah kami kembali." Kuekeh Lita kali ini. Dia tidak ada takut-takutnya dengan Sean.


"Pergi, atau kalian aku usir paksa dari sini." Bentak Sean pada semuanya.


"Tuan... kami mohon, tuan. Beri kami kesempatan sekali lagi."


"Ana... bantu paman dan bibimu ini, Ana. Maafkan paman dan bibi." Ucap paman Ana lagi. Entah janji dan maafnya itu tulus atau tidak.

__ADS_1


"Sean..."


"Sekali tidak, tetap tidak Ana." Tegas Sean kali ini.


Ana sedikit takut dengan ucapan Sean kali ini. Dia tidak bisa membantah, tapi dia juga tidak bisa melihat keluarga paman dan bibinya terlantar diluar sana.


"Pergi dari sini. Dan tinggalkan kota ini." Usir Sean lagi.


"James, panggil mereka yang ada di luar untuk menyeret mereka dari hadapanku." Perintah Sean. sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


James pun melaksanakan perintah dari Sean.


"Tidak... Ana. Maafkan kami, Ana. Kami janji tidak akan berbuat jahat lagi padamu. Tolong bibi, Ana." Kali ini bibi Ana memohon pada Ana.


"Ana... apa kau tega melihat keluargamu di usir dari sini oleh suamimu?" Ketus Lita pada Ana. Ana sangat ingin membantu keluarga paman dan bibinya, tapi, kali ini ia sangat takut dengan Sean. Ana tidak bisa berbuat apa-apa.


Tak lama kemudian, anak buah Sean berdatangan.


"Seret mereka keluar, dan bawa mereka meninggalkan kota ini." Perintah Sean pada anak buahnya. Mereka menyeret keluarga paman dan bibi Ana keluar dari sana.


"Aaahh... tidak... lepaskan aku. Anaa..... tolong bibi Ana. Bibi tidak mau pergi dari sini." Teriak bibi Ana saat dirinya di seret oleh anak buah Sean.


"Tidak...lepaskan aku..." berontak Lita pada anak buah Sean. Tapi, usahanya sia-sia saja.


"Anaa.... Tolong bibi Ana. Bibi tidak mau pergi dari sini." Bibi Aba kembali berteriak meminta tolong.


Paman Ana hanya bisa pasrah kali ini, tapi tidak dengan bibi Ana dan Lita. Mereka terus saja memberontak.


Ana ingin mengejar mereka keluar. Namun, sebelum melangkah jauh. Tangannya sudah di cekal oleh Sean.


"Mau kemana, sayang?" Sean berucap lembut pada Anna.


"Sean...lepaskan aku. Aku ingin mengejar mereka, Sean." Ana memohon pada Sean.


Tanpa aba-aba, Sean langsung saja memeluk tubuh Ana dengan erat.


"Tidak perlu, Ana. Mereka pantas mendapat semua ini." Ujar Sean lembut.


"Tapi, Sean. Bagaimanapun juga, mereka keluargaku satu-satunya." Jawab Ana dengan wajah sedihnya.


"Jangan bersedih. Aku tidak suka melihat dirimu sedih. Mereka bukan keluargamu lagi, mereka sudah mengusirmu dari rumah. Hanya aku yang kau punya saat ini." Tutur Sean pada Ana.


Ana menangis sesenggukan karena harus melihat bagaimana nasib keluaga paman dan bibinya. sean mencoba menenangkan tangisan Ana saat ini.


Diva sedari tadi hanya diam menyimak drama orang dewasa yang ada di depannya. Wajahnya memelas tidak


karuan. Entah apa yang sedang ia rasa.


Entah menahan laparnya karena drama besar-besaran tadi, atau dirinya nelangsa karena harus jadi obat nyamuk di antara uncle dan aunty-nya

__ADS_1


__ADS_2