Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 263


__ADS_3

Dengan langkah santai Sean juga mendekat ke arah mereka yang berada di dalam mension.


"Siapa yang mengizinkan kalian untuk masuk ke mensionku!?" tegas Sean. Dia sangat tidak suka jika sembarang orang masuk ke kawasan mension miliknya. Apa lagi musuhnya, Sean sangat-sangat tidak suka untuk itu.


"Halo, Tuan William. Kami datang ke sini untuk sekedar bermain-main saja. Bukankah kedatangan kami semua sangat berkesan, anak buahmu juga menyambut kami semua di luar sana," ucapnya dengan sangat enteng. Dia menyapa Sean dengan sedikit sombong, dia adalah orang yang di panggil 'ketua' oleh beberapa bawahan Dario. Sepertinya, dialah yang memimpin pasukan yang menyerbu ke mansion Sean.


"Eeeem... ya... anak-anak buahku dangat menyambut kedatangan dari kalian. Aku harap nanti jika kalian pulang dalam keadaan utuh," jawab Sean yang tidak kalah santai dari orang itu.


"Hahaha... kepercayaanmu memang masih sangat melekat. Tapi, sepertinya itu tidak akan bertahan lama." Orang itu sedikit mengandung ancaman pada Sean.


"Heh, seperti tahu saja bagaimana diriku." Sean tersenyum remeh di hadapan orang itu.


"Jangan pernah berucap di hadapanku jika kau tidak ada bukti apapun. Kalian hanya beberapa semut kecil yang membesarkan diri," ejek Sean pada mereka.


Ketua itu sedikit emosi dengan apa yang di ucapkan oleh Sean. "Serang dia! Jangan biarkan dia hidup lebih lama."


Mereka yang mendapat perintah itu segera melawan seorang Sean. Sean menyambutnya dengan senang hati pada mereka-mereka.


Di waktu bersamaan di sisi Julian ...


Julian dan Fany berjalan berdampingan, mata mereka tidak hentinya melihat di sekitar. Sedikit pun mereka tidak lengah, justru ke duanya bekerja sama untuk hal ini. Ya... walau pun mereka terkadang berdebat dengan hal-hal yang tidak penting seperti biasanya.


Tahu sendiri bukan, bagaimana Julian dan Fany jika sudah di satukan. Meski pun di hal yang serius mereka tetap saja ramai dan berdebat.


"Belikan aku itu." Tunjuk Fany pada salah satu penjual ice cream di seberang jalan.


"Bukannya di rumahmu juga ada? Apa yang aku belikan 2 kulkas itu kurang?" Julian mengernyitkan alisnya pada Fany.


"Tentu yang di rumah beda. Aku mau ice cream yang seperti itu." Tunjuk Fany lagi.

__ADS_1


"Memangnya apa bedanya ice cream di rumahmu sama ice cream yang di jual oleh orang itu? Semua ice cream juga sama saja," tDivak Julian. Jiwa-jiwa pelitnya sepertinya kambuh.


"Pokoknya aku mau itu. Kalau tidak, aku akan pulang. Kau lanjutkan saja perjalananmu sendiri melihat musuhmu itu!" gertak Fany pada Julian. Ia seperti anak kecil yang sedang ngambek karena tidak di belikan mainan.


"Kenapa kau tiba-tiba seperti anak kecil?" Julian terheran-heran melihat tingkah Fany.


Harusnya Julian senang bukan, jika Fany bersikap seperti itu. Tandanya Fany mulai terbuka dengannya, tetapi seperti biasa memang Julian yang bersikap tengil.


"Ck... kau itu harusnya senang kalau aku seperti ini. Dasar memang kau pellit!" Fany melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Julian di sana.


"Heehh... kau mau ke mana?"


"Bukan urusanmu!" jawab Fany lalu melanjutkan langkahnya.


"Kalau kau melangkahkan kakimu lagi. ice cream itu tidak akan bisa kau makan." Akhirnya Julian mau membelikan ice cream yang di minta oleh Fany. Fany menghentikan langkah kakinya ketika mendengar ucapan Julian.


Julian hanya memesan satu ice cream untuk Fany. Ice cream di tangannya itu ia berikan pada Fany.


"Kau hanya beli satu?" Fany menanikkan sebelah alisnya.


"Lalu, apa aku harus membeli semua dengan penjualnya sekaligus?"


"Bukan begitu maksudku!" ketusnya. Fany mencoba rasa ice cream yang baru saja di berikan Julian padanya.


"Ini, cobalah." Fany menyodorkan ice cream tersebut pada Julian.


Tanpa rasa takut jika ice creamnya akan di habiskan lagi oleh Julian seperti waktu dulu. Julian tersenyum simpul dan mencoba satu gigitan. Kali ini Julian tidak berbuat jahil pada Fany, biasanya dia paling suka jika setelah mencoba rasa ice cream itu.


"Ayo." Fany mengajak Julian melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Tentu saja jika aktifitas mereka sejak tadi di awasi oleh bawahan dari Dario yang memang ingin menyerang Julian di waktu yang tepat. Jika saja tempat yang di kunjungi Julian itu bukan tempat ramai, mungkin mereka sudah menyerang Julian. Sepertinya, mereka sudah berada di posisi masing-masing untuk melawan Julian nantinya.


Lama perjalanan mereka, Julian melihat beberapa orang berada di dekatnya yang sedikit mencurigakan. Julian merogoh ponselnya sekejap lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Ada apa?" tanya Fany.


"Tidak ada. Sudah waktunya kita membawa mereka ke tempat yang sudah aku siapkan," jawab Julian dengan pelan.


"Oke, ayo. Aku sudah tidak sabar sekali untuk bermain dengan mereka," ujar Fany menyetujui.


Tanpa aba-aba Julian menggandeng tangan Fany dan membawanya sedikit berlari untuk memancing dan mengecoh mereka yang tengah membuntuti ke duanya. Para antek-antek Dario itu pun ikut berlari mengejar Julian agar tidak kehilangan jejak.


"Ke mana mereka?" baru juga sebentar, mereka sudah kehilangan jejak Fany dan Julian.


berbuat jahil. "Hmm... enak." Julian menganggukkan kepalanya "Apa mereka tahu apa yang sedang terjadi? Anggota kita yang lain mungkin sudah menyerang yang lainnya," ucap salah satu dari mereka.


"Bisa iya, bisa tidak. Mungkin dia baru saja mendapat laporan dari anak-anak buahnya kalau anggota kita menyerang keluarga William," tebaknya. Mereka tidak tahu saja jika sebenarnya Julian sudah mengetahui semuanya. Bahkan Julian ingin memancing sisa dari mereka untuk mengikutinya menuju ke tempat yang sudah Julian tentukan.


Julian memang tidak mau jika mereka akan berperang di markas, ia tidak mau markas megahnya tersentuh oleh para musuh. Susah payah dirinya merenovasi markas sesuai keinginannya, mana mungkin Julian membiarkan jika markas itu terombak oleh musuh.


"Kita harus bisa mendapatkan anak itu sesuai dengan perintah Tuan Dario," sambungnya pada salah satu temannya.


"Kenapa kita harus susah-susah mencarinya? Harusnya kita dekati saja mereka berdua dan menjadi orang lain, bisa kita meminta bantuan atau yang lainnya. Dengan begitu kita mudah membawanya," ujarnya mengeluarkan pendapat. Namun apa yang ia ucapkan sepertinya sudah terlambat.


"Haiissh... aku tidak berfikir ke situ." Orang itu merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa mereka hanya mengikuti Julian dan Fany tanpa melakukan tindakan apa-apa. Temannya itu pun juga merutuki dirinya, kenapa tidak berpikir soal itu sedari tadi.


"Itu mereka." Tunjukmya saat melihat Julian dan Fany di antara kerumunan orang-orang. Mereka kembali mengikuti Julian dan Fany.


Di saat yang lainnya sudah saling baku hantam dan baku tembak, mereka masih sibuk mengejar Julian dan Fany.

__ADS_1


__ADS_2