Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 224


__ADS_3

"Haah... aku akan melepaskanmu untuk sekarang. Kalau aku melihat kau berulah lagi, maka kau akan bernasip sama dengan orang-orang suruhanmu." Gerald menunjuk orang-orang suruhan Sisca. Mereka terluka parah, seluruh tubuhnya berlumuran darah. Gerald benar-benar menyiksa mereka secara perlahan-lahan.


Sisca menganggukkan kepalanya cepat di sana mendengar ucapan Gerald. "Baiklah, aku janji. Aku janji tidak akan berulah lagi."


Gerald memberi isyarat dengan kepalanya pada anak buahnya untuk membuka pintu jeruji Sisca. Mereka yang mengerti itu pun segera melaksanakan apa yang di perintahkan Gerald.


"Antarkan dia di depan gerbangnya. Dan untuk mereka yang ada di sini, kalian lenyapkan saja mereka. Mereka sudah berbuat banyak kejahatan, mereka tidak pantas mendapat tempat di dunia. Biarkan orang lain hidup tenang," perintah Gerald lagi.


"Dan kau, Nona. Aku sudah berbaik hati padamu, kalau saja aku melihatmu kembali melakukan yang tidak-tidak. Maka nasibmu sama seperti orang-orangmu, inilah hadiah yang sudah aku janjikan padamu waktu lalu ." Gerald tersenyum miring lalu meninggalkan yang lainnya di sana.


Itu adalah hadiah yang kecil menurut Gerald, tetapi bagi Sisca adalah itu sangat menyiksanya. Mentalnya benar-benar sangat kacau di sana, Gerald memberikan hukuman kecil pada Sisca. Sepertinya, Gerald masih memiliki rasa kasihan pada Sisca. Maka dengan itu Gerald membebaskan Sisca dari sana.


Namun tidak untuk orang-orang suruhan Sisca, Gerald tidak akan membebaskannya. Justru Gerald menghilangkan mereka dari muka bumi, mereka sudah melakukan banyak tindak kejahatan. Seperti menculik, membunuh dan masih banyak lagi.


Anak buah Gerald akhirnya mengantarkan Sisca untuk kembali ke rumah megahnya. Sepanjang perjalanan Sisca sangat ketakutan, dia ketakutan jika nanti anak buah Gerald menyiksanya. Ia menunduk di sepanjang perjalanan, saat tiba di depan pintu gerbang rumah megah Sisca, mereka menurunkan Sisca sedikit kasar.


Tanpa berlama-lama mereka melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Para penjaga gerbang pun melihatnya, mereka melihat jika seorang gadis di turunkan di depan sana. Mereka mendekat, Sisca yang terbayang-bayang dengan siksaan yang ia lihat selama satu bulan itu merasa takut saat para penjaga gerbang rumahnya mendekat dan berbicara padanya.


Di bayangan Sisca, wajah mereka sama dengan anak-anak buah Gerald. Maka dari itu dia meminta penjaga itu menjauh darinya, Sisca juga selalu berteriak seperti orang gila. Itulah konsekuensi yang harus Sisca terima dari Gerald, masih untung jika dia masih bisa menghirup udara di dunia.


"Bagaimana keadaannnya, Dok?"


"Sepertinya, Nona Muda mengalami trauma akan kekerasan. Dari caranya terlihat jelas jika Nona tidak mau disentuh oleh siapapun. Nyonya dan Tuan bisa memeriksakannya lebih lanjut, kalau tidak...." Jelas dokter itu dengan menggantung.

__ADS_1


"Kalau tidak apa? Katakan dengan jelas," tegas Chaddrik.


"Mungkin akan bisa mengalami gangguan jiwa, Tuan ." Mommy Sisca menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya.


Kenyataan yang tidak baik harus dia dengar, putri kesayangannya menghilang selama satu bulan dan kembali dalam keadaan yang sangat membuat hatinya sakit. Di tambah dengan keterangan dokter yang tengah memeriksa keadaan Sisca saat ini.


"Apa tidak salah, Dok. Mungkin anda salah," sahut Gracia, kakak perempuan Sisca.


"Saya menjelaskan sesuai dengan apa yang aku lihat, Nona. Saya sarankan membawa Nona Muda ke psikiater untuk lebih lanjut," saran dari dokter itu.


Chaddrik terlihat mengepalkan kedua tangannya dan menahan emosi, siapa yang sudah berani membuat putrinya seperti itu, maka dia akan membalasnya dan tidak akan melepaskan, pikirnya. Mommy Sisca kembali meneteskan air matanya, ibu mana yang tidak menangis melihat dan mendengar keadaan putrinya. Namun, mereka tidak tahu apa yang menyebabkan Sisca hingga seperti itu, padahal itu adalah konsekuensi dari ulahnya sendiri.


"Saya permisi, Tuan, Nyonya," pamitnya mengundurkan diri dan keluar dari sana.


"Kita harus memberi pelajaran pada orang itu. Kalau saja aku tahu siapa orang itu, akan aku buat dia menderita seumur hidup. Dia sudah berani dengan keluarga kita." Gracia menyimpan dendam pada orang yang sudah membuat adiknya seperti itu.


Chaddrik merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Cari orang tersebut sampai dapat dan seret dia ke hadapanku." Chaddrik kembali meletakkan ponselnya dengan napas yang memburu.


Kalau saja mereka tahu siapa yang sudah mereka hadapi, entah bagaimana reaksi mereka dan apa yang akan mereka lakukan. Mereka tidak tahu jika yang mereka hadapi adalah orang yang berpengaruh di bagian bumi Amerika, dan mereka juga tidak tahu jika saja Sisca yang berani bermain-main dengan anak dari penguasa Eropa.


Sedangkan di sisi lain ...


Julian menyeret salah satu wanita teman sekelasnya, entah apa yang akan ia lakukan, biasanya dia tidak pernah seperti itu. Wanita itu pun bingung karena tiba-tiba saja Julian menyeretnya keluar.

__ADS_1


"Eeeh ... ehh... mau kau bawa ke mana aku?" tanyanya bingung.


"Sudah kau diam saja. Aku hanya ingin mengajakmu makan," jawabnya dengan enteng.


"Tunggu-tunggu," ucapnya dengan menahan dirinya secara mendadak. Julian pun ikut berhenti saat wanita itu berhenti.


"Kau mengajakku makan? Apa kau tidak salah?" tanyanya menyelidik. Ia menelisik wajah Julian, tentu saja dia tidak mau mudah percaya begitu saja dengan Julian. Dia tahu bagaimana ketengilan Julian jika di dalam kelas.


"Tentu saja aku yakin. Memangnya ada apa?" tanya Julian.


"Kau tidak akan beruat aneh-aneh bukan? Kau kan biang rusuh, dan kau pasti punya maksud kan untuk mengajakku," tuduhnya ia lontarkan pada Julian.


"Astaga. Kenapa kau berbicara yang tidak-tidak. Apa aku terlihat sedang berbohong?" Julian terus meyakinkan teman sekelasnya itu.


"Kau memang tidak berbohong, tapi tingkahmu selama ini itu tidak bisa di percaya. Kau pasti hanya ingin menjahiliku kan di sana di hadapan banyak orang?" tuduhnya lagi pada Julian. Biasanya banyak wanita yang akan menerima ajakan Julian, hanya dirinya yang menolak Julian.


"Harusnya kau beruntung kalau aku mengajakmu bersamaku. Lihatlah mereka semua yang ada di sini, mereka pasti akan mau menerima ajakanmu karena aku sangat tampan," ujarnya dengan mengarahkan rambut depannya ke belakang.


"Tidak perlu, terima kasih. Aku bisa pergi sendiri, kenapa harus denganmu?" tolaknya pada Julian.


"Kau terlalu banyak bicara." Julian kembali menyeret orang itu untuk pergi bersamanya. Orang-orang yang ada di sana memandang mereka berdua, jarang-jarang Jullian bersama wanita.


Sesampainya di tempat makan, Julian mendudukkan orang tersebut. Orang itu hanya bisa menurut dengan ulah Julian, Julian pun mendudukkan dirinya di kursi depannya. Mereka duduk saling berhadapan.

__ADS_1


__ADS_2