
Diva menutup kotak ice cream. "Aaa... mam... mam aaiiss..." Jennifer merengek merentangkan kedua tangannya meminta ice cream lagi pada Diva.
"Sudah, Jen. Nanti perutmu sakit." Ujar Diva.
Diva berdiri Jennifer kembali merengek memintanya. "Aaaa....Aiisss..." ia kembali merengek lagi.
"Nanti lagi, ya. Kalau setelah makan, kakak janji." Diva mencoba membujuk sang adik.
Jennifer merenggut karena tidak di turuti oleh Diva. Diva kembali ke dapur dan meletakkan ice cream tadi ke dalam kulkas.
Di saat Diva kembali, Jennifer sudah berdiam diri di sudut kursi dengan cemberut dengan posisi membelakangi.
"Kau kenapa, Jen?" Jennifer tidak peduli dengan suara Diva. Dirinya ngambek saat ini.
Diva menoel-noel pinggul Jennifer, tapi Jennifer tidak memperdulikan Diva.
"Kau marah, Jen?" sambung Diva. Diva pun cekikikan melihat aksi ngambek Jennifer yang berdiam diri di sudut kursi membelakangi Diva.
Tidak lama kemudian Ana datang, ia bertanya-tanya kenapa Diva tertawa cekikikan seperti itu.
"Ada apa, Diva?" tanya Ana bingung.
"Dia ngambek, aunty. Lihat saja, dia membelakangiku seperti itu." Jelas Diva yang masih cekikikan melihat aksi Jennifer.
"Kenapa dia ngambek seperti itu? Tidak seperti biasanya?"
"Tadi aku membawakan satu kotak ice cream aunty. Baru beberapa suap aku sudah mengembalikan ice itu, dia merengek mau lagi. Tapi, aku tidak memberikannya. Nanti perutnya sakit." Jelas Diva. Ana pun faham apa yang menyebabkan Jennifer ngambek seperti itu.
Ana mencoba memfoto posisi Jennifer yang ngambek seperti itu dan mengirimkannya pada sang suami. Entah kenapa dia masih sempat-sempatnya memfoto, memang ibu-ibu jaman sekarang.
"Jenni...." Ana menghampiri sang putri yang masih melakukan aksi ngambek. Dia memang tidak menangis, tapi ngambeknya susah di bujuk.
"Anak mami yang paling cantik, kenapa ini? Ayo kita makan, nanti mami beri ice cream yang banyak." Ana membujuk Jennifer. la masih dalam posisi ngambeknya.
"Ayo kita makan sendiri ice cream-nya kakak, biar nanti Jenni tidak kebagian." Ana mencoba mengiming-iming Jennifer.
__ADS_1
Akhirnya ia menoleh ke arah sang mami dengan wajah yang masih cemberut. "Siapa yang sudah nakal sama anak mami ini, hmm? Sini biar mami yang memarahinya." Ana membawa Jennifer ke dalam pangkuannya dan mencoba menggelitik perutnya.
Jennifer yang tadinya cemberut, kini ia tertawa cekikikan karena merasakan geli.
"Sekarang kita makan dulu, oke. Nanti kita makan ice cream yang banyak." Bujuk Ana lagi.
Mereka makan siang bersama tanpa ada aksi ngambek dan jahil lagi dari ketiga pasukan kecil itu.
Malam hari...
Aktifitas mereka waktu malam hari selalu sama seperti biasa. Mereka berkumpul dan bermain bersama sebelum tidur.
Tidak lupa kali ini Diva membawa coklat untuk di makan. Suka sekali dia jika nyemil seperti itu.
Jennifer berdiri di samping Diva sambil memegang pundak Diva. Kepalanya di tundukkan sedikit di depan wajah Diva yang sedang memakan coklat.
Dia selalu penasaran dengan apa yang di bawa oleh Diva.
"Ada apa, Jen?"
"Jenni tidak boleh makan ini, nanti giginya tidak bisa tumbuh. Mau nanti ompong sampai gede?" ucap Diva.
Dia duduk di depan Diva dengan kedua kakinya di tekuk dan memasang wajah yang memelasnya.
"Jenni.... Sini sama papi." Panggil Sean agar Jenni mendekat ke arahnya. Namun, panggilan Sean tidak di hiraukan oleh Jennifer.
"Ini pasti ujung-ujungnya akan ngambek lagi ini. Seperti siang tadi." Ucap Diva mengingat bagaimana Jennifer yang sedang ngambek dengannya. Hingga semua panggilan dan bujukan tidak dia hiraukan sama sekali.
"Memangnya tadi siang kenapa?" Sean penasaran. Jika dirinya tidak ada di rumah, anak-anaknya pasti banyak melakukan aksi lucu atau yang lainnya.
"Tadi dia ngambek, sampai semua bujukan dan panggilan tidak di hiraukan." Sahut Ana.
"Memangnya kenapa?" Sean semakin penasaran. Karena tidak biasanya Jennifer ngambek seperti itu, tapi sekali ngambek sangat susah untuk di bujuk.
"Tadi kan uncle.... Dia aku ajak makan ice cream, tapi tenang, cuma sedikit kok. Lalu, aku menutupnya kembali dan mengembalikannya. Dia tidak mau, dia masih ingin makan ice cream dia merengek mau lagi, tapi aku tidak memberinya."
__ADS_1
"Aku kembalikan ice cream nya ke dalam kulkas, dari pada nanti perutnya sakit. Saat aku kembali, dia sudah duduk di sudut kursi dan membelakangiku tanpa mau berbicara apapun. Bahkan aku coba menggelitiki dirinya." Jelas Diva panjang lebar seperti kereta api yang tidak berujung.
Sean mengangguk-angguk faham dengan cerita itu. "Apa itu benar, Jenni?" Sayangnya, Jenni tidak menghiraukan perkataan sang papi.
"Jadi, apa foto yang kau kirim itu dia karena sedang ngambek karena masalah ice ceam?" Sean bertanya pada Ana. Tadi dia sudah membuka chat dari Ana yang berisi foto Jennifer sedang ngambek.
"Iya... dia terlihat lucu saat ngambek seperti itu. Makanya aku mengirimkannya padamu, agar kau juga melihatnya."
Tadi memang Sean sudah melihat foto yang dikirmkan oleh Ana, tapi setelah itu Ana sudah tidak memgang ponselnya lagi karena mengurus jagoan-jagoan kecilnya.
"Ini ni... kakak kasih sedikit saja." Diva memberikan secuil coklat pada Jennifer daripada dia harus melakukan aksi ngambeknya lagi.
"Enak?" tanya Diva melihat Jennifer yang menikmati coklat yang di berikannya.
"Sini anak papi." Sean mendekat dan menggendong tubuh mungil itu yang sudah mulai berat.
"Jenni tidak boleh makan coklat banyak-banyak, oke. Nanti giginya ompong, tidak mau tumbuh." Sean mencium pipi gembul itu. Jennifer tertawa renyah karena mendapat hadiah dari sang papi.
"Apa uncle tau? Tadi siang Ijul membuat ulah." Ucap Diva yang memulai bercerita, menceritakan bagaiamana aksi Julian tadi siang.
"Ijul? Siapa Diva?" Sean bingung dengan nama sebutan yang Diva ucapkan.
"Tentu saja itu anakmu, siapa lagi?" Diva sedikit ketus menjawab pertanyaan Sean.
"Namanya Julian, kenapa kau bisa menyebutnya dengan nama ljul?" Sean sepertinya tidak terima dengan sebutan yang di berikan oleh Diva.
"Sama saja itu. Julian, aku panggil saja ljul. Biar tidak panjang-panjang kalo manggil." Jawab Diva. Dia sangat panda jika menjawab kata-kata dari Sean.
"Lagian juga keren aku panggil Ijul. Ya kan Juuulll?” sambung Diva menoleh ke arah Julian.
"Terserah kau sajalah, Diva. Sesuka hatimu." Sean pasrah jika Diva sudah mengeluarkan kata-katanya.
"Memangnya, apa yang sudah adikmu lakukan?"
"Anakmu laki-laki satu-satunya itu membuat heboh. Tadi aku mengajak mereka berdua bermain ke kandang Alpaca. Kami memberikan makan Alpaca itu, tiba-tiba saja ljul berjalan kebelakang Alpaca itu dan menarik ekor pendeknya. Alpaca pun lari terbirit-birit. Untung saja dia tidak di tending." Cerita Diva panjang lebar.
__ADS_1