Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 122 Season 2


__ADS_3

Fany bergidik membayangkan ucapan Robert jika dirinya nanti akan berjodoh dengan Julian. Dia tidak bisa menayangkan, bagaimana ramai dan pusingnya hari-harinya karena tingkah Julian yang sangat suka membuat orang darah tinggi.


"Kenapa kau begitu? Kau pasti membayangkan sesuatu kaan?" Robert kembali menggoda Fany.


"Eheemm..." Fany berdehem sebelum menjawab Robert.


"Robert... Bagaimana jika nanti jodohku adalah dirimu?" Fany mengedipkan matanya genit padanya. la ingin membalas ucapan Robert yang sudah mendoakan dirinya berjodoh dengan Julian.


"Mana mau ibuku mempunyai menantu yang bar-bar sepertimu." Celetuk Robert di sana.


Robert pun mencebikkan mulutnya karena Fany yang terlihat sangat centil dan genit, sedangkan Julian menggerutu tidak karuan melihat tingkah Fany yang sangat genit dan centil itu.


Mereka bertiga jika sudah di gabungkan menjadi satu, dunia tidak akan bisa damai. Julian yang terkenal dengan jahilnya, Fany yang berbicara suka ngegas dan suka nyeplos, dan untuk Robert, dia terkadang anteng terkadang juga bisa menjadi kedua orang itu.


Sepertinya, mereka memang sudah menjadi sepaket. Mempunyai circle pertemanan yang random dan menghebohkan.


Malam hari....


Mension utama...


"Jeen, bagaimana sekolahmu, nak? Apa kau jadi pindah ke sekolah tempat adikmu?" tanya sang grandma padanya.


"Yes, grandma. Jenni mau pindah ke sana, Grandma jangan bilang pada Julian, oke." Jawabnya dengan ramah.


"Apa barang-barangmu sudah kau rapikan." Tanya sang grandpa.


"Sudah. Besok Jenni tinggal membawanya ke mension. Grandma dan grandpa jangan sedih ya, Jenni pasti akan mengunjungi kalian sesering mungkin." Bujuknya pada grandma dan grandpa-nya agar mereka tidak sedih saat Jenni kembali lagi ke mension milik sang papi.


"Grandma dan grandpa pasti akan merindukanmu, Jen." Ucap grandma memeluk sang cucu. Jennifer membalas pelukan hangat sang grandma yang sepertinya sangat berat untuk Jennifer tinggal kembali.


Keesokan paginya...

__ADS_1


Jennifer sudah bersiap untuk pergi sekolah, ia sudah rapi dengan memakai pakaian rapi untuk pergi ke sekolah barunya. Sekolah di sana memang berbeda di negara lain yang harus mengenakan seragam, untuk di sana, pakaian seragam tidak ada. Jadi, Jennifer memakai pakaian yang rapi dan sopan.


Setelah di rasa cukup, Jennifer segera turun dan menenteng tas sekolahnya.


Sebelum berangkat, Jennifer sarapan bersama grandma dan grandpanya di sana. Mereka semua makan pagi dengan sangat khitmad.


"Grandma, grandpa, Jenni berangkat dulu, ya. Byee "Pamit Jennifer melambaikan tangannya lalu melakukan kiss jauh untuk grandma dan grandpanya.


Jennifer segera berangkat menuju sekolah barunya di antarkan supir dari sang grandma. Semua barang miliknya pun juga berada di mobil, setelah supir itu mengantarkan Jennifer ke sekolah, dia datang ke mension untuk mengantarkan barang nona mudanya.


Sesampainya di depan sekolah, Jennifer langsung turun saja dari sana dan menuju keruang kepala sekolah. la menggunakan masker agar tidak di ketahui oleh Julian kalau dirinya pindah ke sana.


Jennifer berjalan dengan santainya tidak menghiraukan ucapan-ucapan orang-orang yang ada di sana. sesampainya di depan ruang kepala sekolah, dirinya masuk dengan sopan.


"Apa kau yang bernama, Jenni?" ucap kepala sekolah di sana.


"Iya, pak." Jawab Jenni singkat.


"Halo semua.... Hari ini kita akan kedatangan teman baru." Ujar guru pengajar di sana.


"Siapa, miss? Pasti dia cewek cantik? Kann...kann..." ucap Julian yang memang tidak pernah ada habisnya kalau begini. Semua orang memandangnya tajam tanpa terkecuali.


"Kalian santai saja doong. Kenapa serius sekali?" ujar Julian yang merasa dirinya akan menjadi santapan hewan-hewan buas.


Guru pengajar itu pun hanya menggelengkan kepala karena sikap Julian. Untung saja dirinya anak dari Aiden, jika saja tidak dirinya pasti sudah di keluarkan dari sana.


Beda lagi dengan Jennifer, dari dulu dirinya memang tidak mau menyebutkan nama marganya. Dia tidak mau jika nanti akan berteman dengan penjilat. Dia paling tidak suka jika ada penjilat dalam hidupnya, dia persis dengan Aiden.


"Ayo masuk." Pintah guru pengajar. Jennifer pun segera masuk dengan masih menggunakan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


Julian meletakkan dengannya di meja dan menjadikannya tumpuan dagunya. "Kenapa aku seperti mengenal orang itu?" ujarnya dengan menunjukkan wajah sedikit songong.

__ADS_1


"Kau kenapa, Jul?" tanya teman di sebelahnya.


"Aku sepertinya mengenal orang itu. Tapi di mana, ya?" gumamnya mengingat-ingat. Jennifer yang ada di depan itu pun pandangannya tertuju pada sang adik.


"Kenalkan dirimu."


"Hai semua, salam kenal. Aku Jenni, senang bertemu kalian." Ujar Jennifer memperkenalkan diri.


"Jenni?" Julian mengucapkan ulang nama itu.


"Coba di buka maskernya doong. Biar kita tau." Ucap Julian. Memang dirinya sendiri yang paling petakilan di sana. sampai-sampai teman-temannya jengah dengan tingkahnya.


"Iya, buka saja. Biar kita nanti bisa mengenalimu." Sahut salah satu dari mereka yang ada di kelas dan di ikuti oleh yang lainnya. Jennifer hanya memandang tajam ke arah sang adik.


Yang di tatappun merasa ngeri, "Ehh busseet, kenapa tatapannya kayak kenal." Ujarnya lagi.


Semua masih riuh menyetujui ucapan Julian yang memerintahkan untuk membuka masker. Mau tidak mau Jennifer membuka maskernya.


Dan wallaahh.... Semua terkagum dengan Jennifer. Apa lagi dengan kaum pria di sana, mereka terperangah melihat kecantikannya. Bak bidadari yang turun dari langit.


Tapi, banyak juga dari mereka memandang sinis ke arah Jennifer. Mereka tidak suka jika ada yang menyaingi kecantikan dan ketenaran mereka karena datangnya Jennifer. Tapi, bukan Jennifer namanya kalau dia memperdulikan omongan atau tatapan tidak suka dari orang lain.


"Hai.. k-..." sebelum Julian melanjutkan ucapannya, Jennifer sudah memandang tajam ke arahnya. Julian mengurungkan niatnya melihat tatapan tajam sang kakak yang menurutnya paling horror dari pada tatapan sang papi.


Awalnya dia sangat semangat dan gembira melihat sang kakak berada di sana tapi itu tidak bertahan lama. Dia lebih takut dengan tatapan sang kakak.


"Ada apa, Jul? Apa kau mengenalnya?" tanya temannya yang ada di sampingnya.


Julian memandang kembali sang kakak yang masih menatapnya tajam. Julian pun menggelengkan kepala pada temannya karena takut dengan sang kakak. Dia menggeleng kepala bukan menjawab temannya, tapi dia tahu arti tatapan sang kakak. Temannya yang ada di sampingnya itu hanya mengangguk krena ia mengira jika itu jawaban Julian yang di berikan untuknya.


Ternyata Julian yang sangat jahil dan petakilan bisa takut dengan sang kakak. Padahal dengan Diva dia tidak ada takut-takutnya. Mungkin sang kakak yang mewarisi sikap dan sifat sang papi, sehingga membuat dirinya sedikit takut dengan melihat wajah garang Jennifer.

__ADS_1


__ADS_2