Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 178 Season 2


__ADS_3

"Kalau kau melawan mereka lawan saja sana, aku sedang tidak ingin membuang-buang tenagaku." Ucap Diva pada orang itu.


"Belum saatnya aku keluar," jawabnya.


"Lalu, kapan waktunya kau keluar? Apa harus menunggu semua tumbang baru kau keluar?" Diva sedikit sewot kali ini, dia memang tidak bisa berbicara santai. Sepertinya dia akan demam kalau bersikap kalem dan berbicara santai.


"Ck, santai saja. Tidak usah sewot seperti itu," orang tersebut tidak kalah sewot pada Diva.


"Kenapa dirimu yang nyolot sekarang? Tidak aku beri restu baru tahu rasa kau nanti," Diva mengancamnya. Siapa lagi orang yang bersama Diva saat ini kalau bukan Gerald, dia stand by bersama Diva sejak tadi.


Gerald menaikkan sebelah alisnya, "masih ada mami dan papi, kenapa aku harus takut dengan ucapanmu itu?" Gerald tidak ada rasa takutnya sama sekali dengan Diva. Tidak bersama Julian kali ini Diva berdebat dengan Gerald.


"Kau ya," Diva ingin mencakar Gerald karena merasa gemmas.


"Aahh... sudahlah, lebih baik aku menolong Jenniku dari pada aku berdebat denganmu," ucap Gerald pergi melompat dari lantai atas dan mencari jalan lain untuk membantu Jennifer di sana.


"Dasar anak itu," kesal Diva lalu kembali fokus untuk menghadapi musuh yang akan datang nanti. Diva kembali mengarahkan senjatanya dan segera membidik pihak musuh. Diva kembali tersenyum puas melihat banyak musuh yang tumbang karena sasaran tembakan darinya. Diva segera mengisi peluru yang ada di pistolnya dengan cepat-cepat.


Kembali ke sisi Jennifer dan Robert...


Mereka berdua mengamati sekitar dengan saling memunggungi, pertarungan kali ini benar-benar sedikit sengit.


"Nona, sepertinya kali ini kita harus membagi tugas.' Usul Robert.


"Oke, kau benar. Kau lawan mereka yang ada di hadapanmu," Robert mengangguk faham dengan ucapan Jennifer. Mereka kembali melawan musuh yang ada di


hadapan mereka masing-masing.


Di sisi Julian dan Fany, keduanya saling bekerjasama melawan musuh-musuh yang mendekat. Dunia terasa damai jika mereka dalam mode akur seperti ini.


Syuutt..


Syuutt...


Jleeb...


Fany melempar belati kecil-kecil yang ia sembunyikan di balik tubuhnya. Belati itu memang berukuran kecil, tapi belati itu cukup mematikan jika mengenai musuh.


"Kenapa tidak ada habisnya, sih!" Fany sedikit kesal karena musuh yang ia hadapi selalu muncul dari arah lain.


Doorr...

__ADS_1


Doorr..


Doorr...


Fany menggunakan dua pistol sekaligus di tangannya, Fany menembakkan secara bersamaan pada musuh-musuhnya.


"Siiaalll! Mereka terus saja berdatangan." Julian juga merasakan geram melihat musuh yang bermunculan tidak ada habisnya. Julian yang sugah geram itu pun mnegeluarkan senjatanya yang ia sembunyikan sedari tadi.


Julian mengeluarkan senjata seperti belati, tapi itu bukanlah belati. Julian menekan sensor yang ada di gagang tersebut, dan muncullah senjata yang sesungguhnya di sana. Ternyata yang di bawa oleh Julian adalah katana hasil rakitan dari anak-anak buah sang papi. Julian meminta jika memiliki senjata yang tersembunyi dan menggunakan sensor sidik jarinya untuk menggunakannya.


Julian mengayunkan katana yang ia bawa dan memandang tajam masing orang yang ada di sana.


Sriing...


Sriing...


Karena sudah merasa geram, Julian langsung saja melibas musuh-musuh yang mendekat ke arahnya. Beberapa dari mereka kehilangan anggota tubuhnya karena sekali libas oleh Julian.


Doorr...


Dorr...


Doorr...


Fany kembali memberondong peluru tanpa ampun pada orang-orang di sana.


Kembali ke sisi Jennifer dan Robert...


Bughh..


Bugh..


Jennifer memukul mundur orang-orang yang ada di sana, RDivan juga menendang orang-orang tersebut dengan kaki dan lututnya.


Jennifer dan RDivan kembali saling memunggungi,"mereka terus saja keluar seperti tidak ada habisnya." Ujar Robert.


"Kau benar, ini membuatku benar-benar kesal. Tapi aku juga bersenang-senang untuk ini, kapan lagi aku bisa bermain-main seperti ini." Jawab Jennifer.


Baku hantam dan baku tembak kembali mereka hadapi, keduanya masih aman sejauh ini. mungkin hanya luka memar yang mereka terima.


Jennifer yang sedikit lengah itupun membuat salah satu pihak musuh mengambil kesempatan.

__ADS_1


"Nona, awaass!" Teriak Robert saat melihat ada yang mendekati Jennifer. Jennifer menoleh untuk melihat apa yang terjati, matanya sedikit melebar saat ada orang memberikan bogeman padanya.


Buugh...


Belum juga orang tersebut menyentuh Jennifer, dia sudah terpental karena mendapat tendangan dari seseorang yang datang tiba-tiba di sana. Jennifer melihat siapa yang sudah membuat orang itu terpental jauh darinya.


"Kau di sini?" Jennifer sedikit terkejut melihat orang yang ia lihat.


"Hello, babe. Tenanglah, ada aku di sini. Aku akan membantumu di sini, sekarang fokuslah." Ucapnya agar Jennifer kembali fokus pada orang-orang yang ada di sana. Siapa lagi orang itu kalau bukan Gerald, dia mencari keberadaan Jennifer dan membantunya membiarkan Diva melawan musuhnya sendiri.


Jennifer kembali fokus melawan musuh-musuh yang ada di hadapannya, bukan saatnya untuk berbincang-bincang saat ini. Robert juga bernafas lega melihat Jennifer tidak kenapa-napa karena adanya Gerald. Mereka melawan musuh-musuh yang terus saja bermunculan tidak ada habisnya.


Beda lagi dengan Julian yang langsung saja melibas siapa saja yang mendekat, tidak perlu berlama-lama banyak dari mereka tergeletak tidak bernyawa.


Di sisi Sean...


Sean sedang melawan pemimpin dari pihak musuh di sana, sedangkan Riko melawan kaki tangannya dari pihak lawan. Baku hantam terjadi di antara mereka yang sama-sama menunjukkan kekuatan.


Bugh...


Bugh...


Keduanya terpukul mundur karena tendangan dan pukulan dari masing-masing kubu.


"Menyerahlah, kau pasti akan lelah jika mengalahkanku." Ucapnya dengan sombong.


"Heh, tidak ada kata menyerah untukku, Tuan. Kau salah besar jika menyuruhku untuk menyerah pada dirimu." Sean tersenyum remeh pada orang tersebut.


"Baiklah jika begitu, lawanlah aku sampai kau memutuskan untuk menyerah." Ucapnya pada Sean. Sean hanya tersenyum sinis dan mereka kembali beradu kekuatan dengan tangan kosong.


Sean selalu menghindar dari tendangan dan pukulan dari pimpinan pihak musuh.


Mendapat kesempatan Sean langsung saja menendang punggung itu dengan kerasnya hingga orang tersebut tersungkur.


"Aaahh... kau benar-benar membuatku kesal." Ucapnya karena mendapat tendangan dari Sean. ia pun kembali bangkit dan melawan Sean kembali.


Bugh...


Belum juga dia menyentuh Sean, Sean kembali menendang orang tersebut mengenai dadanya. Orang tersebut sedikit mengerang karena merasakan sesak di dadanya.


"Apa kau tahu, kau adalah mafia yang memiliki sifat kekanak-kanakan. Sifatmu itu seperti anak kecil yang tidak di belikan mainan." Ejek Sean.

__ADS_1


"Jangan sampai kau menyesal setelah mengatakan hal itu." Ucapnya pada Sean.


"Untuk apa aku menyesalinya? Yang aku katakan adalah fakta," jawab Sean dengan tersenyum remeh.


__ADS_2