Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 104


__ADS_3

"Hmmm, baiklah. Aku ikut keputusanmu, kau bisa meminta pada anak buahku, kau mau yang seperti apa nantinya." Ucap Sean.


"Coba panggil dia ke sini, biar semuanya jelas." Perintah Sean. James pun memutuskan untuk menghubungi salah satu karyawan yang satu ruang dengan Rika.


Di sisi Rika...


"Rika, tuan Sean memanggilmu ke ruangannya." Ucap orang tersebut memberitahukan.


"Hah, apa? Aku?" orang itu mengangguk.


"Ada apa? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Rika yang sudah merasa cemas.


"Aku tidak tau. Sudah sana, nanti dia semakin marah ." Ujar orang tersebut menyuruh Rika untuk segera datang ke ruangan Sean.


Rika beranjak dari duduknya dan segera menuju ruangan Sean.


Tok..


Tok..


Rika mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam.


"Masuk." Sahut Sean dari dalam. Rika melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya Rika dengan formal.


"Duduklah." Ucap Sean. Rika mendudukkan dirinya di sofa yang tersedia di ruangan Sean.


"Apa kau siap?" tanya Sean yang terlihat ambigu.


"Siap apanya, tuan?" Rika bertanya bingung.


"James sudah memutuskan menikah denganmu bulan depan." Jelas Sean tanpa berlama-lam.


"Haah... bulan depan?" ucap Rika melototkan kedua matanya dengan sangat lebar.


"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" ketus Rika pada James yang juga ada di sana.


"Ini aku memberitahumu, makanya tuan Sean menyuruhmu untuk datang ke sini. Tuan Sean ingin memastikan juga darimu." Terang James.


"Eeehh... sepertinya itu terlalu buru-buru tuan." Jawab Rika dengan nada sedikit merendah.


"Aku mempunyai pilihan untukmu. Minggu depan atau bulan depan?" ucap Sean dengan sangat tegas kali ini.

__ADS_1


"Haahh... pilihan macam apa ituuu? Bagaimana bisa begitu?" pekik Rika dengan pilihan yang di buat oleh Sean. Nada bicara yang rendah itu pun kembali meninggi.


"Kau tinggal memilihnya, atau batal pernikahanmu." Ancam Sean yang membuta Rika berkutik.


"Wait... waiitt.... Sabar dong tuaaan. Mana bisa begitu? Itu namanya pemaksaan." Protesnya pada Sean.


"Aku tidak memaksa, tapi niat baik jangan di tunda. Apa kau mau jika nanti pasanganmu itu di ambil orang lain. Kau akan menyesal nanti jika dia menikah dengan orang lain." Sean kembali mengucapkan ultimatum pada Rika.


"Kenapa bisa aku mempunyai boss seperti ini?" gerutu Rika yang masih bisa di dengar oleh Sean.


"Aku bisa mendengarmu." Sean menunjukkan tatapan tajamnya pada Rika.


"Tajam juga ternyata, yaah." Celetuk Rika lagi.


"Cepat pilih, jangan berlama-lama. Atau gajimu aku potong." Sarkas Sean dengan kembali mengancam Rika.


"Kenapa anda suka sekali megancamku?" ketus Rika yang selalu saja mendapat ancaman dari Sean sedari tadi.


"Karena aku tidak suka yang bertele-tele." Jawab Sean.


"Aaahh... baiklah-baiklah. Aku ngikut saja." Ucap Rika pasrah dengan pertanyaan yang di lontarkan Sean sedari tadi.


"Bagus. Kalian cukup persiapkan diri saja. Nanti semuanya biar anak buahku yang mengurus. Kalian ingin pernikahan yang seperti apa?" Sean bertanya pada keduanya.


"Memangnya kenapa? Bukankah pernikahan mewah adalah impian setiap wanita?" Sean menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak perlu, tuan. Sederhana atau mewah pun sama saja menurutku. Yang penting itu komitmen pasangannya nanti seperti apa. Tidak perlu membuang banyak uang juga hanya karena pesta meriah, masih banyak kebutuhan lain di masa mendatang." Terang Rika pada Sean.


"Hahaha... ternyata wanita sepertimu bisa berfikir juga sampai ke sana." Ucap Sean.


"Tuaann.... Meskipun saya wanita bar-bar dan suka ngegas, tapi saya juga bisa berfikir normal." Jawab Rika karena Sean menertawakan dirinya.


"Apa selama ini kau tidak bisa berfikir normal?" Sean kembali bertanya yang membuat Rika semakin jengkel dengannya.


"Tentu saja aku berfikir normal selama ini, aku masih waras." Ketusnya, ia tidak peduli dengan Sean yang notabe-nya boss nya.


"Memangnya siapa yang berkata dirimu itu tidak waras? Aku tidak mengatakannya, kau sendiri yang mengatakannya." Jawab Sean membuat Rika semakin jengkel. Memang percuma jika berbicara dengan Sean.


Rika mencebikkan mulutnya kesal dan menggerutu tidak ada hentinya karena sedari tadi Sean membuatnya jengkel.


Dari perbincangan itu, Rika dan James sudah sepakat dengan semua rencana pernikahannya yang di gelar cukup sederhana saja. Sean juga tidak memaksa bagaimana keduanya, Sean hanya bisa mendukung dan menggerakkan anak buahnya untuk mempersiapkan semuanya.


Melihat ke sisi rumah Andy.

__ADS_1


Setelah papa Andy dari mension utama keluarga William, ia pulang dengan raut wajah yang sedikit kesal.


"Ada apa, pa? Kenapa terlihat kesal seperti itu?" tanya sang istri padanya.


"Di mana Andy?" tanyanya dengan melonggarkan dasinya.


"Aku di sini, ada apa?" tanya Andy yang tiba-tiba muncul.


"Apa yang sudah kau lakukan pada istri putra keluarga William? Jangan pernah bermain-main dengan keluarga itu, Andy!!" sarkas papanya yang terlihat marah.


Andy hanya mengedikkan kedua bahunya menanggapi pertanyaan dari papanya. Sepertinya, dia tidak ada takut-takutnya meskipun Sean sudah menghajar dirinya habis-habisan.


"Masih banyak perempuan di luar sana, jangan pernah bertindak bodoh lagi." Tegas papa Andy.


Andy yang tidak memperdulikan ocehan dari sang papa itu pun melangkahkan kakinya keluar rumah karena ia merasa bosan.


Papa Andy hanya mendengus kesal karena anaknya yang keras kepala, belum lagi dia juga di buat kesal saat di mension utama tadi.


Meninggalkan keluarga Andy, kita beralih ke Ana yang berada di mension bersama dengan keponakannya dan anak-anaknya.


Saat ini, Ana sedang membuat banyak desert untuk stok cemilan buat Diva yang memang suka sekali dengan makanan manis.


Ana berkutat di dapur, tentunya twin J bersama dengan Diva. Mami Sean sudah kembali ke mension utama.


Tiba-tiba Julian datang ke Ana dan menangis.


Entah apa yang sudah membuatnya menangis.


"Anak mami, kenapa?" tanya Ana lembut. Julian hanya menangis dan menunjuk-nunjuk ke arah kedua kakanya yang sedang bermain.


"Ada apa, hmm?" tanya Ana. Julian yang melihat sendok besar yang di bawa Ana itu pun memintanya dengan dirinya yang masih menangis.


Ana memberikan sendok itu pada Julian, agar Julian terdiam pikirnya. Julian yang mendapat sendok besar itu pun melangkahkan kakinya keluar dari dapur membawa sendok besar itu. Ana mengikuti langkah Julian dari jauh.


Saat dirinya sudah berada dekat dengan kedua kakaknya, sendok yang ia bawa itu ia pukulkan ke arah kepala Diva.


Pukk...


Diva yang mendapat pukulan tiba-tiba itu pun merasa geram. "Kau ini kenapa, Jul?" sengalnya karena mendapat pukulan.


Ana yang melihat apa yang di lakukan oleh Julian itu pun segera mendekat ke sana.


"Julian, tidak boleh nakal sama kakak." Ana mengambil sendok besar itu darinya.

__ADS_1


__ADS_2