Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 201


__ADS_3

Robert yang baru saja sampai itu pun segera turun dari motor sportnya dan menyusul Julian yang sudah masuk di ikuti oleh penjaga-penjaga yang ada di sana.“ Jangan sampai tempat ini hancur di buatnya."


"Di mana Richard?" tanya Julian to the point dengan


sedikit meninggikan suaranya pada salah satu orang di sana.


"Richard siapa?" tanya orang tersebut karena tidak tahu.


Julian berdesis kesal, bisa-bisanya dia menanyakan pada orang sembarangan. Tiba-tiba saja ada yang meneuk undak Julian dari belakang. Julian diam tidak bergeming di sana.


"Mohon tidak membuat keributan di sini, Tuan," ujarnya.


"Apa kau melihat ada keributan di sini!" Julian menunjukkan tatapan tajamnya yang membuat mereka sedikit menciut.


"Kalian jangan ikut campur dengan urusanku, atau tempat ini akan hancur tidak tersisa." Julian sedikit memberikan ancaman pada mereka. Yang ia khawatirkan sekarang adalah Fany.


"Di mana Richard!?" teriak Julian hingga menggelegar di sana. Musik yang terdengar seketika langsung di hentikan, bahkan sekumpulan teman Richard yang asik tertawa terbahak-bahak seketika terdiam ketika Julian berteriak mencari Richard.


Robert yang ada di belakang sana hanya bisa berdesis, jika Julian sudah seperti ini maka semuanya bisa ia hanguskan dalam sekejap.


"Tuan, mohon untuk tidak membuat keributan," ujarnya lagi.


Tanpa pikir lagi, Julian memberi bogeman mentah lagi pada para penjaga di sana. seketika di sana menjadi ricuh karena Julian sudah mengamuk. Banyak orang yang terbirit-birit dan ada juga yang membantu penjaga itu untuk menghentikan Julian. usaha mereka hanya sia-sia, Julian sudah tidak bisa di hentikan.


Teman-teman Richard lari terbirit dan ada juga yang ikut menyerang Julian.


Kembali lagi ke sisi Fany...


"Jangan macam-macam denganku, atau kau akan aku habisi! Aauhh...."


"Hahaha... setelah kau merasakannya, kau pasti tidak mau berhenti." Gelak tawa Richard terdengar. Richard mencoba semakin mendekat ke arah Fany.


Bugh...


Fany berusaha keras untuk mengembalikan kesadarannya. Ia memberikan bogeman mentah pada Richard dengan keras.

__ADS_1


"Aaiish... kau sungguh merepotkan," ucap Richard. Dia belum tahu siapa Fany sebenarnya, jika sudah tahu siapa Fany, mungkin dia akan memiliki cara lain.


Fany berusaha keras untuk bangkit dan berjalan ke arah pintu. Richard segera menariknya dan mendorong Fany sampai ke dinding. "Kau tidak akan bisa lari dariku sebelum kita bersenang-senang." Richard tersenyum tidak bisa di artikan.


"Lepaskan aku! Kau tidak akan bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dariku." Fany berusaha untuk melepaskan dirinya dari Richard.


Bugh...


Bugh...


Fany memberikan tendangan pada Richard. Richard merintih kesakitan karena tendangan kuat dari Fany.


"Kau cukup kuat rupanya." Richard dengan kuat


tenaga kembali menarik Fany.


la membawa Fany ke tempat tidur dan segera menindihnya. Meskipun Fany memiliki ilmu bela diri, tetap saja dia pasti akan kalah dengan tenaga Richard, karena dia dalam pengaruh alkohol. Fany terus saja memberontak sebelum Richard melakukan hal yang tidak ia inginkan.


"Lepas!" ucapnya dengan sedikit memberontak.


"Aku senang saat temanmu yang sering mengganggu itu tidak mengganggu lagi. Sepertinya, aku harus berterima kasih karena dia membiarkan diriku bisa mendekatimu," ujar Richard.


Fany kembali emngingat-ingat kata-kata Julian waktu tiga hari yang lalu. Julian sudah berusaha mengingatkannya untuk tidak lagi mendekati Richard, tetapi dirinya tidak perduli. Fany hanya menganggap jika itu adalah bentuk dari iri dan kejahilan pada Julian, padahal itu untuk dirinya sendiri.


"Dasar brengsek!" pekik Fany.


"Ya... aku memang brengsek. Lebih baik aku segera memulainya saja." Richard mencoba untuk mengambil ciuman pada Fany. Fany melengoskan wajahnya dan mencoba untuk terus memberontak. Dalam hatinya, ia menjerit agar Julian datang membantunya.


Braaak...


Tiba-tiba saja pintu di dobrak dengan kencang hingga membuat pintu tersebut terbuka dan rusak. Orang tersebut langsung saja berlari kencang dan menendang Richard hingga dirinya jatuh terguling. Richard di hajar habis-habisan olehnya tanpa ampun sedikitpun, tidak ada perlawanan dari Richard karena orang itu terus-terusan menghajarnya.


Bugh...


Bugh...

__ADS_1


Bugh...


Tidak ada ampun lagi untuknya. Fany yang melihat siapa yang tiba-tiba datang itu bernapas lega, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena rasa pusing yang di deranya.


"Enyahlah laki-laki sepertimu." Ujarnya dengan tangan yang masih membogem Richard. Bogemannya baru terlepas setelah Ricard terlihat lemah.


la mendekat ke arah Fany. "Kau tidak apa-apa?"


Fany hanya menggelengkan kepalanya dan memegangi kepalanya yang sedang berdenyut. Tidak lama kemudian, beberapa anak buahnya datang bersama dengan Robert.


"Bawa laki-laki ini pergi. Bawa dia jauh dari sini, jangan biarkan dia bisa kembali ke sini," pintahnya. Anak buahnya pun segera melaksanakan tugasnya untuk membawa Richard pergi dari sana. Entah kemana mereka akan membawanya, sepertinya itu sedikit buruk.


Yaa... dia adalah Julian, untung saja dia datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan Fany. Terlambat sedikit saja entah apa yang akan terjadi dengan Fany tadi.


"Kau urus kekacauan yang ada di sini," titahnya pada Robert. Robert sudah menduga akan hal itu, pasti ujung-ujungnya dia juga yang akan di repotkan.


Julian membawa Fany untuk segera keluar dan pergi dari sana, dia menuntun Fany yang berjalan dengan terhuyung.


Julian tengah membawa Fany ke taman sebelum pulang. Ia hanya ingin membuat Fany kembali tenang dan kesadarannya pulih. Fany sedikit menunduk diam karena malu tidak mendengarkan perkataan Julian waktu itu.


"Kenapa kau terus menunduk sedari tadi?" Julian memulai perbincangan.


"Aku malu...," lirihnya.


"Sejak kapan kau bisa malu seperti itu? Biasanya kau juga suka berteriak tanpa lihat tempat," sindir Julian.


"Aku malu waktu itu tidak mendengarkanmu. Justru aku marah padamu, kalau saja tadi tidak ada dirimu entah bagaimana nasibku saat ini." Sambungnya dengan mengayun-ayunkan kakinya.


"Kau terlihat sangat aneh saat ini. Tidak biasanya kau berbicara dengan halus." Julian bergidik ngeri melihat perubahan Fany malam ini. Karena memang tidak biasanya Fany berbicara halus seperti itu.


Fany memutar kedua bola matanya malas mendengar jawaban Julian. "Lalu aku harus bagaimana!?" pekiknya. Ia kembali pada setelan pabriknya yang suka ngegas dan berteriak.


"Cukup jadikan pelajaran untukmu. Lain kali kenali siapa yang mendekatimu, dengarkan jika ada yang mengatakan untuk kebaikanmu. Sepertinya kau memang sudah di butakan oleh cinta," sindir Julian.


"Hemm...." Fany hanya berdehem memahami ucapan Julian di sana. Memang ini juga salahnya yang terlalu terburu-buru mengenal orang baru.

__ADS_1


__ADS_2