
"Kau tidak perlu mendekat ke arah mereka, jangan biarkan bajumu kotor dengan darah mereka." Julian melarang Jennifer untuk mendekat ke arah para tawanan itu. Jennifer tidak mengindahkan ucapan dari Julian, ia terus berjalan mendekat dan semakin mendekat ke arah salah satu tawanan itu.
"Kenapa kau diam saja? Kau tidak mencegahnya!?" pekik Julian pada Gerald yang membiarkan Jennifer mendekat ke sana dengan belati berada di tangannya.
"Untuk apa aku melarangnya? Biarkan saja dia berbuat yang ia inginkan. Dia pasti tahu apa yang ia lakukan pada musuhnya," jawab Gerald dengan santainya. Gerald memerhatikan apa yang akan di lakukan oleh Jennifer pada tawanan itu.
Julian dan Robert pun juga membiarkan saja apa yang akan di lakukan oleh Jennifer pada mereka-mereka.
Sreekk... sreekk...
Sreekk... sreekkk...
Sreekk... sreekk...
Jennifer menggores masing-masing dari mereka. Apa yang di lakukan oleh Jennifer sangat mudah seperti menggores sebuah kertas saja. Anak-anak buah di sana ngilu dengan apa yang di lakukan oleh Jennifer, mana bagian sekitar dada yang ia gores membentuk huruf X.
Sepertinya dia tidak akan memberi ampun pada tawanan-tawanan itu yang ingin menyentuh keluarganya.
"Kakakmu tidak main-main," ujar Rland melihat apa yang baru saja Jennifer lakukan.
"Dia memang bukan wanita lemah. Aku suka dengan gayanya." Julian memuji tindakan dari sang kakak yang memang tidak menunggu waktu lama.
Gerald hanya tersenyum melihat tindakan Jennifer di sana. Jennifer tidak beda darinya jika berhadapan dengan musuh. Tanpa berpikir panjang, Rolan dan Julian juga mengambil senjata masing-masing untuk ia gunakan untuk menghabisi para tawanan itu.
"Kau tidak ikut?" tawar Julian pada Gerald yang hanya berdiam diri dengan melipat ke dua tangannya di depan dadanya.
"Tidak. Sudah ada yang mewakiliku," jawab Gerald enaknya. Yang ia maksud adalah Jennifer, sedari tadi Jennifer mengoyak para tawanan itu tanpa berbasa-basi.
Teriakan demi teriakan terdengar di telinga mereka semua yang berada di sana. Hanya dirinya yang
perempuan di sana, tetapi dia juga tidak bisa di kalahkan. Julian dan Robert memilih pistol untuk di gunakan.
__ADS_1
Mereka mengangkat pistol itu dan memfokuskan padangannya. Hanya berjarak beberapa detik, mereka berdua meluncurkan peluru-peluru itu. Mereka menganggap pawa tawanan itu papan target untuk berlatih.
Door... doorr...doorr...
Dorrr... doorr... doorrr....
Suara tembakan saling bersahutan tanpa henti, hanya Jennifer yang menggunakan belati. Goresan-goresan dan luka yang di hasilkan Jennifer cukup banyak, bahkan luka dan goresan itu menganga sangat lebar. Benar-benar apa yang dia lakukan tidak ada ampun.
Tanpa waktu lama, para tawanan itu meregang nyawa satu per satu. Berondongan peluru dan goresan yang di hasilkan Jennifer dan lainnya membuat mereka dengan cepat meregang nyawa. Cairan merah kental itu seperti air yang mengalir. Andai saja di sana tidak terdapat rumput-rumput, mungkin akan seperti banjir yang mengalir.
Jennifer membuang ke sembarang arah belati yang ia bawa, ia pun mendekat ke arah Julian dan lainnya.
"Apa kau baru saja mandi?" ujar Julian melihat Jennifer yang penuh dengan warna merah di bajunya.
"Bersihkan dirimu, Babe. Kau datang ke sini dalam keadaan cantik, kau pulang juga harus dalam keadaan cantik," ucap Gerald. la biasa saja melihat penampilan Jennifer saat ini, memang tidak heran lagi jika hal itu terjadi. Darah sudah menjadi teman mereka.
Jennifer menurut dengan apa yang di katakan oleh Gerald, ia menuju ke ruang miliknya dan membersihkan diri dari noda merah yang melekat di tubuhnya.
Mereka mengangguk paham dengan perintah Julian, Julian dan Robert menyusul kepergian Jennifer dari sana. Mereka juga memutuskan untuk beristirahat sejenak dari aktifitas yang tidak ada hentinya sedari pagi.
Pagi hari yang cerah bagi Julian kali ini, ia bisa bersantai menonton TV dengan membawa cemilan untuk ia makan. Satu persatu dia memasukkan cemilan itu ke dalam mulutnya. Ia terlihat santai karena hari ini dia tidak ada kelas.
Dia jarang menonton TV di kamarnya, ia lebih sering menonton TV di ruang berkumpul. Memang lebih enak jika melihat di luar dengan di dampingi banyak makanan. Tawanya ia tahan karena dalam mulutnya penuh dengan makanan, entah apa yang ia lihat,sepertinya sangat menyenangkan.
Tumben sekali jika dia tidak mengajak Fany untuk berjalan-jalan, biasanya dia akan mengajak Fany kalau tidak sibuk.
Kriing...
Kriing...
Ponselnya berbunyi di tengah-tengah dirinya asyik menonton TV, Julian masih fokus dengan apa yang ia tonton. Tanpa memperdulikan ponselnya berdering berkali-kali.
__ADS_1
Kriing...
Kriing...
Ponselnya kembali berdering, ia sengaja jika tidak menghiraukan panggilan telpon tersebut. Maka dari itu ponselnya terus berdering. Smeendara itu di seberang sana, orang yang tengah menghubunginya terlihat sangat kesal karena Julian tidak kunjung menjawab telpon darinya.
"Haiish... anak ini ke mana? Rasanya ingin sekali aku menyeretnya paksa ke mari!" kesalnya yang tengah menunggu jawaban dari Julian.
la kembali menekan tombol hijau untuk menghubungi Julian, panggilan itu terus ia lakukan sampai Julian menjawabnya. Bukan hanya sedikit kesal, tetapi sangat sangat sangat kesal pada Julian kali ini. Padahal dirinya ingin berbicara penting pada Julian, siapa lagi dia kalau bukan Robert.
la mendengus kesal karena Julian tidak kunjung menjawabnya. "Kalau saja kau bukan pimpinan mafia disini, sudah aku lempar kau jauh-jauh!" Dia benar-benar kesal dengan Julian kali ini.
Saking kesalnya dia pada Julian kali ini, padahal hari masih pagi, tetapi dirinya sudah di buat kesal dengan Julian yang tak kunjung menjawab telpon darinya. Karena sudah sangat sangat kesal, Robert memutuskan untuk menjari nomor ponsel Jennifer di sana.
Tuut...
Tuu...
"Halo? Ada apa?" terdengar suara di seberang sana.
Jennifer to the point tidak ada basa basi apa pun di sana.
"Nona, apa Tuan Muda sibuk?" Robert juga tidak ada waktu untuk bebasa-basi lagi.
Jennifer yang berada di mension melihat Julian tengah cekikikan menonton TV. "Tidak, dia sedang asyik menonton TV.
Robert terlihat menahan kekesalannya di sana, sedari tadi dia menghubungi Julian tidak mendapat jawaban ternyata itulah alasannya. Julian tengah asyik menonton TV, sampai-sampai panggilan telpon darinya tidak di jawab oleh Julian.
"Eeeh... Nona, maafkan aku jika mengganggu waktumu. Aku sedari tadi menghubungi Tuan Muda untuk datang ke sini karena ada hal penting. Tapi dia tidak menjawab telponku, sampaikan padanya, Nona." Robert meminta pertolongan pada Jennifer karena Julian tidak menjawab telpon darinya sejak tadi.
"Baiklah, akan aku sampaikan. Kau yang sabar jika mempunyai majikan seperti itu," ujar Jennifer. Sebenarnya sudah tidak heran lagi dengan tingkah Julian, dia sendiri juga terkadang kesal dengan Julian.
__ADS_1