
Di sisi lainnya...
Seorang pria berdiam diri di tempat makan yang cukup terkenal di kota sana. Ia terus saja mengingat-ingat waktu siang tadi saat bertemu dengan Ana.
Yaahh... benar. Pria iru adalah Andi, sepertinya dirinya tidak bisa melupakan Ana. tidak tahu saja dirinya jika Ana sudah menikah dengan Sean. Entah bagaimana dirinya nanti jika tahu kalau Ana sudah menikah. Jangan sampai melakukan hal yang tidak-tidak.
"Sssshh..." desisnya dengan wajah yang sedikit kesal.
"Kenapa aku tidak bisa melupakannya?" Ucapnya mengingat-ingat pertemuannya yang tidak sengaja dengan Ana tadi.
Sepertinya, dia sudah tidak memikirkan Lita lagi. Entah dirinya sudah tahu bagaiman Lita, atau ia merasa di tinggalkan Lita begitu saja. Karena dia tidak mendengar kabar Lita sama sekali selama satu tahun lebih.
Dia tidak tahu saja jika Lita sudah di asingkan oleh Sean ke kota yang sangat jauh dari kota Berlin.
"Aaarrgh..." ucapnya mengusap wajahnya kasar dengan frustasi.
"Kenapa kau memenuhi pikiranku, Ana?" Kesalnya. Semua pengunjung yang ada di sana melihat dirinya yang sedang frustasi.
"Tapi... setelah dia di usir, kemana perginya selama ini? Kenapa aku tidak pernah melihatnya jika memang dia ada di kota ini? Hanya sesekali aku melihatnya, itupun saat aku bersama dengan Lita waktu di mall." Gumam Andy dengan dirinya sendiri.
"Dan tadi... aku melihat dia memasuki mobil mewah. Apa dia sudah sukses?" Sambungnya lagi. la masih bingung dengan keadaan saat ini setelah bertemu dengan Ana.
"Dan sekarang giliran Lita dan keluarganya yang menghilang? Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini?” Andy menerka-nerka dengan apa yang sudah terjadi sekarang.
Andy sempat frustasi mencari Lita yang tiba-tiba saja hilang hingga beberapa bulan. Andy menanyakan kesetiap teman-teman dekat Lita, tapi dia tidak mendapatkan jawabannya. Kehilangan Lita dan keluarganya bak di telan bumi. Tidak terlihat lagi.
Brakk...
Tiba-tiba saja dirinya menggebrak meja dengan sedikit keras.
Semua pengunjung kembali menoleh dengan apa yang dilakukan oleh Andy di sana. Mereka sedikit bingung dan takut dengan tingkahnya yang sedikit aneh.
Kembali lagi ke sisi Sean...
Setelah makan malam, Sean dan Ana segera kembali ke kamar untuk menemani twin J. Tidak lupa juga Diva mengikuti ke kamar si kembar.
"Hai Jul dan Jenni. Kakak cantik datang ini." Sapa Diva dengan centilnya.
"Diva... bagaiaman hadiah yang di kasih Jenni tadi? Apa itu bagus?" Ucap Sean sambil menahan tawanya.
__ADS_1
Diva menatap sinis sang uncle karena sudah mengejeknya.
"Diamlah, uncle. Itu tidak penting." Ketus Diva pada Sean. Diva sudah tahu jika Sean pasti akan mengejeknya.
"Bukankah hadiahnya sangat bagus, Diva? Kenapa tidak di simpan saja?" Sean kembali mengejek Sean.
"Aunty... uncle nakal. Dia terus saja mengejek Diva." Diva merengek mengadu pada Ana.
"Sean... hentikan. Jangan mengejeknya terus, masak iya anak secantik ini kau ejek terus." Bela Ana. Diva mengangguk dengan mengerucutkan bibir kecilnya.
"Besok pasti dapat yang lebih cantik lagi dari Jenni. Kalau tidak ya dari Jul." Timpal Sean yang sepertinya mempunyai kesenangan baru menggoda Diva.
"Sean..." Ana melototkan matanya kearah Sean karena terus saja menggoda Diva.
"Hahaha... biasa saja, sayang. Jangan seperti itu, nanti Diva nya yang takut. Bukan aku." Ujar Sean kembali. Ana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sean jika sudah berdebat dengan Diva.
Entah kenapa terkadang mereka tidak ada yang beres.
Tepat pukul 09 malam, Ana dan Sean menimang-nimang Julian dan Jennifer agar bisa tertidur. sedari tadi mereka berdua terus berceloteh tidak ingin tidur.
Diva sudah kembali ke kamarnya untuk tidur, karena besok harus pergi kesekolah.
Sean menepuk-nepuk punggung Jennifer. Ia sangat anteng meskiun matanya belum juga terpejam.
"Mereka sepertinya mengajak begadang." Ujar Sean karena keduanya tidak mau tertidur.
"Sepertinya seperti itu." Jawab Ana.
"Coba cek pampernya, mungkin ada yang salah." Ujar Ana pada Sean.
Sean meletakkan Jenni dan mengecek sebentar. Pampersnya sudah penuh, pantas saja dia tidak mau tidur ." Ucap Sean. Ia pun mengambil pampers baru untuk Jenni dan menggantikannya.
Seann menggantinya dengan hati-hati dan telaten. Sean memang sudah terbiasa mengganti pampers dari twin J sendiri. Selama menjadi ayah, dirinya banyak belajar mulai dari mengganti popok dan lain sebagainya.
"Apa Jul tidak di ganti sekalian?" Tanya Sean.
"Tidak, punya Jul masih kering. Dia baru saja aku ganti tadi." Jawab Ana.
Sean kembali menggendong Jenni dan mnimang-nimang agar cepat tertidur.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Jennifer tertidur di gendongan sang papi. Mungkin sedari tadi dia merasa tidak nyaman.
"Dia sangat cantik jika tertidur." Ucap Seann lalu mencium pipi gembul putrinya yang sduah tertidur.
"Dia mudah sekali tertidur. Kenapa yang satu ini sulit sekali kalau tertidur, tapi kalau tertidur tidak bangun-bangun." Gerutu Ana mengenai Jul yang berbeda dengan Jennifer.
Sean meletakkan Jennifer di box miliknya dan mendekat menghapiri Ana. Ia mengusap lembut kepala Julian dan mencium keningnya.
"Tidurlah, Boy. Kasihan mami kalau terus begadang." Ucap lembut Sean. Tak berselang lama, Julian akhirnya tertidur dengan lelapnya.
Ana bernafas dengan lega kedua anaknya sudah tertidur. Ana memandang kedua wajah anak-anaknya yang menggemaskan.
"Ayo istirahat. Mereka sudah tertidur." Ajak Sean. Ana menuruti ajakan Sean karena memang dirinya juga sudah sangat lelah dan mengantuk.
Pagi-pagi sekali, twin J sudah terbangun. Seperti biasa, Julian yang menangis paling kencang di sana.
Ana pun datang menghampiri kedua anaknya yang terbangun.
"Cup cup cup anak mami.... Anak jago gak boleh nangis." Ana menggendong Julian yang menangis.
Jennifer hanya menangis sesekali, ia lebih banyak tenang. Tapi tidak tahu bagaimana besarnya nanti.
Sean pun mengambil Jennifer yang masih berada di box bayinya. "Hai anak papi... selamat pagi." Sapa Sean. Jennifer sedikit tesenyum melihat sang papi menggendongnya.
Sean terasa senang melihat senyum anaknya di pagi hari. "Main sekali putri papi jika tersenyum seperti ini." Puji Sean. Jennifer tenang di gendongan Sean.
Tidak lama kemudian, Diva datang menyusul ke kamar tersebut karena ia juga sudah terbangun.
"Hai twin..." sapa Diva dengan antusias.
"Hai kakak Diva..." ucap Sean dan Ana bersamaan.
"Kau laki-laki kenapa cengeng sekali sih, Jul?" Ketus Diva karena sering melihat Julian yang menangis.
"Namanya juga anak kecil, Diva. Diva juga sering
menangis dulu." Jawab Sean.
"Diva kan perempuan, wajar dong uncle." Jawab Diva sedikit sewot. Entah kenapa, dia sepertinya menyimpan dendam pada Sean karena di ejek habis-habisan semalam.
__ADS_1
"Kenapa anak ini ngegas sekali?" Gerutu Sean mendengar nada Diva yang sewot dengannya.
"Kenapa Diva tidak mandi saja." Sambung Sean.