Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 264


__ADS_3

Julian mencoba memecah kelompok mereka dengan cara dirinya berpencar dari Fany. "Pergilah ke arah kanan, nanti akan ada anak buahku. Giring mereka ke tempat yang sudah aku tentukan. Aku akan lurus ke depan sana."


Fany mengangguk menyetujui ucapan Julian." Baiklah."


"Berhati-hatilah. Kita akan bertemu nanti di tempat yang sama," ucap Julian dengan menunjukkan kepeduliannya pada Fany. Fany pun kembali mengangguk menyetujui Julian.


Ke duanya mulai berpencar ke arah lainnya. Para antek-antek Dario di buat sedikit bingung harus mengikuti ke arah mana mereka.


"Sial! Kalau begini, kita yang di permainkan oleh mereka. Harusnya kitalah yang mempermainkan mereka ." Mereka mengumpat kesal karena merasa di permainkan oleh Julian.


"Sebaiknya kita juga berpencar. Kau ikuti anak itu, aku mengikuti perempuan itu. Aku akan menangkap perempuan itu untuk menjadikan sandra, pasti anak itu akan menyelamatkannya." Sangat percaya diri sekali jika dirinya bisa menangkap Fany.


Apa mereka tidak tahu siapa Fany? Sepertinya tidak tahu bagaimana seorang Fany. Ia hanya menganggap jika wanita itu lemah, maka dari itu dia sangat percaya diri sekali jika bisa menangkap Fany dan membawanya, sayangnya itu tidak semudah yang dirinya katakan. Mereka pun juga sepakat untuk berpencar, mereka kembali melanjutkan langkahnya untuk mengikuti Julian dan Fany.


Melihat ke sisi Ana ...


Ana sedikit tidak tenang karena memikirkan keluarga kecilnya yang saat ini tengah dalam bahaya di luar. la harap-harap cemas memikirkan Sean, Twin J dan yang lainnya. Sepanjang waktu ia selalu berdoa akan keselamatan mereka semua yang tengah berjuang.


"Ya Tuhan... jaga semua keluargaku. Jangan biarkan mereka terluka sedikit pun." Meskipun dirinya tahu jika tidak mungkin mereka tidak terluka, tetapi ia tetap meminta agar mereka tidak terluka.


Berdoa tidak ada salahnya bukan. Ana tetap berdoa yang terbaik untuk keselamatan semuanya.


"Aunty... tenangkan dirimu. Percayalah, mereka pasti akan baik-baik saja. Kau tahu sendiri bukan, kalau mereka semua orang yang kuat dan tidak terkalahkan." Sahut Diva melihat Ana tidak tenang di sana. Sebenarnya dia juga khawatir dengan suaminya, tetapi Diva mencoba untuk menutupi ke khawatirannya.


"Tetap saja Aunty khawatir pada mereka," ucap Ana.


"Tenangkan dirimu, Aunty. Sebaiknya bermainlah dengan princess, dia pasti juga tidak ingin melihatmu cemas seperti itu." Diva mencoba mengalihkan pikiran Ana.


Ana menunjukkan senyumnya dan memilih untuk bermain dengan putri kecil Diva. Meskipun di selimuti rasa cemas, setidaknya sedikit teralihkan saat dirinya bermain dengan putri Diva.


Sisi Riko...


Bugh...


Bugh...


Doorr...

__ADS_1


Doorrr...


Baku hantam dan baku tembak terjadi di antara ke dua kubu, tidak ada lagi menunda-nunda waktu untuk menyerang musuh. Riko dengan cepat melawan bawahan Dario yang bermunculan satu persatu. Perlawanan cukup sengit walau itu baru saja di mulai.


Riko berhasil menghindar dari salah satu yang mengarahkan belati ke arahnya. Pergerakannya cukup gesit untuk bisa melawan mereka semua.


Bugh... Riko juga berhasil menendang orang itu hingga tersungkur.


Bugh... bugh... bugh...


Bugh... kreek...


Riko memelintir salah satu leher dari musuh yang ada di hadapannya, hanya dalam waktu sekejab salah satu antek-antek Dario itu tewas seketika. Riko kembali melawan mereka semua yang masih terus menyerangnya.


Door...


Dorr ...


Pyaarr...


Peluru itu mengenai kaca dari rumah megahnya, sepertinya peluru yang di gunakan oleh bawahan Dario itu bukan sembarang peluru. Karena ingin mempersingkat waktu, Riko mengeluarkan senjata miliknya dan membidik mereka semua yang berdatangan.


Bugh... bugh...


Riko melayangkan bogeman pada mereka yang mendekat ke arahnya, tak hanya bogeman saja. Bahkan tendangan juga ia layangkan pada mereka-mereka yang mendekat ke arahnya. Riko tidak mau terlalu banyak berbicara atau berdebat dengan salah satu dari mereka, ia lebih mendahulukan aksinya dari pada harus berdebat tidak ada gunanya.


Beda lagi kalau dengan Julian, dia akan memainkan emosi dari lawan dengan ketengilannya. Dengan cara seperti itu akan sangat mudah untuk mengalahkan lawannya. Karena mereka sudah terbakar dengan emosi terlebih dahulu.


Mereka memang mempunyai cara tersendiri jika berhadapan dengan musuh. Untuk Riko memang tidak suka banyak berdebat yang tidak penting dan hanya membuang-buang waktu.


Dorr ...


Dorr....


Dorr...


Serentetan peluru ia keluarkan untuk melawan para antek-antek Dario.

__ADS_1


"Habislah kalian setelah ini. Aku tidak akan membuang waktu untuk menghabisi kalian semua," geram Riko.


Riko kembali mengisi pelurunya dengan cepat lalu melanjutkan aksinya kembali.


Dorr... dorr... dorr...


Dorr...


dorr...


dorr....


Dorr... dorr... dorr...


Tanpa ada jeda sedikitpun Riko memberondong mereka. Anak buah Julian menganga di buatnya melihat Riko yang terlihat sedikit brutal dalam menembak para bawahan Dario. Kalau sudah dalam mode serius, Riko tidak akan memberi ampun pada mereka semua.


Bukan hal sulit jika Riko melawan mereka yang berjumlah tidak seberapa. Memakan satu jam lamanya, pertempuran itu berhasil di akhiri oleh Riko. Ada beberapa anak buah Julian yang mengalami luka dan babak belur.


Ada juga dari mereka yang kehilangan nyawa, tetapi tidak banyak. Hanya beberapa saja, memang sudah menjadi resiko dari mereka jika terjun ke dunia bawah.


"Kalian bawa mereka yang terluka. Yang lainnya nanti, menyusullah ke tempat yang sudah di tentukan oleh Julian," perintah Riko.


"Urus mereka yang tiada. Untuk para berandal ini, bersihkan dari sini. Terserah akan kalian apakan," sambungnya.


"Baik, Tuan." Mereka pun mengurus semua apa yang baru saja di ucapkan oleh Riko.


"Bagaimana dengan anak itu?" ucapnya pada bawahannya. Ia menyambungkan sambungan telfonnya pada bawahannya yang ia perintahkan.


"Anak itu sepertinya tahu dengan apa yang kita lakukan, Tuan. Bahkan dia mengecoh kami," jawabnya di seberang sana.


"Bukan dia yang masuk ke dalam rencana Tuan, tapi kita sendiri yang masuk dalam rencana anak itu," sambungnya lagi. Siapa lagi kalau bukan Dario yang menghubungi anak buahnya, ia bertanya pada anak buahnya mengenai Julian.


Wajah Dario berubah seketika mendengar laporan anak buahnya. Ia berpikir dengan begini Julian akan kuwalahan dengan yang ia rencanakan, ternyata tidak, justru dirinya yang masuk ke dalam rencana Julian. Dia lupa atau bagaimana tentang keluarga William dan mafia yang mereka miliki.


la mengusap wajahnya kasar karena sangat kesal, itulah, harusnya dia juga memiliki rencana yang besar dan matang untuk mengalahkan Julian. Kalau sudah seperti ini di pastikan jika dirinya dan pasukannya akan kalah. Dario mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menghilangkan kekesalannya.


"Tarik semua anggota kita!" perintahnya secara tiba-tiba. Bawahannya itu pun menghentikan langkahnya saat mendengar perintah yang tiba-tiba seperti itu.

__ADS_1


"Apa tidak salah, Tuan?" ia terlihat bingung saat ini. Apakah benar jika tuannya itu akan menarik semua anggotanya.


"Tidak ada bantahan untuk ini. Suruh mereka semua kembali!"


__ADS_2