Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 204


__ADS_3

"Kau harus pertanggung jawabkan perbuatanmu, kalau terus-terusan begini kau akan mengulanginya lagi," tegas Ana. Bukannya dia tega, tetapi dia juga menginginkan anak-anaknya tumbuh dengan baik.


Julian mengacak-acak rambutnya hingga semua rambutnya berdiri semua. la pasrah saja dengan apa yang maminya ucapkan, daripada fasilitas yang lainnya akan di sita. Mereka melanjutkan makan malam yang sempat tertunda.


Sedangkan di sisi lain...


"Fe, bagaimana dengan ulanganmu hari ini?" tanya James yang sengaja menanyai akan hal itu.


"Eeehh... Ahh... tidak ada kendala. Papa tenang saja," jawab Fany sedikit gugup.


"Emm... sebentar, ada yang Papa tanyakan padamu ." James mengambil ponselnya menscroll yang ia cari.


"Apa? Tumben sekali?"


James pun menunjukkan fotonya bersama dengan Julian sewaktu di gerbang Brandenhurg tadi. Fany melebarkan kedua bola matanya saat melihat fotonya, dalam pikirannya bagaimana papanya bisa mendapatkan foto itu. Rika pun menyahut ponsel James dan melihat foto yang di tunjukkan pada Fany.


"Memangnya kenapa? Bukankah Fany sedari dulu terbiasa dengan Julian kan, kita kan sudah berteman sejak kecil," jawabnya dengan santai, padahal dalam hatinya was-was jika dirinya tadi tidak masuk jam kuliah.


"Foto ini memang wajar saja. Tapi yang jadi masalahnya, kenapa kau datang ke sana di jam kuliah?" ternyata dirinya ketahuan jika tidak mengikuti jam kuliah.


"A... a..." ucapnya terbata.


"Aiueo... mau bicara apa kau, hah? Mau mengelak ?" sahut Rika.


"Bukankah kau tadi mengatakan jika ada ulangan?


Kenapa kau berada di sana?" Rika melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia menunjukkan wajah garangnya pada Fany.


"Kenapa harus aku yang di marahi? Mommy dan Papa marahi saja Julian Copers, dia yang sudah membawaku ke sana," ucapnya membela dirinya. Tapi memang benar adanya jika Julianlah yang sudah membawanya ke sana.


"Lalau, kenapa kau mau saja?" sungut Rika.


"Uang jajan akan Mommy potong, kartu akan mami sita. Ini hukuman untukmu," sambung Rika.


"Wait... wait... wait... tidak bisa dooong. Itu kan bukan salah Fany, kenapa Mommy tidak marah saja dengan Julian," protesnya pada sang Mommy.

__ADS_1


"Salah siapa kau menerima ajakannya?"


"Mommy... Papa... dengarkan putrimu yang cantik jelita ini, oke. Saat Fany keluar dari rumah, Julian Copers sudah berada di halaman. Dia ajak Fany untuk pergi bersama, entah ada angin apa dia tiba-tiba menjemput Fany. Dia mengajak Fany untuk berangkat bersama, mana tahu kalau dia membawa Fany ke tempat itu," jelasnya panjang lebar.


"Jadi yang harus kalian marahi dirinya, bukan Fany," sambungnya lagi.


"Tidak ada protes, hukuman tetap berlaku. Uang jajan akan di potong, kartu juga akan Mommy sita selama satu bulan. Kau harus berhemat," tDivat Rika.


"What!? Tidak bisa dooong... kan bukan salah Fany, Mom. Mana bisa begitu?" protesnya yang tidak setuju dengan hukuman dari sang Mommy.


"Sudah diam dan jangan banyak protes. Semakin kau protes akan semakin berkurang uang jajanmu," tegas Rika.


"Tapi kan..."


"Suut... uang jajan di potong atau tidak jajan sama sekali?"


"Hah!" Fany menunjukkan wajah kesalnya di sana.


Malam ini menjadi malam yang sangat menyebalkan untuknya. Di mana dia harus terkena hukuman karena ajakan Julian tadi pagi. Mau tidak mau dirinya harus menjalani hukuman dari sang Mommy. Setiap hukumannya tidak bisa di perotes, semakin protes maka semakin berat hukuman yang dia dapat.


Keesokan harinya...


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Reiner melihat raut wajah Julian.


"Kau tidak biasanya seperti itu. Apa kau punya hutang yang belum terbayarkan?" sahut Marcus yang sedikit melenceng.


"Tapi, kau kan anak sultan. Masa iya kau punya hutang?" sambungnya lagi.


"Diam kau!" sentak Julian.


"Aaakh...." Julian mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Semua kartu di sita dan uang jajannya di potong. Kedua temannya hanya bingung melihat tingkah Julian yang frustasi itu.


Di tengah-tengah rasa frustasinya, Julian melihat Fany yang melintas di sana. Ia pun segera menghampiri Fany dengan cepat dan meninggalkan kedua temannya di sana. Kedua temannya semakin di buat bingung dengan tingkah laku Julian yang terlihat sedikit aneh.


Padahal, mereka sering melihat tingkah random Julian. Walau begitu mereka terkadang juga masih merasa bingung ketika melihat Julian bersikap aneh seperti itu.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?" tanya Marcus.


"Kau seperti tidak tahu Julian saja. Bukankah dia memang begitu?" ucap Reiner membenarkan, karena memang begitulah Julian.


Julian menunjukkan senyumnya di hadapan Fany. Fany hanya terdiam melihat Julian dengan wajahnya yang terlihat konyol baginya.


"Mau apa lagi, kau. Pergilah, aku malas melihatmu," ketusnya.


"Tidak, aku tidak mau pergi." Julian menggelengkan kepalanya.


"Kalau kau tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi." Fany melangkahkan kakinya pergi. Baru juga satu langkah Julian sudah mencekal tangan Fany.


"Mau apa, hah?" kesalnya.


"Kenapa kau suka sekali marah-marah?"


Fany menghembuskan napasnya kasar sebelum menjawab ucapan Julian. " Apa kau tahu...?" Julian menggelengkan kepalanya cepat sebelum Fany menyelesaikan ucapannya.


"Aku belum selesai berbicara!" Ketusnya lagi.


"Sebaiknya lepaskan tanganmu dan pergi dari hadapanku! Aku tidak ingin melihatmu. Gara-gara kau aku harus di hukum sama Mommy," ungkapnya dengan raut wajah yang terlihat kesal dan sepertinya menyimpan dendam dengan Julian.


"Kenapa kau menyalahkanku? Aku kan tidak tahu apa-apa soal hukumanmu," ujarnya. Dia tidak tahu kalau Fany mendapat hukuman dari Rika karena ulahnya yang mengajak Fany bolos.


Tatapan horor iya tujukan pada Julian. "Tidak salahmu bagaimana, hah! Jelas-jelas itu salahmu yang sudah mengajakku tidak ikut jam kuliah kemarin. Apa kau lupa?"


"Ooohh..." Fany kembali menatap tajam ke arah Julian karena responnnya yang hanya ber-O ria.


"Hanya itu yang kau katakan?" sengal Fany kembali.


"Lalu, aku harus bagaimana?" ucapnya dengan wajahnya yang tidak merasa bersalah sama sekali.


"Ingin rasanya kau lempar kau ke kandang buaya supaya kau di cabik-cabik oleh mereka." Kesal Fany dengan kedua tangannya ingin menerkam Julian.


"Asal kau tahu, Mommy mengurangi jatah jajanku selama satu bulan karena dirimu. Dan kau hanya ber-O ria begitu saja. Sungguh-sungguh menyebalkan," ketusnya pada Julian.

__ADS_1


"Oooh... berarti itu bagus. Jadi aku ada teman untuk itu," jawab Julian dengan entengnya. Fany melototkan kedua bola matanya mendengar jawaban Julian. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu bagus untuknya karena mempunyai teman untuk di hukum.


"Hiiih... kau benar-benar. Sudahlah, aku tidak ada urusan denganmu." Fany melangkahkan kakinya pergi karena sudah kehabisan kata-kata menghadapi Julian. Julian mengikuti langkah Fany di belakang.


__ADS_2