Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 58 Permintaan Aneh Anara


__ADS_3

Setelah mengambil apa yang di minta oleh Ana tadi, Diva segera kembali berkumpul dengan Ana. Mereka mulai mengoleskan ice cream di atas roti lalu memakannya dengan lahap.


"Uuuh... perfect." Ucap Diva sambil mengangkat jari-jarinya membentuk huruf O.


"Kalau saja banyak topping sepertinya akan sangat enak, Diva." Entah kenapa semenjak hamil Ana suka sekali memakan ice cream. Biasanya Diva yang paling banyak menghabiskan ice cream, sekarang giliran Ana.


"Ini kalau topingnya keripik sepertinya enak." Ana membayangkan ice cream itu dengan toping keripik.


"Aunty jangan mulai deh." Sungut Diva keluar setelah mendengar perkataan Ana.


Pluuk...


Lelehan ice itu jatuh mengenai milik Sean. Sean mengerjapkan matanya terbangun karena sensasi dingin yang mengenai dahinya.


"Oppss..." ucap Ana menutup mulutnya dengan tangan satunya.


"Maafkan aku, kau terkena ice creamku yang


mencair." Ucap Ana merasa sedikit tidak enak.


"Emm... tidak apa. Ini hanya noda ice cream saja." Jawab Sean dengan suara seraknya. Ia mengelap noda yang ada di dahinya.


"Buka mulutmu, aaa..." ujar Ana yang menyodorkan ice cream di depan Sean.


Dengan rasa kantuk yang tersisa, ia membuka mulutnya menerima suapan dari Ana.


"Enak tidak?" Sean hanya menganggukkan kepalanya karena memang masih merasa sedikit kantuk.


"Unclee... yang baik hati dan tidak sombong. Besok belikan Diva coklat yang banyak-banyak yah... yah.. yah.. yah..." Diva membujuk Sean dengan jurus andalannya. Matanya berkedip cepat agar Sean bisa menuruti keinginannya.


Sean memandang Diva dengan tersenyum. "Untuk apa, Diva? Tidak baik makan coklat banyak-banyak."


"Buat stok di mension, biar Diva tidak banyak jajan."


Jawab Diva. Padahal setiap hari pun dirinya masih minta uang jajan pada sang grandma.


"Emm... besok uncle pesankan." Sean mengangguk menyetujui permintaan Diva begitu saja.


Sean tidak pernah menolak permintaan Diva sama sekali, apa lagi hanya meminta coklat. Itu hal kecil bagi sean. Satu pabrik saja ia bisa membelinya untuk Diva.


"Kenapa hanya Diva, untukku?" Protes Ana yang sepertinya merasa iri dengan Diva.


"Mau apa, hmm?" Tanya Sean lembut. Ana mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas dagu.


"Akuu... Aku mau anak jerapah." Ujar Ana. Mata Sean seketika terbuka lebar mendengar permintaan Ana.


Diva ikut membelalakkan matanya lebar-lebar." Untuk apa aunty?" Tanya Diva.


"Aunty ingin sekali mengelus-elus. Sepertinya lucu dan menggemaskan." Jawab Ana.

__ADS_1


"Mulai kan tuh... untung saja bukan anak harimau sama leopard yang dia minta." Gerutu Diva dengan gaya kesalnya. Pasalnya, Ana selalu minta yang aneh-aneh semenjak hamil. Apa lagi ini, minta anak jerapa.


"Emm... sepertinya itu tidak buruk Diva." Jawab Ana menanggapi ucapan Diva.


"Sudah deh aunty, gak usah mulai yang aneh-aneh." Ketus Diva mendengar jawaban Ana. Diva menyesal setelah mengucapkan akan hal itu.


"Bukan aneh-aneh, Diva. Itu hal unik." Elak Ana. Diva mencebikkan bibir kecilnya karena Ana.


"Aku mempunyai itu di markas, kalau mau kau bisa


melihatnya di sana." Jawab Sean.


"Benarkah, kenapa kau tidak pernah bilang padaku?"


Ketus Ana.


"Aku tidak mau membuatmu takut." Jawab Sean.


"Aku tidak mau, aku ingin anak jerapah di mension." Kuekeh Ana meminta anak jerapa.


"Nanti aku pertimbangkan, ya." Jawab Sean.


"Pokoknya harus, aku ingin melihat anak jerapah." Tegas ana.


Sean hanya bisa menggelengkan kepala melihat Ana yang selalu minta hal-hal aneh padanya. Tapi Sean tidak pernah merasa keberatan selagi Ana merasa senang dan bahagia. Melihat Ana bahagia, Sean pun ikut merasakan bahagia


Keesokan harinya...


Siang itu terdapat beberapa orang pekerja yang berada di sana. Mereka sedang membangun seperti kandang besar di halaman samping.


Suasana cukup sedikit ramai, Ana yang penasaran pun melihat keluar apa yang sedang dilakukan oleh itu orang-orang pekerja tersebut.


Ana mengawasi mereka sedikit jauh. "Apa yang sedang mereka lakukan ya? Kenapa Sean juga tidak memberitahuku jika sedang ada pembangunan di sini." Gumam Ana sambil mengawasi kegiatan dari mereka.


"Aunty..." panggil Diva.


"Apa Diva?"


"Aunty sedang apa?" Tanya Diva.


"Aunty sedang melihat orang-orang itu. Apa yang sedang mereka lakukan Diva? Apa ada renovasi di sini? Kenapa uncle tidak memberitahu aunty?" Ucap Ana panjang lebar. Diva mengikuti arah pandang Ana pada segerumbulan orang-orang yang berada di sana.


"Diva juga tidak tau aunty. Diva kan baru pulang sekolah." Jawab Diva.


"Ya mungkin saja tadi uncle bilang sama Diva." Diva menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak. Tadi kan Diva juga sama aunty juga." Jawab Diva


"Iya juga ya."

__ADS_1


"Lalu, mereka sedang apa? Apa yang mereka buat sebenarnya?" Ana masih dalam penasaran yang tinggi.


Ana yang merasa penasaran itu pun memutuskan untuk melihat-lihat apa yang sedang di bangun oleh beberapa pekerja itu.


Tidak lama kemudian, sebuah truk kecil tiba di sana. Ana menoleh kearah truk yang baru saja tiba, sepertinya, truk itu membawa barang.


"Itu truk apa Diva? Kenapa datang kemari? Tumben-tumbenan?" Ana kembali bertanya pada Diva.


"Diva juga tidak tau aunty."


Tak lama kemudian, salah satu rekan dari supir truk itu pun turun dan mendekat kearah Ana yang sedang duduk.


"Permisi, nyonya. Kami mengantarkan paket pesanan tuan Sean." Ujar orang itu.


"Paket?"


"Paket apa?" Tanya Ana.


"Nyonya tanda tangan saja bukti penerimaannya, nanti nyonya bisa membuka isi paketnya." Jawabnya. Ana pun tanda tangan sesuai intruksi dari orang tersebut.


Setelah selesai di tanda tangani, orang itu pun mendekat ke rekannya lalu membantu menurunkan semua barang-barang yang berada di truk itu.


Dua orang itu pun keluar masuk ke dalam mension karena banyaknya barang itu. Satu truk penuh yang mereka turunka.


Ana di buat bingung karena kotak-kotak besar itu terus saja di bawa masuk.


"Ehh.. tunggu-tunggu. Apa kalian tidak salah menurunkan barang?" Cegah Ana pada salah satu dari mereka.


"Tidak nyonya, ini sesuai pesanan tuan Sea." Jawab seseorang itu.


"Tapi, kenapa banyak sekali?" Tanya Ana lagi.


"Anda bisa tanyakan pada tuan Sean sendiri, nyonya. Tugas kami hanya mengantarkannya saja."


"Ohh... yasudah kalau begitu. Kalian boleh lanjutkan Ana di buat bertanya-tanya apa sebenarnya isi paket yang baru datang itu. Kenapa bisa begitu banyaknya.


"Sepertinya ada yang tidak beres." Gumam Ana pelan.


"Semuanya sudah selesai nyonya, kami pamit dulu." Pamit salah satu dari mereka.


"Ohh... iya. Terima kasih ya." Ucap Ana. Pengantar paket itupun membungkukkan sedikit badannya lalu kembali.


"Ini apa lagi, Diva? Kenapa banyak sekali? Apa sih yang uncle mu pesan ini?" Sungut Ana saat melihat banyaknya kota-kotak besar yang berjejer di sana.


"Kita buka saja aunty." Ajak Diva.


"Kalau nanti uncle marah gimana?" Tanya Ana takut jika Sean akan marah.


"Tidak akan. Aunty tenang saja." Jawab Diva yang meyakinkan Ana.

__ADS_1


__ADS_2