
"Bagaimana? Apa ada yang kurang, Jams?" tanya Riko mendekat ke arah James.
"Menurutku tidak, semuanya sudah perfect." Jawab James memandang semua dekorasi yang sudah tertata rapi di sana.
"Sekarang pulanglah, kau harus beristirahat. Masa iya calon pengantin masih keluyuran di luar." Riko mencoba menggoda James.
"Kau bisa saja." James memukul pelan lengan Riko dengan mengepal.
"Kau bisa pulang, Jams. Biar semua di sini yang akan membereskannya. Kau cukup diam saja dan persiapkan dirimu untuk besok supaya tidak grogi." Ujar Riko.
"Haahh... baiklah jika kau memaksa, aku nitip untuk semuanya." Ujar James.
"Aku pastikan semuanya aman, kau tenang saja." Ujar Riko.
James memutuskan untuk kembali ke apartemen miliknya, ia menitipkan semua di sana dengan para anak buah Sean.
Malam harinya....
Rika saat ini berada di apartemen yang juga di tempati oleh James. Tapi, Rika memilih kamar yang berjarak sedikit jauh dari kamar yang di tempati oleh James. Ia berada di sana karena atas perintah dari Sean, agar untuk persiapan besok tidak repot-repot.
"Aaahh... Clare... aku besok sudah menikah. Aku tidak bermimpi kan?" ucap Rika.
Malam ini Rika meminta clare untuk menemaninya di sana.
"Aku juga tidak menyangka, Bi. Jika dirimu akan menikah secepat ini. Tapi, aku ikut senang mengenai ini." Ucap Clare.
"Aku gugup sekali, Clare. Belum apa-apa aku sudah grogi ini." Gerutu Rika.
"Apa perasaan setiap orang yang mau menikah itu seperti ini?" Rika meletakkan kedua tangannya di dadanya.
"Aku deg-degan sekali, Clare. Jantungku rasanya ingin copot." Sambungnya dengan ekspresi seperti baru pertama kali merasa jatuh cinta.
"Kau beruntung mendapatkan tuan James, Bi. Dia tidak perlu bertele-tele, tidak seperti kebanyakan pria di luaran sana." Ungkap Clare.
"Aku doakan jika pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan, Bi." Mereka berdua berpelukan seperti tidak ingin terpisahkan.
Malam itu menjadi malam terakhir Rika melajang. la menghabiskan waktu bersama dengan Clare sampai larut. Ia tidak berani mengajak Ana bergabung, dirinya takut jika nanti Sean marah. Belum lagi Ana yang sudah mempunyai anak, mungkin sedikit sulit untuk mengajaknya.
__ADS_1
Keesokan harinya....
Hari pernikahan Rika dan James telah tiba, acara di laksanakan tepat sore hari sebelum matahari tenggelam. Rika yang sudah di rias itu pun terlihat cantik. Riasan yang tidak terlalu menor membuatnya
terlihat imut.
Gaun putih yang dikenakan terlihat sangat pas, dengan riasan rambut yang cocok untuk dirinya. Rambut yang seperti di sanggul, dengan riasan bunga bertengger di kepalanya. Itu membuat dirinya sangat cantik dan natural.
"Kau sangat cantik, Rika. Tuan James pasti tidak akan bisa berpaling melihatmu nanti." Goda Clare yang berada di sana.
"Aiihh... Clare, aku sangat gugup. Bagaimana nanti?" ucap Rika yang merasakan sangat gugup.
"Tenangkan dirimu, ayo kita berangkat. Semua sudah menunggu di sana." Ajak Clare.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menuju lokasi tempat Rika dan James yang akan mengucapkan janji suci. James dan lainnya sudah berada di sana terlebih dahulu.
Tempat itu tidak jauh dari apartemen yang di tinggali oleh James, hanya menempuh waktu 10 menit untuk sampai di sana.
Rika keluar dari mobil dengan menghelah nafasnya, helaan nafasnya hingga terdengar ke telinga Clare.
James yang berada di sana sedang berbincang dan bercanda dengan teman-temannya, yang tak lain adalah kumpulan dari anak-anak buah Sean.
Salah satu anak buah Sean datang mendekat dan memberitahukan jika Rika sudah tiba di lokasi.
"Kami pergi ke tempat yang sudah tersedia, jangan gugup, Jams. Ucapkan dengan lantang dan tegas." Ucap Riko menepuk kedua pundak James.
"Tenangkan dirimu, Jams. Semua pasti berjalan lancar." Sambung Erick, lalu berjalan menuju tempat yang sudah di siapkan bersama dengan Riko.
Semua para tamu undangan duduk di tempat yang sudah di siapkan.
Setelah Rika sudah tenang, Clare menuntun Rika berjalan ke altar yang sudah tertata sangat apik dan elegan di sana.
Semua para tamu undangan melihat ke arah Rika yang sedang berjalan dengan membawa seikat bunga di tangannya.
James yang sudah berada di atas altar tersenyum senang melihat Rika yang sedang mendekat. James juga terlihat sangat terpesona melihat Rika yang terlihat sangat cantik dengan dandanan yang pas untuk dirinya.
Sesampianya di altar, Rika menatap James dengan tersenyum simpul. James juga melakukan hal yang sama pada Rika.
__ADS_1
Pendeta pun naik ke atas untuk memulai janji suci antara James dan Rika.
James dan Rika berbalik menghadap ke arah pendeta yang sudah berada di sana.
"Bisa kita mulai?" tanya pendeta itu pada keduanya.
Mereka menjawab dengan kompak.
"Tuan James Nicolaus, bersediakah engkau menjadikan nona Rika Afira Manar sebagai pendamping hidupmu? Bersediakah engkau mencintainya dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang dan menjaganya sampai akhir hayat?" Ucap sang pendeta.
"Aku James Nicolaus, menyatakan di hadapan Tuhan, bahwa aku bersedia menjadikan Rika Afira Manar sebagai pendamping hidupku satu-satunya. Menerimanya dalam suka ataupun duka, dalam keadaan sakit ataupun sehat, dalam susah ataupun senang dan selalu mencintai dan menjaganya sampai akhir hayatku."
Ucap James tanpa ada salah sedikitpun.
Pendeta Pun beralih menatap kearah Rika.
"Nona Rika Afira Manar, apakah engkau menerima tuan James Nicolaus sebagai suamimu? Menerimanya dalam suka ataupun duka, dalam sakit ataupun sehat, dalam senang maupun susah serta saling mencintai satu sama lain."
Karena saking gugupnya, Rika tidak bisa menjawab apa-apa. Lidahnya keluh tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Jawab yang tegas, sayang. Nanti tuan Sean bisa mengubrak abrikkan acara ini." Bisik James di telinga Rika.
"Eeehh... Ahhh..." Rika tersadar dan terbata mendengar ucapan dari James.
"Iya... aku bersedia." Jawab Rika.
Semua tamu undangan bersorak tepuk tangan mendengar jawaban dari Rika. Clare yang berada di sana sampai menetaskan air matanya karena terharu dengan Rika yang ternyata sudah resmi menikah dengan James.
"Dihadapan Tuhan dan para saksi, kalian resmi menjadi suami istri. Untuk mempelai pria, di persilahkan untuk mencium mempelai wanita." Ucap pendeta setelah pengucapan jani suci.
James mendekat ke arah Rika dan mencium kening Rika sedikit lama. Semua tamu undangan semakin bersorak ramai.
"Aku tidak menyangka jika dia akan menyusulku dengan cepat." Ujar Sean yang melihat sang asisten sudah resmi menikah.
Semua tamu undangan satu persatu naik ke altar memberikan ucapan selamat pada James dan Rika.
"Selamat untukmu, Jams. Sekarang kau sudah menjadi seorang suami, jaga istrimu dengan kasih sayang ." Ucap papi Sean menepuk pundak James.
__ADS_1