
Para penjaga itu segera membawa penyusup itu dengan paksa, ia sedikit memberontak tidak mau di bawa oleh para penjaga di sana.
"Lain kali kenali orang-orang di sini, jangan biarkan orang lain masuk ke sini. Jangan sampai hal ini terjadi lagi. Dan satu lagi, jangan beri tahu penghuni rumah untuk ini ," tegas Julian.
"B-baik, Tuan." Mereka pun membawa orang itu pada anak buah Julian yang berada di luar sana.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menangkapnya?" tanya Julian di melalui earphone-nya.
Julian mengangguk mendengar ucapan anak buahnya. "Kerja bagus. Kalian bawa mereka semua, tunggu aku memberi pelajaran pada mereka."
"Jangan harap dengan mudah menyentuh keluargaku." Setelah di pastikan semuanya aman, Julian kembali melangkahkan kakinya ke depan.
Julian memutuskan untuk mengunjungi sang kakak dan si kecil di sana, untuk para musuhnya dia akan atasi nanti. Dia sudah serahkan pada anak-anak buahnya yang lain untuk berjaga-jaga.
"Good morniiiing...!" teriaknya dengan kencang saat masuk ke dalam. Padahal hari sudah menunjukkan hampir sore hari, tetapi dia dengan sengaja berteriak selamat pagi di sana.
Para maid yang tahu kedatangan Julian mempersilahkan dirinya untuk masuk dan menunggu Diva
di ruang tamu. Rumah itu sedikit sepi karena Riko tidak berada di rumah karena harus mengurus kantor.
"Astaga... siapa yang datang-datang berteriak. Tidak sopan sekali!" geram Diva mendengar teriakan yang menggelegar di rumahnya. Dari teriakannya tentu saja Diva tahu siapa yang datang ke rumahnya.
la membawa putrinya untuk menemui tamunya yang datang ke rumahnya. "Ada apa kau teriak-teriak. Jangan mengganggu ketenangan orang lain!" sengal Diva melihat Julian yang ada di rumahnya.
"Biar semuanya tahu kalau aku datang." Dengan entengnya Julian menjawabnya tanpa rasa takut pada Diva.
__ADS_1
"Tidak perlu berteriak. Ini rumah, bukan hutan kalau datang harus berteriak!"
"Kenapa kau ke sini? Tumben sekali? Dengan siapa kau kemari?" cerca Diva dengan sedikit ketus.
"Kau ketus sekali. Aku datang sendiri, tentu saja aku datang ke sini untuk menemui princess kecil ini." Julian menunjuk putri Diva. Wajahnya terlihat sangat lucu, hingga membuat Julian gemas dengannya.
"Ayo ikut aku. Kita bermain sama-sama." Julian mengulurkan tangannya namun si kecil itu menolak untuk ikut dengan Julian.
"Jangan dekat-dekat dengan Putriku. Kalau kau yang mengajaknya dia pasti akan menangis," tolak Diva mengingat setiap putrinya saat bersama Julian pasti akan menangis. Tahu sendiri bagaimana Julian jika jahil, tidak akan pandang umur kejahilannya.
"Mana ada. Dia selalu ceria kalau aku yang mengajaknya," elaknya di sana.
"Aku tahu akal bulusmu itu. Sebaiknya kau diam saja dan duduklah." Diva tidak akan membiarkan putrinya jatuh ke tangan Julian.
"Kau apakan Putriku?" Diva memukul lengan Julian dengan geram.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Anak kecil kan memang suka sekali menangis tidak jelas," elaknya dengan mencari banyak alasan. Memang dirinya tidak mau jika di salahkan.
"Kau masih bilang tidak melakukan apa-apa. kau yang sedari tadi mengganggunya dan merebut mainan yang di bawanya. Tidak bisa apa kalau kau membiarkan dia bermain dengan tenang!" Diva benar-benar geram dengan Julian.
"Harusnya kau jangan marah padaku. Aku sudah membantumu, kalau si kecil banyak menangis berarti itu normal." Ada saja alasan yang ia berikan agar tidak di marahi oleh Diva.
"Lama-lama aku sumpal mulutmu itu. Menangis memang normal, kalau sudah di tanganmu menjadi upnormal!" sengal Diva. Ia pun mengambil alih putrinya dan mencoba menenangkan agar tidak menangis lagi.
Tingkah Julian yang membuat orang di sekitarnya naik darah memang tidak pernah ada habisnya, untung saja orang-orang di sekitarnya memiliki kesabaran yang sangat sangat sangat besar.
__ADS_1
Julian berjalan dengan langkah tegapnya, seharian penuh hingga malam hari ia tidak pulang ke mension sama sekali. Saat ini dirinya sedang berada di markas, ia ingin memberikan pelajaran pada orang-orang yang ingin menyentuh keluarganya. Langkahnya terlihat sangat santai, ia bersiul bersenandung sepanjang perjalanannya.
Ekspresinya benar-benar tidak menunjukkan garangnya, justru sebaliknya, terlihat tengil. Kalau orang tahu pasti tidak akan menyangka jika dirinya merupakan seorang pimpinan mafia, karena sifatnya tidak pernah menunjukkan seperti mafia-mafia pada umumnya. Semua anak buahnya menunduk ketika melihat Julian sampai di ruang bawah tanah tempat semua para tawanan.
Julian melihat-lihat semua tawanannya yang baru saja ia dapatkan siang tadi, beberapa di antara mereka memberontak, dan beberapa lagi seperti terlihat pasrah." Kenapa kau tidak seperti temanmu yang lain? Apa kau sudah pasrah dengan takdrimu?" Julian mencoba memancing emosi para tawanannya itu.
"Kau bersenang-senanglah dulu dengan temanmu. Aku tidak tega melihatmu menjemput ajalmu dengan pasrah seperti itu. Lihatlah teman-temanmu yang sangat ceria itu." Tunjuk Julian pada mereka yang memberontak di dalam ruang jeruji.
Bisa-bisanya mereka yang memberontak ia sebut ceria, memang Julian berbeda dari yang lain. Seperti biasa kalau Julian akan menunjukkan wajah tengilnya sebelum mengeksekusi para tawanannya.
"Lepaskan kami, jangan biarkan Tuan kami datang dan menyerang kalian!" salah satu dari mereka berteriak kencang di sana.
"Tuan? memangnya Tuanmu itu peduli denganmu? Sepertinya tidak sama sekali." Julian menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajahnya terlihat meledek tawanannya.
"Apa kau tidak tahu siapa Tuanku? Dia pasti akan segera datang untuk menyerang kalian semua. Dan aku yakin kalau kalian semua akan lenyap di tangannya," sambungnya lagi.
"Tidak, aku tidak kenal siapa Tuanmu itu. Benarkah jika dia akan datang, waaahh... sampaikan pada Tuanmu itu, aku akan menyambutnya dengan senang hati. Tapi... aku tidak yakin kalau nanti kau bisa menyampaikan itu pada Tuanmu nanti." Semakin lama wajah Julian terlihat sangat menyebalkan di mata mereka.
"Lepaskan kami!" mereka kembali berteriak meminta untuk di lepaskan oleh Julian. Mereka juga terus memberontak di dalam sana.
"Haaaiis... iya iyaa... aku dengar. Kalian akan aku lepaskan nanti, tidak usah berteriak. Aku tidak tuli." Julian menggaruk telinganya yang terasa berdenging mendengar teriakan-teriakan mereka di dalam sana. Padahal itu hal biasa yang ia dengar, tetapi seolah-olah dia bersikap seperti tidak pernah mendengar teriakan-teriakan dari tawanannya.
Julian memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu jeruji itu dengan mengkode melalui kepalanya. Tanpa menunggu lama, salah satu dari mereka membuka pintu itu. Semua tawanan di dalam sana sedikit bingung, mereka berpikir apakah benar jika Julian akan melepaskan mereka? Bagaimana bisa dengan mudahnya Julian melakukannya, pikir mereka.
"Bawa mereka ke belakang marakas," pinta Julian pada beberapa anak buahnya. Mereka melepaskan ikatan-ikatan pada beberapa tawanan itu.
__ADS_1